TRIBUNNEWS.COM – Penunjukan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Nanik S. Deyang memunculkan perdebatan mengenai kesesuaian kompetensi dengan mandat lembaga yang menjadi ujung tombak Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Akademisi sekaligus pakar komunikasi politik Emrus Sihombing menilai pemimpin BGN semestinya memiliki kompetensi substantif di bidang gizi.
Menurutnya, latar belakang keilmuan menjadi fondasi penting agar setiap kebijakan dan program yang dihasilkan tidak sekadar bersifat administratif, tetapi berdiri di atas konsep, teori, dan filosofi ilmu gizi.
"Untuk dapat menakodai BGN dan MBG mengarungi gelombang dan ombak besar, pengganti Nanik S. Deyang menurut hemat saya harus memiliki kompetensi di bidang gizi," kata Emrus kepada Tribunnews Solo, Rabu (22/7/2026).
Ia berpendapat seseorang yang memimpin lembaga sesuai bidang keilmuannya akan lebih mudah merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.
"Orang yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang unit yang dipimpin akan lebih baik daripada yang tidak sesuai dengan kompetensinya. Sebab, yang tidak sesuai dengan kompetensinya, keputusan yang diambil dan programnya dipastikan tidak memiliki dasar konsep, teori, dan filsafat yang kuat. Karena itu, dia akan cenderung pragmatis," ujarnya.
Pandangan tersebut menarik jika dibandingkan dengan rekam jejak Sudaryono.
Berdasarkan profil pendidikan dan perjalanan kariernya, Sudaryono tidak berasal dari disiplin ilmu gizi, kedokteran, kesehatan masyarakat, maupun teknologi pangan.
Ia merupakan lulusan SMA Taruna Nusantara, kemudian menempuh pendidikan Teknik Mesin di National Defense Academy (NDA) Jepang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Magister Administrasi Bisnis (MBA) di Swiss German University dan meraih gelar doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan bidang yang berkaitan dengan manajemen dan agribisnis.
Karier profesional maupun pemerintahannya juga lebih banyak berkaitan dengan sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Baca juga: Ganti Pimpinan BGN Tak Cukup, MBG Watch Desak Pembenahan Tata Kelola
Sebelum dilantik menjadi Kepala BGN, Sudaryono menjabat Wakil Menteri Pertanian serta dikenal aktif mengawal berbagai program peningkatan produksi pangan, distribusi hasil pertanian, pupuk, hingga penguatan rantai pasok nasional.
Dengan latar belakang tersebut, kompetensi Sudaryono dinilai kuat pada aspek tata kelola pangan dan manajemen, bukan pada ilmu gizi sebagai disiplin akademik.
Secara konseptual, kedua bidang tersebut memang saling berkaitan, tetapi memiliki fokus berbeda.
Pertanian dan ketahanan pangan lebih menitikberatkan pada produksi, distribusi, dan ketersediaan bahan pangan.
Sementara ilmu gizi berbicara mengenai keseimbangan nutrisi, kebutuhan kalori dan mikronutrien, keamanan pangan, pencegahan stunting, hingga penyusunan standar menu yang sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran.
Dalam berbagai literatur kesehatan masyarakat, keberhasilan program makan bergizi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya bahan pangan, tetapi juga kualitas kandungan gizi, keamanan makanan, sistem pengawasan mutu, serta evaluasi dampaknya terhadap status gizi penerima manfaat.
Karena itu, Emrus menilai kompetensi di bidang gizi menjadi salah satu syarat penting bagi pemimpin BGN.
Selain kompetensi, Emrus juga menekankan pentingnya independensi politik.
Menurutnya, Kepala BGN sebaiknya tidak memiliki afiliasi terhadap kekuatan politik tertentu agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat.
"Jika dia bagian dari kekuatan politik, maka cenderung tersandra oleh kekuatan partai tersebut. Akibatnya, kebijakan yang dibuat dan program yang dijalankan menjadi tidak independen. Sulit mengedepankan kepentingan rakyat dalam pemenuhan gizi dengan tepat sasaran," katanya.
Diketahui, sebelum masuk kabinet, Sudaryono merupakan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah dan dikenal sebagai salah satu orang dekat Presiden Prabowo Subianto.
Namun demikian, pemerintah memiliki pertimbangan berbeda dalam menunjuk Sudaryono memimpin BGN.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan Presiden Prabowo memilih Sudaryono karena telah mengikuti proses penyusunan konsep MBG sejak awal. Selain itu, pengalamannya sebagai Wakil Menteri Pertanian dinilai berkaitan erat dengan penyediaan bahan baku program makan bergizi, mulai dari beras, telur, ayam, susu, hingga komoditas pangan lainnya.
Dengan kata lain, pemerintah melihat pengalaman Sudaryono pada sisi hulu penyediaan pangan sebagai modal penting untuk mempercepat implementasi MBG.
Emrus mengatakan, selain kompetensi di bidang gizi dan independensi politik, Kepala BGN juga harus memiliki kepemimpinan dan kemampuan manajerial yang profesional, berpihak kepada rakyat, serta integritas yang telah teruji.
Menurut dia, lima aspek tersebut menjadi prasyarat agar BGN mampu menjalankan mandat besar memperbaiki kualitas gizi masyarakat melalui Program Makan Bergizi Gratis.
