Tak Betah Kerja Ikut Orang, Karmila Sari Sukses Rintis Ubi Coklat Lumer di Usia Muda
Sri Mariati July 22, 2026 04:50 PM

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Aroma ubi goreng yang masih hangat berpadu dengan lelehan cokelat menguar dari sebuah stan di Palangka Raya Fair 2026. 

Tak sedikit pengunjung yang semula hanya melintas akhirnya berhenti karena penasaran melihat camilan yang baru diangkat dari penggorengan.

Di balik ramainya stan tersebut, ada Karmila Sari (26), perempuan yang memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan demi merintis usaha Ubi Coklat Lumer sejak usia 19 tahun. 

Kini, usaha yang dimulainya pada 2019 itu telah berkembang hingga memiliki dua stan di Kota Palangka Raya.

Perempuan yang akrab disapa Mila itu mengaku tak pernah membayangkan akan menjadi seorang pelaku usaha. Setelah lulus SMA, ia sempat bekerja selama enam bulan di sebuah toko perlengkapan outdoor di Jalan Yos Sudarso, Kota Palangka Raya.

Namun, rutinitas sebagai karyawan membuatnya merasa tidak betah.

"Kerja ikut orang itu menurutku waktunya monoton. Pagi, siang, malam begitu terus. Aku akhirnya pengen berhenti kerja. Tapi waktu itu sebenarnya nggak kepikiran mau jualan," ujar Mila kepada Tribunkalteng.com, Selasa (21/7/2026).

Keputusan berhenti bekerja justru menjadi titik awal perjalanan usahanya. Ide membuat Ubi Coklat Lumer muncul saat ia makan ubi bersama kedua orang tuanya sambil menonton televisi.

Mila yang menyukai cokelat kemudian terpikir memadukannya dengan ubi yang menjadi makanan favorit orang tuanya.

"Awalnya iseng saja. Aku suka coklat, orang tua suka ubi. Pas lagi makan ubi bareng, kepikiran kayaknya kalau ubi dicampur coklat enak," katanya.

Ide tersebut tidak langsung membuahkan hasil. Mila mengaku membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk bereksperimen secara otodidak hingga menemukan resep yang sesuai.

Selama proses itu, ia berkali-kali mengalami kegagalan. Adonannya pernah terlalu banyak tepung, rasa cokelat belum pas, hingga ubi cepat basi karena masih panas saat dimasukkan ke dalam wadah.

"Pokoknya banyak gagalnya. Enam bulan baru benar-benar dapat resep yang pas," ujarnya.

Setelah merasa yakin dengan resepnya, Mila mengunggah hasil buatannya melalui Status WhatsApp. Di luar dugaan, banyak teman yang tertarik hingga memesan produknya.

Berawal dari sekitar 10 pesanan pre-order (PO), usaha Ubi Coklat Lumer miliknya terus berkembang. Kini, ia memiliki dua stan, masing-masing di kawasan RSUD dr. Doris Sylvanus dan di Jalan Rajawali Kilometer 5.

Meski kini banyak usaha serupa bermunculan, Mila mengaku tetap mampu bertahan berkat pelanggan yang sudah mengenal cita rasa produknya sejak awal.

"Saya termasuk yang pertama jual ubi coklat di Palangka Raya. Tahun 2020 mulai banyak yang ikut jualan. Tapi pelanggan bilang rasanya tetap beda. Mereka sering bilang, 'Jangan berhenti jualan ya, nanti kalau kami mau beli ke mana lagi'," tuturnya.

Momentum Palangka Raya Fair 2026 pun dimanfaatkan Mila untuk memperkenalkan produknya kepada lebih banyak masyarakat. Selama pameran berlangsung, ia sengaja menggoreng ubi setiap kali ada pesanan agar pelanggan dapat menikmati camilan tersebut dalam kondisi hangat.

Menurutnya, cara itu justru menarik perhatian pengunjung. Banyak orang yang awalnya hanya lewat akhirnya mampir karena penasaran dengan aroma ubi yang baru matang. 

Selain mendapat pelanggan baru, tak sedikit pelanggan lama yang sengaja datang untuk kembali membeli Ubi Coklat Lumer.

Keikutsertaannya dalam Palangka Raya Fair 2026 juga membawa hasil yang cukup memuaskan. Mila mengaku biaya sewa stan sudah tertutupi pada hari pertama berjualan.

"Alhamdulillah hari pertama sudah nutup biaya sewa. Hari-hari berikutnya ya kurang lebih sama seperti jualan di booth," katanya.

Bagi Mila, ajang seperti Palangka Raya Fair 2026 menjadi kesempatan memperluas pasar sekaligus memperkenalkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas. 

Kehadiran puluhan pelaku UMKM dalam pameran tersebut juga dinilai mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lokal melalui transaksi langsung antara pelaku usaha dan pengunjung.

Meski demikian, ia berharap penyelenggaraan Palangka Raya Fair ke depan dapat dikemas lebih baik agar manfaat ekonominya semakin dirasakan para pelaku UMKM.

Menurutnya, pelaksanaan beberapa agenda besar secara bersamaan di lokasi berbeda membuat pengunjung terbagi sehingga turut memengaruhi transaksi di area pameran.

Baca juga: Kisah Nurul Azizah dari Jamu ke Roti dan Kue, UMKM Warisan Leluhur Tantang Diri dengan Inovasi Baru

Baca juga: Pelaku UMKM Palangka Raya Minta Tak Hanya Beri Modal Tapi Perkuat Pembinaan dan Akses Pasar

"Sayang saja orangnya kebagi. Ada acara di Bundaran, terus di sebelah juga ada Coffee Week. Padahal kami di sini sudah bayar sewa stan. Kalau semua acaranya digabung di satu lokasi, masyarakat pasti lebih banyak ngumpul di sini dan UMKM juga lebih diuntungkan," katanya.

Ia berharap, Pemerintah Kota Palangka Raya dapat menghadirkan konsep Palangka Raya Fair 2026 yang lebih kreatif dengan memusatkan rangkaian kegiatan di satu lokasi sehingga mampu menarik lebih banyak pengunjung, meningkatkan transaksi UMKM, sekaligus memberi dampak lebih besar terhadap perputaran ekonomi daerah.

"Harapannya semoga tahun depan lebih kreatif, lebih seru, dan masyarakat semakin antusias datang ke Palangka Raya Fair," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.