TRIBUN-PAPUA.COM, YAHUKIMO — Kelompok pemberontak bersenjata mengatasnamakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) - Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali melakukan aksi keji terhadap warga sipil.
Mereka mengeksekusi mati tiga warga sipil Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Aksi pembantaian sadis tersebut dilakukan di ruas Jalan Trans Papua, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo.
Pihak Markas Pusat Komnas TPNPB-OPM secara terang-terangan mengklaim bertanggung jawab atas penembakan mematikan tersebut.
Baca juga: Organisasi Papua Merdeka Klaim Tembak Mati 3 Orang di Yahukimo, TNI Tegaskan Korban Warga Sipil
Berdasarkan video viral di media sosial, tiga korban tewas terdiri dari sepasang suami istri dan seorang wanita.
Identitas korban diketahui bernama Kumis Kogoya bersama istrinya, serta seorang perempuan lainnya dari Suku Unaukam.
Aksi keji tersebut sempat direkam dan beredar dalam bentuk rekaman video.
Pada video pertama, tampak sepasang suami istri dieksekusi mati oleh kelompok OPM pimpinan Kopitua Heluka.
Sementara pada video kedua, terlihat seorang wanita berbaju hitam turut dieksekusi mati dengan dalih serupa.
Dalam melancarkan aksinya, para anggota TPNPB-OPM tampak bersenjata api jenis bolt-action yang diduga berkaliber 5,56 mm.
Kelompok ini dikenal kerap melakukan tindakan punitif dan main hakim sendiri terhadap warga sipil yang dituduh secara sepihak sebagai kolaborator atau informan aparat keamanan.
Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom menyatakan, penembakan dilakukan oleh kelompok pimpinan Kopitua Heluka, Komandan Operasi Kodap XVI Yahukimo, yang berkolaborasi dengan TPNPB Kodap III Ndugama Darakma dari Battalion Wosem.
"Mayor Kopitua Heluka melaporkan tiga orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia dieksekusi mati. Kami siap bertanggung jawab," ujar Sebby dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).
Sebby mengklaim pihaknya mengantongi bukti bahwa ketiga korban terlibat membantu aparat keamanan dalam operasi militer di wilayah tersebut.
Selain itu, TPNPB-OPM turut menyampaikan ancaman kepada warga lokal agar tidak menjadi informan atau agen intelijen bagi TNI-Polri.
Tudingan TPNPB-OPM yang menyebut ketiga korban merupakan mata-mata TNI-Polri langsung dibantah keras oleh pihak militer.
Komando Operasi (Koops) TNI Habema menegaskan seluruh korban merupakan murni warga sipil biasa yang tak berdosa, bukan anggota intelijen aparat keamanan.
Baca juga: Yahukimo Mencekam, Gubernur Papua Pegunungan Desak Pemda dan TNI-Polri Bertindak Tegas
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M Wirya Arthadiguna mengatakan, pembunuhan terhadap warga sipil adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan atas alasan apa pun.
"Kehilangan warga sipil akibat tindak kekerasan merupakan tragedi kemanusiaan. Setiap masyarakat Papua berhak hidup aman dan membangun masa depan tanpa rasa takut," tegas Wirya.
Saat ini, aparat gabungan TNI-Polri telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penyelidikan intensif, pengejaran, serta penegakan hukum tegas terhadap kelompok OPM pelaku pembunuhan berencana tersebut. (*)