TRIBUNSTYLE.COM - Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan mantan Direktur Utama PD Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya periode 2016–2024, Choirul Anwar, sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan keuangan perusahaan.
Penyidik menduga terjadi penyalahgunaan anggaran yang menyebabkan kerugian keuangan negara sekitar Rp10,2 miliar. Kejati Jatim juga telah menahan tersangka sejak Selasa (21/7/2026).
Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jawa Timur, I Gede Punia Atmaja, mengatakan penetapan tersangka dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Nomor KEP-863/M.5/Fd.2/07/2026 tertanggal 21 Juli 2026.
"Tim Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Timur telah menetapkan satu orang tersangka, yakni CA (Choirul Anwar) selaku (mantan) Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya," kata I Gede Punia Atmaja di Surabaya, Rabu (22/7/2026).
Baca juga: Kuenya Saya Lempar ke Tanah Ketua DPRD Kabupaten Bone Bantah Aniaya Staf Usai Dilaporkan Polisi
Pelaku diduga menyalahgunakan wewenang, atau melakukan perbuatan melawan hukum, antara rentang waktu 2016 sampai 2024.
“Menggunakan uang anggaran PDTS KBS guna pengeluaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya, atau fiktif, serta kepentingan pribadi Saudara CA,” terang I Gede Punia.
Modusnya, lanjut CA, dengan cara memerintahkan saksi Staf Keuangan Bidang Departemen Accounting and Finance, untuk mengeluarkan uang anggaran dan memerintahkan untuk membuat pertanggungjawaban.
“Tujuannya agar seolah-olah uang tersebut benar-benar dipergunakan untuk kegiatan operasional perusahaan,” urainya
“Terhadap perbuatan ini telah mengakibatkan kerugian keuangan negara PDTS KBS kurang lebih sebesar Rp 10,2 Miliar. Hal ini adalah berdasarkan hasil perhitungan sementara dengan BPKP Provinsi Jawa Timur,” sebutnya.
Selain merugikan kerugian keuangan negara, perbuatan tersangka juga membuat wahana Kebun Binatang Surabaya, menjadi tidak berkembang.
“Fasilitas tidak terawat dengan baik, kotor, rusak, kemudian hewan-hewan juga berdampak kurang sehat, kurus, cenderung mati, dan tidak terdapat penanganan yang baik karena salah satu modusnya adalah tentang pakan binatang,” tandasnya..
Foto-foto satwa kurus dan sakit di Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang kembali beredar di media sosial.
Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PD TS KBS) membantah foto-foto satwa kurus dan sakit yang kembali beredar di media sosial merupakan kondisi terkini di Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul mencuatnya dugaan korupsi dana operasional dan pakan satwa yang menjerat mantan Direktur Utama PD TS KBS, Choirul Anwar.
Kepala Seksi Humas KBS Lintang Ratri Sunarwidhi mengatakan, foto-foto yang beredar merupakan dokumentasi sebelum 2010, saat pengelolaan kebun binatang belum berada di bawah Pemerintah Kota Surabaya.
"Foto-foto itu diambil sebelum tahun 2010, bukan kondisi satwa saat ini," kata Lintang saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, sejak berdiri KBS telah mengalami beberapa kali perubahan pengelolaan, mulai dari dikelola perkumpulan, kemudian berada di bawah pengelolaan sementara Yayasan Kebun Binatang Surabaya, hingga akhirnya diambil alih Pemerintah Kota Surabaya dan dikelola melalui PD TS KBS.
Menurut dia, setelah berada di bawah pengelolaan Pemkot Surabaya, berbagai aspek pengelolaan satwa terus diperbaiki, mulai dari infrastruktur, kandang, hingga standar pemberian pakan.
"Dari Pemerintah Kota Surabaya inilah KBS menjadi lebih baik. Baik dari infrastruktur, kandang dan sebagainya. Pakan-pakan disesuaikan dengan standarnya. Sudah kita lakukan sesuai dengan pengawasan tadi," ujarnya.
Lintang mengakui salah satu foto yang kembali beredar memang memperlihatkan seekor harimau dalam kondisi kurus.
Namun, menurut dia, peristiwa itu terjadi lebih dari satu dekade lalu.
"Jadi kami akui memang ada harimau yang kurus sekali pada saat itu. Harimau itu dulu adalah sumbangan warga yang ternyata sebelumnya terbiasa makan nasi rawon, sehingga mengalami gangguan pencernaan dan akhirnya sakit. Saat itu sempat menjalani perawatan di KBS," katanya.
Kondisi Satwa Membaik Ia menyayangkan foto-foto lama tersebut kembali ramai dibagikan di media sosial sehingga menimbulkan kesan seolah menggambarkan kondisi satwa saat ini.
"Kami sesalkan sekali gambar-gambar yang sangat lama itu muncul kembali. Padahal pengawasan dari Pemerintah Kota Surabaya itu luar biasa," ujarnya.
Menurut Lintang, kondisi satwa saat ini jauh lebih baik karena pemberian pakan, suplemen, pemeriksaan kesehatan, serta perawatan kandang dilakukan sesuai standar operasional.
Ia menambahkan, setiap tahun KBS juga mengajukan peningkatan infrastruktur kepada Pemerintah Kota Surabaya melalui Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
"Dan itu mesti ada plannya. Secara bertahap kami akan melakukan perbaikan-perbaikan sesuai yang telah ditetapkan," katanya.
Lintang memastikan tidak ada satwa yang mengalami kematian akibat kekurangan pakan. "Kalau untuk kasus satwa meninggal karena misalnya sudah tua itu hal yang wajar. Tapi kalau meninggal karena kekurangan pakan itu tidak ada," tegasnya.
Ia juga memastikan operasional KBS tetap berjalan normal di tengah proses hukum yang menjerat mantan direktur utama. "Satwa-satwa kami saat ini dalam kondisi sehat, tidak terpengaruh, pengunjung juga tidak terpengaruh," ujarnya.
Menurut Lintang, manajemen akan terus meningkatkan kualitas pelayanan, baik bagi satwa maupun pengunjung. "Kami akan bahkan meningkatkan lebih baik lagi. Pelayanan kepada pengunjung juga demikian," pungkasnya.