TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Di tengah tingginya harga pakan ternak yang terus menjadi keluhan peternak, seorang peternak di Kabupaten Wonosobo justru menemukan solusi dari sesuatu yang kerap dianggap tidak bernilai, yakni limbah organik.
Buah busuk, sisa sayuran pasar, limbah toko buah hingga sisa makanan dapur kini menjadi sumber pakan bagi maggot Black Soldier Fly (BSF).
Dari larva lalat itulah biaya produksi ternaknya berhasil ditekan tanpa menghilangkan kualitas hasil ternak.
Baca juga: Pemkab Wonosobo Salurkan 20 Ton Jagung Bersubsidi untuk Ringankan Biaya Produksi Peternak
Inovasi tersebut dikembangkan Hardianto, pemilik NZ BSF Farm yang berlokasi di Desa Kalierang, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo.
Selama enam tahun terakhir, ia membangun sistem peternakan terintegrasi yang menggabungkan budidaya maggot BSF, ayam pedaging, ayam petelur kampung, hingga ikan dalam satu siklus usaha.
Tak hanya menghasilkan pakan alternatif, usaha tersebut kini telah berkembang hingga menjual ayam karkas, ayam ungkep, ayam bacem, ikan marinasi, telur ayam kampung, telur BSF hingga bibit maggot kepada masyarakat.
Tak tanggung-tanggung omzet usahanya pun kini telah mencapai ratusan juta rupiah.
Hardianto bercerita, awalnya dirinya hanya memiliki kolam ikan dan kandang ayam seperti peternak pada umumnya.
Namun seiring waktu, biaya produksi terus meningkat karena harga pakan yang naik, sementara hasil panen tidak mengalami kenaikan signifikan.
"Karena pakan cenderung naik dan hasil panenan tidak naik-naik, akhirnya kita mencari pakan alternatif untuk menekan cost pakan ternak," ujar Hardianto, Rabu (22/7/2026).
Pencarian tersebut kemudian mempertemukannya dengan budidaya maggot BSF.
Ia pun mendatangkan bibit maggot pertama dari Kabupaten Banjarnegara.
Saat itu, target produksinya cukup besar, yakni mampu memanen sekitar satu kuintal maggot setiap hari.
Pada tahap awal, kebutuhan pakan maggot dipenuhi dari limbah Pasar Garung berupa sisa buah dan sayuran.
Namun, usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus. Menurut Hardianto, kadar air pada limbah sayur dan buah ternyata terlalu tinggi sehingga menyebabkan produksi maggot mengalami kerugian.
Dari pengalaman tersebut, ia kemudian melakukan evaluasi terhadap sistem budidayanya.
Kini, maggot dibudidayakan tepat di bawah kandang ayam atau kolong kandang sehingga larva dapat membantu mengurai kotoran ayam sekaligus memperoleh sumber pakan yang lebih sesuai.
Selain memanfaatkan kotoran ayam, maggot juga diberi limbah organik dari berbagai sumber.
Saat ini, Hardianto memanfaatkan limbah dari toko buah, limbah roti, limbah cireng, hingga limbah dapur program SPPG maupun MBG sebagai bahan pakan maggot.
Usaha tersebut mulai dirintis sejak awal pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Di tengah berbagai tantangan usaha saat itu, Hardianto memilih terus mengembangkan sistem peternakan terintegrasi.
"Usaha ini sudah kita jalankan selama kurang lebih enam tahun sejak Covid-19 2020 awal. Sampai sekarang alhamdulillah kita masih bertahan," ujarnya.
Tak hanya bertahan, kini usahanya juga telah memasuki tahap hilirisasi.
Hasil ternak tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah terlebih dahulu sebelum dipasarkan.
Ayam dijual dalam bentuk ayam karkas, ayam ungkep hingga ayam bacem.
Sementara ikan dipasarkan dalam bentuk ikan marinasi siap masak.
Produk-produk tersebut dijual langsung kepada konsumen, warung makan hingga toko frozen food.
Dalam sistem peternakannya, siklus hidup maggot BSF menjadi bagian penting. Setiap hari lalat BSF menghasilkan telur yang dipanen.
Sebagian telur ditetaskan untuk kebutuhan produksi sendiri, sedangkan sebagian lainnya dijual kepada masyarakat yang ingin memulai budidaya maggot.
Larva yang telah berumur tujuh hari kemudian ditebar di bawah kandang ayam.
Di lokasi tersebut, larva mengurai kotoran ayam sekaligus tumbuh hingga siap dipanen setelah sekitar 12 hari.
Namun sebelum dijadikan pakan ayam, maggot tidak langsung diberikan. Hardianto mengatakan maggot terlebih dahulu disterilkan selama dua kali 24 jam.
