TRIBUNTRENDS.COM - Insiden keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, dengan korban yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga ibu hamil dan menyusui.
Peristiwa tersebut diketahui terjadi pada Selasa (21/7/2026) setelah sejumlah penerima manfaat MBG mengalami gejala gangguan kesehatan usai menyantap menu yang diberikan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, tercatat sebanyak 115 orang mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan.
Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, menyampaikan bahwa dari jumlah tersebut, sebanyak 105 orang telah melaporkan kondisi mereka melalui formulir pendataan.
"Terakhir ada 115 orang yang bergejala, namun yang melaporkan melalui pengisian formulir ada 105 orang," katanya ditemui di Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Kulon Progo, Rabu (22/07/2026).
Dari 105 laporan yang masuk, mayoritas korban merupakan pelajar dengan jumlah mencapai 98 orang.
Para siswa yang terdampak sebagian besar berasal dari SMPN 3 Wates, sementara korban lainnya merupakan siswa sekolah dasar (SD).
Baca juga: Antisipasi Keracunan MBG, Program Lumbung Mataraman Yogyakarta Manfaatkan AI, Maksimalkan Manfaat
Selain pelajar, insiden tersebut juga dialami oleh empat orang tenaga kependidikan (tendik), dua ibu menyusui (busui), serta satu ibu hamil (bumil).
Kelompok ibu hamil dan menyusui tersebut merupakan penerima manfaat MBG dalam program 3B yang mencakup Bumil, Busui, dan Balita.
Mereka mendapatkan distribusi makanan bergizi melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai bagian dari sasaran program tersebut.
Meski ikut terdampak, kondisi ibu hamil dan menyusui yang mengalami gejala keracunan masih tergolong ringan.
"Beruntung gejala yang dialami oleh ibu hamil dan ibu menyusui tersebut tidak berat," ujar Susilaningsih.
Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sleman menyampaikan tanggapan resmi terkait dugaan kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kulon Progo.
Kejadian yang berdampak pada ratusan warga tersebut mendapat perhatian serius dari pihak KPPG Sleman.
Kepala KPPG Sleman, Harsono Budi Waluyo, menyampaikan rasa prihatin sekaligus memastikan langkah penanganan segera dilakukan.
“Kami telah mengambil langkah cepat sebagai bentuk kehati-hatian dan perlindungan terhadap penerima manfaat,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Sebagai bentuk pencegahan, KPPG Sleman memutuskan menghentikan sementara aktivitas SPPG Karangwuni hingga seluruh proses pemeriksaan dan investigasi dinyatakan selesai.
Harsono menjelaskan, pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Dinas Kesehatan, serta Puskesmas setempat untuk mempercepat penanganan kasus tersebut.
Selain itu, sejumlah sampel turut dikumpulkan untuk memastikan penyebab kejadian, mulai dari makanan yang disajikan, bahan baku, air, hingga berbagai sampel pendukung lainnya.
Seluruh sampel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut guna mendapatkan hasil yang akurat.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya memastikan keamanan makanan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Baca juga: Diduga Keracunan MBG, 27 Siswa SMPN 3 Wates Yogyakarta Dibawa ke Puskesmas, Mual, Diare hingga Demam
Sekretaris Disdikpora Kulon Progo, Nur Hadiyanto, menyebut kasus pelajar terdampak paling banyak terjadi di SMPN 3 Wates.
Dari 382 siswa, sebanyak 115 pelajar mengalami keluhan kesehatan berupa mules hingga diare.
Namun, hanya 27 siswa yang harus dirujuk ke Puskesmas Wates untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Setelah diperiksa, seluruh siswa tersebut diperbolehkan kembali ke sekolah dan dijemput oleh orang tua masing-masing.
Tidak ada pelajar yang menjalani rawat inap, sementara kondisi mereka mulai membaik sejak Selasa siang.
“Hari ini aktivitas pembelajaran sudah berjalan seperti biasa,” ujar Nur Hadi.
Harsono meminta masyarakat menunggu hasil investigasi resmi terkait penyebab kejadian tersebut.
Ia mengingatkan agar tidak ada pihak yang membuat kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
“Seluruh pihak diharapkan tidak menyimpulkan sebelum hasil laboratorium diterbitkan,” tegasnya.
Di sisi lain, BGN turut memberikan pendampingan kepada para penerima manfaat yang mengalami keluhan kesehatan.
Penanganan terus dilakukan untuk memastikan kondisi para pelajar tetap terpantau.
Pihak terkait juga berkoordinasi guna mengungkap penyebab kejadian secara menyeluruh.
(TribunTrends/Ninda)