Grid.ID - Ciccio Manassero telah membuktikan dirinya bukan sekadar nama yang lewat begitu saja di industri hiburan Tanah Air. Berkarier selama lebih dari dua dekade, publik melihat evolusinya dari seorang artis cilik menjadi aktor dewasa yang matang. Meski rekam jejak masa kecilnya sempat lekat dengan dunia tarik suara, Ciccio kini telah memantapkan identitas profesionalnya secara utuh di dunia seni peran.
Bagi pria yang kini mulai merambah dunia pembawa acara olahraga ini, akting bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang sudah ia tapaki sejak usia sangat dini. Ia menepis anggapan bahwa dirinya sedang melakukan transisi karier, karena kecintaannya pada seni peran sudah tertanam kuat bahkan sejak memori masa kecilnya mulai terbentuk.
"Enggak, enggak bisa main musik, enggak bisa nyanyi, enggak bisa apa. Emang dari kecil, dari memori terkecilku udah syuting, udah main film, jadi ya emang kalau ditanya Cio ini apa, ya I’m an actor, gitu," ujar Ciccio Manassero di kawasan Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Totalitasnya sebagai aktor sangat terlihat dalam proyek film terbarunya yang berjudul Rumah Singgah. Dalam film tersebut, Ciccio keluar dari zona nyamannya yang kerap memerankan karakter pria tampan yang memikat wanita atau bad boy. Ia mengambil tantangan besar dengan memerankan tokoh Tony, seorang pasien penderita kanker yang memiliki sifat humoris dan usil.
Demi menghidupkan karakter pasien kanker secara realistis, Ciccio melakukan transformasi fisik yang sangat ekstrem dalam waktu singkat. Ia menghentikan seluruh rutinitas angkat beban di pusat kebugaran, beralih pada kardio intens, serta memangkas konsumsi gula dan nasi hingga berat badannya turun drastis dan membuat keluarganya terkejut.
"Aku itu turun 8 kiloan ya sekitar sebulan, itu aku stop gym total, stop push-up push-up apa begitu enggak sama sekali. Yang aku lakuin tuh cuma di luar makan sehat ya, gula enggak, nasi enggak. Di luar makan sehat itu aku tiap hari jalan di treadmill tapi incline, incline-nya 14, setengah jam jalan tiap hari aja. Mamaku aja waktu sempat sekali, aku kan nonton Muay Thai ya, aku punya celana Muay Thai gitu, aku pakai celana Muay Thai pendek, terus mamaku lihat pahaku langsung kayak, 'Ih kasihan banget deh kaki kamu kayak ayam' gitu," jelas Ciccio.
Dedikasi Ciccio tidak berhenti hanya pada penurunan berat badan. Ia juga harus merelakan rambutnya dicukur habis demi merepresentasikan kondisi fisik seorang pasien yang sedang menjalani perawatan medis akibat kanker.
Menariknya, proses penggundulan rambut ini bukanlah sekadar persiapan di ruang rias sebelum syuting dimulai. Ciccio secara khusus berdiskusi dengan tim produksi agar proses pencukuran rambut tersebut direkam langsung di depan kamera agar memberikan dampak emosional yang lebih kuat bagi penonton.
"Aku cuma diskusi aku dengan Mas Sunu dan Mas Calvin, produser sama sutradara itu cuma aku pengennya waktu itu harus ada di adegannya. Jadi nggak mau ketika muncul Tony-nya sudah plontos, aku nggak mau. Ketika ada adegannya di filmnya lebih powerful," ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai kunci kesuksesannya bertahan di industri yang kompetitif ini selama 25 tahun, Ciccio memiliki pandangan yang sangat membumi. Ia mengibaratkan dirinya seperti seorang atlet yang setelah memenangkan satu piala, akan langsung fokus pada pertandingan berikutnya tanpa harus larut dalam euforia masa lalu.
Lebih dari sekadar bakat dan fisik yang menunjang, Ciccio meyakini bahwa kunci utama eksistensi seorang aktor adalah etika kerja di lokasi syuting. Baginya, menjadi rekan kerja yang menyenangkan dan mempermudah proses produksi adalah fondasi utama agar seorang aktor terus dipercaya oleh para pembuat film.
"Dan kalau aku ditanya kenapa bisa bertahan di industri sampai 25 tahun mungkin kayak sekarang ya, nggak tahu juga kenapa aku masih dikasih kesempatan sama teman-teman. Dan yang paling penting buat aku ya tetap selalu menjadi orang baik, selalu menjadi lawan main yang menyenangkan, yang bikin kru dan pemain-pemain syutingnya nyaman kerja bareng aku, dan juga selalu mencoba seprofesional mungkin. Itu yang paling penting. Attitude sih menurutku," katanya.