Dato Akhmad Elvian Sebut Dua Sumur Tua di Taman Sari Dibangun Sejak Walikotamadya Rustam Effendi
Ardhina Trisila Sakti July 22, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sejarawan dan Budayawan, Dato Akhmad Elvian mengatakan pada masa Walikotamadya Drs Rustam Effendi tahun 1967-1972 di lokasi Taman Sari ditambah fasilitas publik dengan dibuat dua sumur untuk kepentingan umum.

Dua sumur tua itu masih difungsikan hingga saat ini berada di ruang terbuka hijau (RTH) Taman Sari, Kota Pangkalpinang menjadi sumber air bersih bagi warga sekitar.

Sumur itu berdiameter cukup besar ini tak pernah kering meskipun di musim kemarau panjang melanda Pangkalpinang.

"Sumur pertama berfungsi untuk mandi dan cuci dan sumur kedua untuk air minum. Hingga sekarang hanya satu sumur yang berfungsi untuk mandi, cuci dan air minum pada saat musim kemarau. Banyak orang Pangkalpinang berdatangan ke Taman Sari untuk mengambil air karena sumur tidak pernah kering," kata Dato Akhmad Elvian, kepada Bangkapos.com, Selasa (21/7/2026).

Ia mengatakan, keberadaan hutan kota dan sumur dalam Taman Sari menambah pentingnya Taman Sari sebagai penanda kota dan sebagai taman simpul perjuangan bangsa. 

"Pada saat sekarang Taman Sari sudah dilengkapi berbagai fasilitas-fasilitas umum yaitu panggung terbuka, lapangan gasing, mushola, tugu edukasi, pendestrian dan sangat cocok untuk rekreasi anak dan keluarga apalagi jika jumlah tanaman dan bunga bunga lebih didiversivikasi dan dilakukan penataan ulang," tutupnya.

Dinamakan Wilhelmina Park 

Dato Akhmad Elvian menjelaskan, Taman Sari pada saat awal berdirinya dinamakan Wilhelmina Park terletak pada sisi Barat rumah Residen, Residentshuis Te Pangkalpinang op Bangka dan pada sisi Timur gedung pertemuan Panti Wangka Societeit de Harmonie.

Menurutnya, Wilhelmina Park dirancang oleh Van Ben Benzenhorn, dibangun sejak 3 September 1913 ketika ibukota Keresidenan Bangka dipindahkan dari Kota Mentok ke Kota Pangkalpinang. 

"Wilhelmina Park merupakan fasilitas pendukung dari rumah Residen Residentshuis Te Pangkalpinang op Bangka yang berfungsi sebagai taman, konservasi tanaman, tempat berolahraga ringan dan tempat berangin-angin, zich onspannen," kata Elvian.

Ia menjelaskan, pembangunan Wilhelmina Park di Kota Pangkalpinang sebagai ibukota keresidenan adalah salah satu wujud pembangunan kota ibukota yang dirancang atau direncanakan secara baik dan modern. Termasuk aspek strategis penataannya dengan berbagai fasilitas pemerintahan dan fasilitas publiknya.

Kemudian, pengubahan nama Wilhelmina Park menjadi Taman Sari dilakukan dengan alasan yang kuat untuk menyatukan simpul penegakan kedaulatan Negara antara Yogyakarta dan Bangka priode tanggal 22 Desember 1948 hingga tanggal 6 Juli1949.

"Tamansari adalah satu taman yang indah di Yogyakarta sebagai ibukota Negara dan kelanjutannya di Bangka pada priode tanggal 22 Desember 1948 hingga tanggal 6 Juli1949," katanya.

Penamaan nama Taman Sari juga, sambung Elvian, terinspirasi dari pemikiran Bung Karno yang pernah melontarkan gagasan kekeluargaan bangsa-bangsa. Dengan memberi syarat harus memperhatikan kedudukan perjuangan rakyat indonesia itu sebagai satu bagian daripada satu revolusi besar internasional.

"Dalam pidato lahirnya Pancasila gagasan itu muncul dalam frase taman sari antar bangsa-bangsa. Pada Bulan Agustus 1951 Bung Hatta juga meresmikan Tugu Pergerakan Kemerdekaan saat beliau Kembali ke Bangka melakukan napak tilas saat pengasingan," terangnya.

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.