Anak Pendek Belum Tentu Stunting atau Faktor Keturunan, Bisa Jadi Gangguan Hormon
Willem Jonata July 22, 2026 06:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak sedikit orang tua merasa tenang ketika anaknya memiliki tinggi badan lebih pendek dibanding teman-teman seusianya. 

Alasannya sederhana, ayah atau ibu juga bertubuh pendek sehingga kondisi tersebut dianggap semata-mata faktor keturunan.

Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Di balik tubuh pendek seorang anak, bisa saja terdapat gangguan pertumbuhan yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan sejak dini. 

Sayangnya, banyak kasus baru diketahui ketika anak sudah beranjak remaja sehingga kesempatan untuk mengejar pertumbuhan menjadi semakin kecil.

Baca juga: Beli SIM Card Baru untuk Anak? Ortu Perlu Tahu Cara Registrasi dengan Biometrik

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi RS Pondok Indah–Pondok Indah, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A., Subsp.End., FAAP, FRCPI (Hon.), mengatakan hal pertama yang harus dipastikan bukanlah apakah orang tua bertubuh tinggi atau pendek, melainkan apakah pola pertumbuhan anak berjalan normal.

Menurutnya, dokter tidak bisa menentukan penyebab anak pendek hanya dari sekali pengukuran tinggi badan. Yang jauh lebih penting adalah melihat perjalanan pertumbuhan anak melalui kurva pertumbuhan sejak lahir.

Jangan Hanya Lihat Tinggi Badan Hari Ini

Prof Aman menjelaskan, bayi yang lahir normal umumnya memiliki panjang badan sekitar 48 hingga 50 sentimeter. 

Setelah itu, pertumbuhan anak harus dipantau secara berkala melalui kurva pertumbuhan.

Kurva tersebut akan memperlihatkan apakah tinggi badan anak berkembang sesuai jalurnya atau justru mulai menyimpang.

Anak yang memang memiliki postur pendek karena variasi normal atau faktor genetik biasanya tetap tumbuh mengikuti garis kurva yang sejajar.

Sebaliknya, bila kurva terus turun dan keluar dari jalurnya, kondisi itu perlu dicurigai sebagai gangguan pertumbuhan.

"Kalau dia misalnya nanti, dia ini pendek variasi normal, tentu ini akan kita lihat kurvanya ini akan menurun dan dia akan paralel. Tapi kalau dia ternyata ini pendeknya karena kekurangan growth hormone, kurvanya ini akan turun dan bablas,"ungkapnya pada media briefing virtual, Rabu (22/7/2026). 

Karena itu, menurut Prof Aman, orang tua sebaiknya tidak hanya membandingkan tinggi badan anak dengan saudara atau teman sebayanya. 

Pola pertumbuhan dari bulan ke bulan justru menjadi petunjuk paling penting.

Ia menegaskan, dokter membutuhkan riwayat pertumbuhan anak untuk menilai apakah kondisi tersebut masih termasuk variasi normal atau sudah mengarah pada penyakit.

Tidak Semua Anak Pendek Disebabkan Kurang Gizi

Prof Aman mengatakan, salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menganggap semua anak pendek pasti akibat kurang makan atau stunting.

Padahal penyebab gangguan pertumbuhan sangat beragam.

Mulai dari gangguan hormon pertumbuhan, kelainan hormon tiroid, kelainan kromosom seperti sindrom Turner pada anak perempuan, hingga kelainan tulang dapat menyebabkan tinggi badan anak tidak berkembang optimal.

Karena itu, memberikan makanan dalam jumlah lebih banyak tanpa mengetahui penyebabnya belum tentu menyelesaikan masalah.

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan terlebih dahulu apakah anak benar-benar mengalami gangguan pertumbuhan atau tidak.

Pemeriksaan tersebut dimulai dari kurva pertumbuhan sebelum berlanjut ke pemeriksaan lain bila memang diperlukan.

Kurva Pertumbuhan Harus Dipantau Sejak Bayi

Prof Aman menegaskan kurva pertumbuhan tidak boleh dibuat ketika anak sudah besar.

Kurva harus dimulai sejak lahir karena perubahan pertumbuhan sering kali berlangsung perlahan dan tidak disadari orang tua.

Melalui kurva tersebut, dokter dapat mengetahui apakah kecepatan tumbuh anak masih sesuai usianya atau mulai melambat.

Ia menjelaskan, anak yang mengalami gangguan hormon biasanya menunjukkan penurunan kurva secara bertahap hingga semakin jauh dari jalur normal.

Sebaliknya, anak yang pendek karena faktor genetik tetap memiliki kecepatan tumbuh yang stabil meskipun berada pada posisi kurva yang lebih rendah.

Dengan demikian, dokter tidak perlu langsung melakukan pemeriksaan laboratorium yang mahal apabila pola pertumbuhannya masih normal.

Orang Tua Harus Berani Meminta Rujukan

Menurut Prof Aman, gangguan pertumbuhan bukan penyakit yang muncul secara tiba-tiba.

Biasanya tanda-tandanya sudah terlihat sejak kurva pertumbuhan mulai berubah.

Karena itu, orang tua perlu aktif memperhatikan perkembangan tinggi badan anak, bukan hanya berat badannya.

Apabila kurva terus menurun tetapi tidak mendapatkan penjelasan yang memadai, orang tua tidak perlu ragu meminta rujukan ke dokter spesialis anak.

"Kalau kurvanya makin turun, walaupun dia belum pendek, kalau dokternya mengatakan ini tidak apa-apa, tidak apa-apa, minta dirujuk. Jadi, orang tua harus proaktif,"saran prof Aman. 

Menurutnya, sikap proaktif menjadi penting karena penyebab anak pendek tidak selalu sederhana.

Semakin cepat penyebabnya ditemukan, semakin besar peluang anak mendapatkan terapi yang tepat sesuai penyakit yang mendasarinya.

Pemeriksaan Tepat Bisa Menghindari Tes yang Tidak Perlu

Prof Aman mengatakan kurva pertumbuhan juga membantu dokter menentukan pemeriksaan yang benar-benar dibutuhkan.

Tanpa data pertumbuhan, dokter berpotensi harus melakukan berbagai pemeriksaan untuk mencari penyebab gangguan pertumbuhan. Padahal, biaya pemeriksaan tersebut tidak sedikit.

Dengan kurva pertumbuhan yang lengkap, dokter dapat lebih mudah menentukan apakah anak memang memerlukan pemeriksaan hormon, pemeriksaan genetik, atau justru cukup dipantau secara berkala.

Karena itu, ia mengajak orang tua untuk tidak menganggap pencatatan tinggi badan sebagai hal sepele.

Menurutnya, kurva pertumbuhan merupakan salah satu alat sederhana yang dapat membantu menemukan gangguan pertumbuhan lebih dini, sehingga anak memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh penanganan sebelum terlambat.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.