TRIBUNPRIANGAN.COM – Allah sangat murka kepada orang yang ucapannya melenceng dari perbuatannya.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat Ash-Shaff ayat 2-3, di mana Allah menyebut sangat besar kebencian-Nya terhadap mereka yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan.
Menyelisihi perkataan dengan perbuatan merupakan ciri kemunafikan dan tanda rusaknya integritas.
Berbicara perihal Jumat lusa nanti, tepatnya di hari Jumat tanggal 24 Juli 2026, kita selaku laki-laki beragama muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Hari Jumat yang merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan.
Khusus untuk khutbah pada Jumat lusa nanti, berikut merupakan naskah khutbah Jumat tanggal 24 Juli 2026 yang sudah TribunPriangan.com lansir dari berbagai sumber tentang "Allah Murka Kepada Orang yang Ucapannya Melenceng dari Perbuatan".
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Bergegas dalam Taubat dan Berkomitmen untuk Meninggalkan Maksiat
Khutbah 1
اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ وَالْاِحْسَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ، اَلْكَرِيْمِ الَّذِيْ تَأَذَّنَ بِالْمَزِيْدِ لِذَوِي الشُّكْرَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ، عَالِمُ الظَّاهِرِ وَمَا انْطَوَى عَلَيْهِ الْجَنَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 24 Juli 2026/ 9 Safar 1448 Hijriah: Mendidik Anak di Zaman Fitnah
Jamaah salat Jumat yang dimuliakan Allah
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah swt, Tuhan semesta alam, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di masjid yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Mengawali khutbah Jumat ini, khatib menyampaikan wasiat kepada seluruh jamaah wabil khusus kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah swt. Hal ini diwujudkan dengan sekuat hati dan tenaga untuk menjalankan perintah-perintah Allah swt dan menjauhi larangan-larangan yang telah ditentukan oleh-Nya. Takwalah yang akan menjadi bekal paling baik dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 24 Juli 2026/ 9 Safar 1448 Hijriah: Waspadalah Pada Virus Bernama Takabur
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Menjadi keharusan bagi kita makhluk Allah swt untuk mengungkapkan rasa syukur atas karunia nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu dalam kehidupan ini. Jangan sampai kita menjadi makhluk paling sempurna di muka bumi tapi tidak pandai bersyukur yang pada akhirnya menjadikan nikmat ini diganti dengan siksa dan kepedihan. Allah telah mengingatkan bahwa manusia yang pintar bersyukur akan ditambah nikmatnya dan siapa yang kufur akan mendapatkan siksa yang pedih.
Wujud syukur ini bisa kita wujudkan dengan terus menguatkan ketakwaan kepada Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Di antara perintah Allah yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah berkata jujur dan meninggalkan prilaku suka berbohong. Kita harus berusaha menjadi pribadi yang memiliki komitmen dan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surat As-Shaf ayat 3:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya: “Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Amal Bagaikan Cerminan Derajat, Jaga dan Percantik Sebaik Mungkin
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Dalam ayat ini, Allah memperingatkan bahwa sangat besar dosanya orang mengatakan sesuatu, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Hal ini berlaku, baik dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan sesama manusia.
Jika mulut kita mengucapkan iya, maka sudah seharusnya kita melaksanakannya. Sebaliknya jika mulut kita berkata tidak, maka sekuat mungkin kita menghindarinya dan tidak melakukannya. Menyelaraskan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan harus kita perkuat sebagai wujud komitmen menepati komitmen atau janji.
Menepati janji sendiri merupakan perwujudan iman yang kuat. Budi pekerti yang agung dan sikap yang berperikemanusiaan pada seseorang, menimbulkan kepercayaan dan penghormatan orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya, perbuatan menyalahi janji merupakan tanda iman yang lemah. Tingkah laku yang jelek dan sikap yang tidak berperikemanusiaan, akan menimbulkan saling mencurigai dan dendam dalam kehidupan bersama.
Oleh karena itulah, agama Islam sangat mencela orang yang suka berdusta dan menyalahi janjinya. Agar sifat tercela itu tidak dipunyai oleh orang-orang beriman, alangkah baiknya jika menepati janji dan berkata benar itu dijadikan tujuan pendidikan yang utama yang diajarkan kepada anak-anak. Di samping beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan melatih diri mengerjakan berbagai bentuk ibadah yang diwajibkan.
Rasulullah telah berpesan dalam hadits dari Abdullâh bin Mas’ûd:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا
Artinya: “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur."
وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
Artinya: "Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’” (HR. Ahmad)
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 24 Juli 2026/ 9 Safar 2026: Jangan Biarkan Safar Kosong dari Amal
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Sikap tidak konsisten dalam ucapan dan perbuatan, suka ingkar janji, dan tidak amanah juga mengarah kepada sifat orang-orang munafik. Rasulullah menyebut tiga ciri orang munafik yang ditegaskan dalam haditsnya:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: "Tanda-tanda munafik ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat". (HR Bukhari).
Mari kita introspeksi diri dengan mengingat-ingat 3 sikap yang menjadi ciri orang munafik. Apakah sikap-sikap itu ada dalam diri kita. Apakah kita termasuk konsisten dalam ucapan dan tindakan? atau kita malah mengingkari apa yang kita ucapkan? Apakah kita mengatakan semua sesuai kenyataan atau kita menutup-nutupinya? Apakah kita mengatakan tidak, namun faktanya kita malah melakukannya?
Dunia modern yang mengarah kepada pemikiran dan sikap materialistis saat ini mudah dijangkiti prinsip-prinsip formalitas atau yang sering disebut lip service (hanya di bibir saja). Semboyan yang digaungkan tidak sesuai dengan kenyataan. Apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. Mengajak orang untuk anti pada tindakan negatif, namun praktiknya malah senang melakukannya. Mendorong untuk bersikap positif namun pada praktiknya tidak pernah melakukannya. Naudzubillah min dzalik.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 24 Juli 2026/ 9 Safar 2026: Meluruskan Pemahaman tentang Bulan Safar
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Allah swt tidak menyukai orang-orang munafik dengan memberi balasan siksa di neraka sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat An-Nisa' ayat 145:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ
Oleh karena itu, melalui mimbar khutbah Jumat kali ini, mari kita sama-sama bermuhasabah, melakukan introspeksi diri dan kemudian menguatkan komitmen untuk menjauhi prilaku ucapan yang berbeda dengan tindakan. Kebiasaan untuk bersikap konsisten dan istiqamah dalam kebaikan pasti akan banyak tantangannya dan tidak bisa kita lakukan dalam waktu yang sebentar. Semua butuh proses dengan berbagai dinamika yang akan kita hadapi. Namun Allah yang akan menjaga kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
Artinya: “Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud:112)
Baca juga: Teks Khutbah Jumat 17 Juli 2026: Siapkan Bekal Akhirat Sebelum Datang Kematian
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Semoga kita diberikan hidayah oleh Allah swt untuk senantiasa berada pada kejujuran dan jauh dari kemunafikan. Amin
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر