Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Seorang perempuan muda tampak cekatan menuangkan tepung ke dalam panci berisi mentega yang telah meleleh di atas api di cabang One Recipe Pahoman yang berlokasi di Jalan Prof. M. Yamin No.22, Rawa Laut, Enggal, Kota Bandar Lampung, Lampung 35213.
Baca juga: Dapur Oma Cinta Ciptakan Soes Kopi, Kudapan Enak yang Bisa Jadi Oleh-oleh Khas Lampung
Ia mengaduk adonan hingga kalis dengan gerakan yang terampil, sebelum memindahkannya ke dalam mixer. Proses itu menjadi tahapan awal dalam pembuatan adonan choux pastry atau kue soes yang menjadi produk andalan usahanya.
Siapa sangka, kebiasaan begadang akibat insomnia justru menjadi awal lahirnya sebuah usaha kuliner yang kini mampu memproduksi ratusan choux pastry setiap hari.
Ia adalah Ivena Clearesta (29) sosok di balik merek One Recipe, yang membuktikan bahwa masa sulit dapat menjadi titik awal sebuah kesuksesan.
Usaha yang berdiri pada tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda, berawal tanpa perencanaan bisnis yang matang.
Di balik setiap kotak choux pastry yang dinikmati pelanggan, tersimpan kisah tentang seorang perempuan muda yang mengubah malam-malam tanpa tidur menjadi perjalanan penuh harapan.
"Saya sebenarnya tidak ada rencana membuka usaha makanan. Waktu itu hanya mencoba-coba baking karena tidak bisa tidur semalaman sejak ibu saya meninggal," ujar Ivena Rabu (22/7/2026).
“Daripada saya semalaman tidak berbuat apa-apa, jadi kepikiran untuk belajar baking saja,” tambahnya.
Rumah nenek menjadi saksi perjalanan awal One Recipe. Di sanalah seluruh peralatan dan bahan tersedia karena sang nenek merupakan pedagang kue di pasar.
"Daripada tidak melakukan apa-apa, saya coba trial and error berbagai macam produk. Ternyata hasilnya bisa menjadi berkat," katanya.
Hampir setiap malam hingga menjelang subuh, Ivena bereksperimen membuat roti, pizza, bolu, hingga aneka kue kering.
Setelah berhasil membuat produk yang layak jual, kue-kue tersebut dititipkan kepada sang nenek untuk dijual di pasar pada pagi harinya.
Proses belajar atau trail and eror itu berlangsung hampir satu tahun hingga akhirnya Ivena menemukan produk yang benar-benar menjadi andalan.
Pilihannya jatuh pada choux pastry atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai kue sus.
Namun, ia tidak ingin menjual produk yang sama seperti kebanyakan. Dari situlah lahir konsep choux pastry crunchy dengan beragam varian rasa yang kini menjadi identitas One Recipe.
"Kalau kue sus kan sudah banyak. Kami ingin membuatnya naik level menjadi lebih modern dan punya banyak pilihan rasa," jelasnya.
Saat ini One Recipe memiliki tujuh varian rasa, diantara coklat dan juga vanila yang menjadi menu paling best seller.
Nama One Recipe pun memiliki cerita tersendiri. Pada awal merintis usaha, Ivena memilih bermain aman dengan hanya menerima pesanan minimal satu resep adonan setiap kali produksi.
"Karena waktu itu saya tidak mau ambil risiko, jadi siapa pun yang pesan harus satu resep penuh. Dari situlah muncul nama One Recipe," tuturnya.
Jika pada awal usaha hanya mampu menjual sekitar 30 potong per hari, kini produksinya meningkat drastis menjadi sekitar 300 hingga 500 potong setiap hari, tergantung permintaan.
Produk One Recipe dipasarkan dalam kemasan empat dan delapan pcs, dengan pilihan varian reguler maupun premium yang dapat dikombinasikan sesuai selera pembeli.
Kemasan berisi empat dibandrol dengan harga Rp22.000 dan berisi delapan dibandrol dengan harga Rp37.000.
Meski permintaan terus meningkat, perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus.
Ivena mengaku tantangan terbesar justru datang saat permintaan melonjak tinggi, terutama pada musim hampers dan hari-hari besar.
"Sebagai owner, saya harus cepat menghitung kebutuhan produksi, jumlah adonan, hingga pembagian jadwal baking supaya semua pesanan selesai tepat waktu," ujarnya.
Menurutnya, dunia baking merupakan bidang yang menuntut ketelitian tinggi. Kesalahan kecil, seperti menggunakan telur yang kurang segar, dapat membuat adonan gagal mengembang.
"Semua proses itu tricky. Mulai dari bahan, alat, sampai skill harus benar-benar diperhatikan," katanya.
Ia juga mengaku selalu membuat produk fresh di hari itu juga. Mulai dari baking hingga topping dilakukan setiap hari.
Salah satu prinsip yang tetap dipertahankan hingga kini adalah tidak menggunakan bahan pengawet.
Karena itu, produk One Recipe hanya mampu bertahan sekitar 10 jam pada suhu ruang dan tiga hari dalam lemari pendingin.
Hal tersebut membuat Ivena membatasi pengiriman ke luar kota, meski banyak pelanggan dari berbagai daerah seperti Palembang, Jakarta, hingga Bandung yang ingin membawa produknya sebagai oleh-oleh.
Memasuki tahun kelima usahanya, Ivena mengaku bersyukur One Recipe masih terus berkembang.
Baginya, keberhasilan usaha bukan hanya soal omzet yang kini telah mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan, melainkan juga manfaat yang dapat dirasakan banyak orang.
"Saya berharap selalu diberi kesempatan untuk terus mengelola One Recipe agar bisa menjadi berkat, bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk karyawan, keluarga, dan pelanggan," ungkapnya.
Dari dapur sederhana di rumah sang nenek, Ivena Clearesta membuktikan bahwa sebuah mimpi besar bisa lahir dari langkah kecil yang dilakukan dengan ketekunan dan keberanian untuk terus mencoba.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)