SURYA.CO.ID - Tren temuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menunjukkan peningkatan dalam tiga tahun terakhir.
Data terbaru juga menunjukkan mayoritas ODHIV yang didampingi berasal dari kalangan usia produktif, khususnya buruh dan karyawan pabrik.
Berdasarkan data Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sidoarjo yang bekerja sama dengan Delta Crisis Center (DCC), tercatat ada 550 ODHIV dalam pendampingan pada 2024. Jumlah tersebut meningkat menjadi 679 orang pada 2025.
Sementara hingga Juli 2026, jumlah ODHIV yang didampingi telah mencapai 380 orang. Angka tersebut masih berpotensi bertambah karena pendataan baru mencakup semester pertama.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Sidoarjo, Diana Ambarukmi, menjelaskan bahwa peningkatan tersebut merupakan dampak positif dari semakin masifnya skrining yang dilakukan pemerintah sehingga lebih banyak kasus dapat terdeteksi lebih dini.
"Kalau di 2024 itu angkanya mencapai 550. Kalau 2025 mencapai 679. Saat ini posisinya masih di angka 380. Artinya ini masih posisi setengah tahun, sehingga angkanya masih dinamis. Kemungkinan naik masih bisa terjadi," kata Diana, Rabu (22/7/2026).
Baca juga: Alarm Kasus HIV Sidoarjo Gerogoti Usia Produktif, DPRD Jatim Minta Tindakan Cepat Tanpa Diskriminasi
Hal yang cukup mengejutkan adalah latar belakang pekerjaan para ODHIV yang didampingi.
Kelompok karyawan atau buruh menyumbang persentase terbesar, yakni mencapai 53 persen dari total kasus yang didampingi Dinsos.
Posisi berikutnya ditempati ibu rumah tangga (IRT) sebesar 15,3 persen, disusul wirausaha sekitar 11 persen.
Sisanya berasal dari berbagai profesi, seperti tenaga profesional, pelajar atau mahasiswa, aparatur sipil negara (ASN), hingga masyarakat yang belum bekerja.
"Pekerjaannya paling banyak adalah karyawan atau buruh, sudah mencapai sekitar 53 persen. Sisanya menyebar di berbagai profesi," ungkap Diana.
Dari sisi jenis kelamin, laki-laki masih mendominasi dibandingkan perempuan.
"Gender yang paling banyak sampai saat ini adalah laki-laki. Sekitar 60 persen laki-laki. Kalau perempuannya sekitar 40 persen," imbuhnya.
Dinsos Sidoarjo tidak bekerja sendiri.
Melalui Delta Crisis Center (DCC), pemerintah menerjunkan lebih dari 15 pendamping untuk memastikan ODHIV tetap mendapatkan hak kesehatan dan sosial.
Mereka bertugas menjadi teman konsultasi sekaligus mengingatkan jadwal minum obat dan kontrol rutin agar virus tetap terkendali.
"Kebetulan ada DCC. Di sana menjadi tempat teman-teman untuk berkegiatan, berkoordinasi, dan berkonsultasi. Ada lebih dari 15 pendamping yang membantu mengingatkan jadwal minum obat dan kontrol agar teman-teman tetap bertahan hidup dan menjaga kesehatannya," pungkas Diana.
Sebagai informasi, data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo menunjukkan angka kumulatif yang lebih besar. Hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 7.182 ODHIV telah menjalani pemeriksaan di wilayah Sidoarjo.
Dari jumlah tersebut, 4.518 orang merupakan warga Sidoarjo, sedangkan 2.664 lainnya merupakan warga luar daerah yang mengakses layanan kesehatan di Bumi Jenggolo.
Data Dinkes juga menunjukkan kelompok usia produktif 25-40 tahun menjadi yang terbanyak, yakni mencapai 3.767 orang.
Dari sisi jenis kelamin, laki-laki masih mendominasi dengan 4.593 orang, sedangkan perempuan sebanyak 2.589 orang.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mengimbau masyarakat, terutama di sektor industri, untuk rutin melakukan skrining kesehatan guna memutus rantai penularan HIV/AIDS dan memastikan ODHIV mendapatkan penanganan medis sejak dini.