Dalam unggahannya, Satria mengatakan dirinya dihubungi melalui akun WhatsApp Business yang mengatasnamakan staf pelayanan khusus Nareskrim Polri. Pesan tersebut disebut meminta dirinya menghapus postingan yang telah dibuat.
"Saya mendapatkan intimidasi pada hari Jumat, 17 Juli siang hari. Saya nggak tahu ini asli atau enggak, tapi intimidasi ini dikirim dari bisnis akun WhatsApp yang mengatasnamakan staf pelayanan khusus Nareskrim Polri. Saya disuruh menghapus postingan saya," ujar Satria dikutip TribunBengkulu.com, Rabu (22/7/2026).
Satria mengaku merasa ketakutan setelah pihak yang menghubunginya turut mengirimkan titik lokasi keberadaannya saat itu.
Menurutnya, hal tersebut membuat dirinya menduga bahwa orang yang mengirim pesan mengetahui posisi dirinya secara langsung.
"Yang membuat saya takut pada saat itu adalah nomor ini mengirimkan lokasi di mana saya berada pada saat itu, yang mana berarti orang yang melakukan intimidasi ini tahu persis saya ada di mana, kapan pun," ujarnya.
Setelah kejadian tersebut, Satria mengaku berusaha mencari bantuan dengan bertanya kepada sejumlah pihak yang aktif menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Ia juga menyebut telah melakukan konsultasi hukum. Namun, hasil konsultasi tersebut justru membuatnya semakin panik karena disarankan untuk menutup akun, mengganti nomor telepon, hingga membuat laporan polisi.
"Upaya yang saya lakukan adalah mencoba bertanya kepada orang-orang yang aktif mengkritisi pemerintah, langkah apa yang harus saya ambil. Setelah itu saya coba konsultasi hukum, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan, karena bukan membuat saya lebih tenang, malah membuat saya tambah panik," bebernya.
"Sebenarnya kalau misalkan saya bilang ke orang tua saya, saya yakin saya bakal lebih tenang. Tapi saya hanya tidak ingin membuat ini lebih panjang," ungkapnya.
Meski mengaku mendapat intimidasi, Satria menegaskan dirinya tidak menuduh pihak Polri maupun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebagai pihak yang berada di balik kejadian tersebut.
Ia mengatakan, dirinya hanya ingin mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan menyampaikan pendapat.
"Saya di sini tidak menuduh instansi Polri ataupun Kementerian PU atas intimidasi ini, tapi saya mau mengingatkan kepada seluruh masyarakat agar selalu berhati-hati," pungkasnya.
Unggahan Satria tersebut kemudian ramai mendapat perhatian warganet. Sejumlah pengguna TikTok memberikan dukungan dan menyampaikan keresahan terkait dugaan intimidasi yang dialami pemilik akun tersebut.
Beberapa netizen meminta Satria tidak menghapus akun TikTok miliknya dan mendorong agar unggahan tersebut mendapat perhatian lebih luas.
“kak jangan mau tutup akun please, kita bantu up ya biar rame,” tulis akun @dianamima02.
“ternyata rakyat benar-benar nggak dilindungi yah di Indonesia ini,” tulis akun @rNa.
“Parah banget sumpah, pembungkaman anti kritik!” tulis akun @cahya.
“Astaghfirullah rangkuman doang padahal,” tulisnya.
Beragam komentar tersebut disampaikan warganet melalui kolom komentar akun TikTok @satria.san pada Rabu (22/7/2026).
(Mahasiswa magang/Zazskia Humairoh)