- Kuwait kini ikut merasakan dampak konflik setelah membantu operasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Sebelumnya, AS menggempur sejumlah target militer Iran selama 10 malam berturut-turut.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebut sasaran operasi meliputi pusat komando, sistem pertahanan udara, peluncur rudal dan drone, serta kemampuan maritim Iran.
Washington mengklaim operasi itu dilakukan untuk mengurangi ancaman Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi di Kuwait yang dianggap mendukung AS.
Pemerintah Kuwait mengonfirmasi serangan tersebut mengenai sejumlah fasilitas penting pada Senin (20/7).
Ledakan sempat memicu kebakaran di beberapa lokasi sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh petugas.
Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait menyatakan proses perbaikan masih terus berlangsung.
Serangan terhadap fasilitas desalinasi memicu kekhawatiran besar di negara-negara kawasan Teluk.
Pasalnya, jutaan warga sangat bergantung pada instalasi tersebut untuk mendapatkan pasokan air bersih setiap hari.
Jika kerusakan semakin meluas, pasokan air minum dikhawatirkan terganggu dan memicu krisis di sejumlah wilayah.
Iran juga dilaporkan mengerahkan puluhan drone untuk menyerang fasilitas serta pangkalan militer AS di wilayah Kuwait.
Namun hingga kini, jalur pelayaran di Selat Hormuz masih dinilai belum sepenuhnya aman dari ancaman serangan.
Pengamat menilai Iran kini mulai memperluas targetnya, tidak hanya instalasi militer.
Tetapi juga infrastruktur vital yang berdampak langsung pada masyarakat sipil.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan, Washington masih membuka peluang negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran.