Misteri Gunung Pickaxe, Benteng Nuklir Bawah Tanah Iran yang Bikin Trump Geram, Kebal Bom Bunker
Ansari Hasyim July 22, 2026 03:41 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman baru terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain atau Gunung Pickaxe.

Trump menegaskan militer AS akan menghantam kawasan tersebut "dalam waktu dekat" dengan serangan yang sangat besar. Ancaman itu muncul di tengah gelombang serangan udara AS terhadap Iran yang terus berlangsung meski kedua negara sebelumnya sempat menyepakati gencatan senjata.

Lantas, apa sebenarnya Pickaxe Mountain, mengapa fasilitas ini begitu penting, dan mengapa menjadi sasaran utama Washington?

Berada di Dekat Kompleks Nuklir Natanz

Pickaxe Mountain, yang di Iran dikenal sebagai Kuh-e Kolang Gaz La, terletak sekitar 220 kilometer di selatan Teheran dan hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari fasilitas nuklir Natanz, salah satu pusat pengayaan uranium terbesar Iran.

Kompleks ini diyakini dibangun hampir 100 meter di bawah permukaan gunung, sehingga jauh lebih terlindungi dibanding fasilitas nuklir lainnya.

Baca juga: Iran Diam-diam Kembali Bangun Fasilitas "Bom Nuklir", 100 Meter di Bawah Gunung

Meski Natanz beberapa kali menjadi sasaran serangan AS dan Israel, Pickaxe Mountain belum pernah diserang dalam operasi militer sebelumnya.

Dibangun Setelah Sabotase Natanz

Pembangunan fasilitas bawah tanah ini dimulai pada 2020, tidak lama setelah terjadi ledakan besar yang menurut Iran merupakan aksi sabotase terhadap fasilitas Natanz.

Kala itu, mantan Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi, mengumumkan pembangunan fasilitas baru yang lebih besar dan lebih modern di dalam gunung.

Lokasi tersebut dipersiapkan sebagai tempat produksi sentrifugal canggih, mesin yang digunakan untuk memperkaya uranium.

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, juga pernah mengungkapkan bahwa Iran memang berencana memindahkan fasilitas-fasilitas nuklir paling sensitif ke bawah tanah agar lebih sulit diserang.

Seberapa Canggih Fasilitas Ini?

Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan lembaga kajian Institute for Science and International Security (ISIS), kompleks Pickaxe Mountain memiliki:

  • Dua pasang pintu masuk terowongan.
  • Sistem dinding keamanan yang baru selesai dibangun.
  • Jalur masuk yang diperkuat untuk menghambat serangan darat maupun bom penghancur bunker.
  • Beberapa pintu masuk bahkan telah ditimbun sebagian guna menghalangi kendaraan memasuki area tersebut.

Apakah Sudah Beroperasi?

Hingga kini belum ada kepastian bahwa Pickaxe Mountain telah beroperasi penuh.

Bahkan Trump sendiri mengakui intelijen AS belum melihat aktivitas signifikan di lokasi tersebut.

Meski demikian, pembangunan fasilitas diyakini masih terus berlangsung.

Para analis memperkirakan Iran sedang menyiapkan lokasi itu sebagai pusat produksi sentrifugal generasi baru yang dapat menunjang program nuklir jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Sulit Dihancurkan Bahkan dengan Bom Penghancur Bunker

Kedalaman fasilitas menjadi tantangan terbesar bagi militer AS.

Sejumlah pakar menilai kompleks yang tertanam hampir 100 meter di bawah gunung kemungkinan berada di luar jangkauan sebagian besar bom penghancur bunker (bunker buster) yang dimiliki Amerika Serikat.

Karena itu, efektivitas serangan udara terhadap Pickaxe Mountain masih diperdebatkan.

Lembaga ISIS menilai operasi darat atau aksi sabotase kemungkinan akan lebih efektif dibanding sekadar pemboman dari udara.

Namun hingga kini, Trump belum menunjukkan tanda-tanda akan mengerahkan pasukan darat ke wilayah Iran.

Mengapa Trump Mengincarnya?

Bagi Washington, Pickaxe Mountain dipandang sebagai salah satu lokasi yang berpotensi menjadi pusat pengembangan program nuklir Iran di masa depan.

Meski belum beroperasi penuh, fasilitas tersebut dianggap mampu menjadi tempat produksi sentrifugal yang lebih aman dari serangan udara.

Karena itulah Trump kembali memasukkan Pickaxe Mountain dalam daftar target utama militernya, dengan menyatakan bahwa kawasan tersebut akan "dihantam sangat keras" dalam waktu dekat apabila dianggap mengancam keamanan Amerika Serikat dan sekutunya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.