"Kalau salah satu atau lebih dari lima poin itu belum terkelola dengan baik, amat sulit BGN dan MBG berjalan mencapai tujuan ideal adanya institusi ini. Bisa saja masalah-masalah yang pernah terjadi muncul kembali, misalnya keracunan murid karena MBG maupun munculnya korupsi baru," ujar Emrus.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa tantangan BGN ke depan bukan hanya memastikan jutaan paket makanan tersalurkan setiap hari, tetapi juga menjamin kualitas gizinya, keamanan pangan, akuntabilitas anggaran, serta ketepatan sasaran penerima manfaat.
Dengan latar belakang Sudaryono yang kuat di bidang pertanian dan manajemen, efektivitas kepemimpinannya di BGN akan sangat ditentukan oleh kemampuannya membangun kolaborasi dengan pakar gizi, kesehatan masyarakat, keamanan pangan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berhasil dari sisi distribusi, tetapi juga mencapai tujuan utamanya, yakni meningkatkan status gizi masyarakat Indonesia.
Kepala BGN Sudaryono menegaskan program MBG merupakan komitmen politik yang tidak bisa dihentikan atau dibubarkan.
Hal itu disampaikan Sudaryono saat melakukan doorstop perdana di Kantor BGN, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026), menanggapi adanya kritik yang meminta program tersebut dihentikan.
Baca juga: DPR Minta Sudaryono Benahi Tata Kelola MBG, Ini 4 PR-nya
Sudaryono menjelaskan bahwa MBG bukan sekadar program biasa, melainkan mandat langsung dari rakyat melalui kemenangan Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden.
“Makan Bergizi adalah tender politiknya Presiden Prabowo. Direncanakan jauh-jauh hari, disampaikan di momen kampanye, dan kemudian beliau terpilih jadi Presiden,” ujar Sudaryono lantang dihadapan awak media.
Mantan Wakil Menteri Pertanian ini menyebut aspirasi yang meminta program MBG dihentikan atau menuntut pembubaran BGN adalah hal yang keliru dan bukan merupakan ranah kewenangannya.
“Kalau misalnya ada yang atas nama kritik kemudian kritiknya sama dengan misalnya ‘hentikan’ atau ‘bubarkan MBG’, ‘bubarkan BGN’, saya kira itu bukan kritik. Bukan ranah kami untuk hentikan atau membubarkan BGN ya,” tegasnya.
Sudaryono menambahkan, fokus utama badan yang ia pimpin saat ini bukanlah memperdebatkan keberlanjutan program, melainkan memastikan pelaksanaannya berjalan dengan aman dan tepat sasaran.
“Sehingga yang kami lakukan fokusnya adalah perbaikan tata kelola, menyediakan gizi yang baik dan aman bagi anak-anak kita, bagi ibu hamil, menyusui dan lansia,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan keberadaan MBG diharapkan mampu memberikan dampak domino yang positif bagi kesejahteraan masyarakat kecil, terutama di wilayah pedesaan.
“Ini adalah program dari rakyat dan akan diberikan kepada rakyat ya,” pungkas Sudaryono.
Baca juga: Suasana Kantor BGN Setelah Sudaryono Dilantik Prabowo: Dipadati Kendaraan, Ada Truk TNI Siaga
Sudaryono Resmi Jadi Kepala BGN Gantikan Nanik
Presiden Prabowo Subianto melantik Sudaryono sebagai Kepala BGN di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (22/7/2026). Selain Sudaryono, turut dilantik pula Marsekal TNI Purnawirawan Donny Ermawan dan Profesor Yos Sunitiyoso sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia.
Sudaryono berdiri di samping kanan kemudian disusul Donny dan Profesor Yos. Ketiganya kompak mengenakan setelan jas dan songkok hitam dibalut dengan dasi biru.
Pengangkatan Sudaryono sebagai Kepala BGN berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional.
Sementara pengangkatan Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia.
Berdasarkan pantauan Tribunnews di lokasi pelantikan, ketiganya tampak seksama mengikuti pelantikan. Sudaryono dan dua lainnya ikut mengucapkan sumpah yang dibacakan Presiden.
“Ini suatu amanah besar karena memang program makan bergizi gratis ini adalah program besar, grande, dan satu di antara program prioritas pemerintahan Bapak Prabowo Subianto dan Pak Gibran Rakabuming Raka,” kata Sudaryono.
Presiden menunjuk Sudaryono sebagai Kepala BGN untuk menggantikan Nanik S Deyang yang mundur dari jabatannya. Sudaryono dilantik Presiden Prabowo sebagai Kepala BGN definitif. Ia sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian.
Nanik S. Deyang mundur dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional. Pengunduran diri Nanik disampaikan melalui media sosialnya pada hari ini, Rabu (22/7/2026). Nanik mengundurkan diri karena masalah kesehatan sehingga harus menjalani pengobatan sakit jantung di luar negeri.
Dalam unggahannya di media sosial, Nanik membocorkan calon sosok penggantinya. Menurut Nanik, penggantinya adalah sosok yang sudah ia anggap sebagai adik.
“Insyallah pengganti saya adalah “adik saya” dimana saya bisa menjewer kalau misalnya terjadi hal-hal yg menyimpang,” kata Nanik.
(Tribunnews.com/ Chrysnha, Alfarizy Ajie)