Selama proses tersebut, maggot diberi pakan berupa limbah seperti roti agar tidak lagi mengandung sisa kotoran ayam.
"Kalau untuk mau dikembalikan ke ayam, kita sterilkan selama 2x24 jam," ujarnya.
Sekitar 90 persen hasil panen maggot digunakan sebagai pakan ternak. Sementara 10 persen sisanya disiapkan untuk regenerasi.
Maggot yang disisihkan akan berubah menjadi pre-pupa, kemudian didiamkan sekitar tujuh hari hingga menjadi pupa.
Setelah itu dipindahkan ke kandang lalat hingga berubah menjadi lalat BSF dewasa yang kembali bertelur.
"Kurang lebih waktu totalnya sekitar 50 hari, dari telur sampai ke telur lagi," katanya.
Seiring berkembangnya usaha, Hardianto tidak lagi mengejar jumlah ternak yang terlalu besar. Ia memilih menyesuaikan populasi dengan kemampuan penjualan agar seluruh hasil produksi dapat terserap pasar.
Saat ini, NZ BSF Farm memelihara sekitar 1.200 ekor ayam pedaging yang dibagi dalam dua periode pemeliharaan. Pola tersebut dilakukan agar siklus panen tidak terputus setiap bulan.
"Karena kita sudah tidak berhubungan dengan tengkulak atau bandar, kita hanya menyesuaikan kemampuan jual kita setiap bulan. Saat ini 600 ekor setiap bulan. Jadi karena kita ada dua generasi agar siklusnya tidak terputus, kita ada total 1.200 untuk ayam pedaging," kata Hardianto.
Selain ayam pedaging, peternakan tersebut juga mulai mengembangkan ayam petelur kampung. Saat ini terdapat sekitar 200 ekor ayam petelur.
Tak berhenti di situ, Hardianto juga mulai menyiapkan ayam Kuntara sebagai indukan. Dari sekitar 100 ekor yang dipelihara, sekitar 50 ekor di antaranya merupakan betina yang dipersiapkan untuk produksi bibit.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari target besar agar peternakan tidak lagi bergantung pada pembelian DOC atau Day Old Chick dari luar daerah.
"Rencananya kita jadikan indukan. Tiga bulan ke depan kita sudah mandiri DOC, kita tidak beli dari luar," katanya.
Di tengah fluktuasi harga telur ayam ras, Hardianto mengaku tidak terlalu terdampak karena fokus mengembangkan telur ayam kampung Elba.
Telur tersebut dipasarkan langsung kepada masyarakat maupun reseller. Untuk harga, telur Elba dijual Rp2.200 per butir kepada reseller dan Rp2.500 per butir kepada konsumen.
"Walaupun harga telur ras sekarang hancur, kita tidak terpengaruh karena kita mainnya telur ayam kampung," ujarnya.
Meski menjadi solusi menekan biaya produksi, Hardianto menegaskan penggunaan maggot tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi setiap jenis ternak.
Pada ayam pedaging, maggot hanya diberikan sekitar 20 persen dari total kebutuhan pakan harian. Menurutnya, penggunaan di atas angka tersebut justru membuat pertumbuhan ayam kurang maksimal.
Sementara itu, penggunaan maggot pada entok dapat mencapai sekitar 50 persen dari total pakan.
Begitu pula pada ikan nila maupun ikan bersisik lainnya yang juga dapat menggunakan maggot hingga 50 persen.
Sedangkan ikan lele dan ikan patin mampu memanfaatkan maggot hingga sekitar 70 persen dari total kebutuhan pakan.
Meski demikian, seluruh ternak tetap mendapatkan tambahan pakan lain agar kebutuhan gizinya tetap seimbang.
"Apapun ternaknya tetap tidak bisa full maggot karena kita tetap memperhitungkan kebutuhan nutrisi ternak itu sendiri, kita gunakan juga pakan pabrikan," ujar Hardianto.
Berbekal sistem peternakan terintegrasi, Hardianto kini tidak hanya memperoleh pendapatan dari satu jenis usaha.
Baca juga: Sampah Sisa MBG di Losari Brebes Bakal Diurai Gunakan Maggot
Selain menjual ayam pedaging, ayam petelur, ikan, telur ayam kampung, produk olahan siap masak, telur BSF, hingga bibit maggot, ia juga tengah bersiap memproduksi DOC sendiri.
Diversifikasi usaha tersebut membuat peternakan yang dirintis sejak awal pandemi Covid-19 terus berkembang.
Baginya, memanfaatkan limbah organik bukan hanya cara mengurangi sampah, tetapi juga menjadi solusi untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan nilai tambah hasil peternakan. (ima)