Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra
TRIBUNBEKASI.COM, RAWALUMBU- Puluhan warga diduga menjadi korban penipuan berkedok penjualan sembako dengan harga jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran di Jalan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.
Diduga lebih dari 10 orang mengaku mengalami kerugian dengan total nilai yang diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.
Dugaan kasus tersebut kini telah dilaporkan ke Polres Metro Bekasi Kota pada Kamis (23/7/2026).
Kuasa hukum para korban, Wesly Sitohang, mengatakan pihaknya dipercaya mendampingi sejumlah korban yang melaporkan seorang perempuan berinisial NJ (29) atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan.
Dalam menjalankan aksinya, NJ diduga menawarkan beragam kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, dan gula dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran.
Selisih harga yang ditawarkan pun cukup banyak dengan harga pasar.
Sehingga hal itu yang membuat banyak orang tertarik membeli untuk dijual kembali.
"Bahwa harga itu jauh di harga pasaran sehingga tertarik para korban, bisa berkisar Rp 40 ribu selisihnya," kata Wesly di lokasi, Kamis (23/7/2026).
Berdasarkan pengakuan para klien, Wesly menjelaskan pada awal transaksi antara NJ dengan customer, seluruh pesanan berjalan lancar.
Barang yang dipesan selalu dikirim sehingga korban semakin yakin untuk meningkatkan nilai pembelian.
Pengiriman barang disebut berlangsung rata-rata sejak 1 Juni - 6 Juni 2026, sebelum akhirnya berhenti pada 21 Juni 2026.
"Pada awalnya transaksi itu berjalan lancar. Setelah empat kali, kemudian kelima kali mulai tidak lancar, dan alasannya tidak turun PO dari pabrik atau mobilnya rusak," jelasnya.
Terkini, Wesly menuturkan tiga orang telah membuat Laporan Polisi (LP), yakni atas nama Retno, Neneng Rohmania, dan Sriwatia.
Mereka melaporkan dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan yang diduga dilakukan oleh NJ.
"Kalau yang dari korban ini sekira hampir diatas 10 orang yang mengaku rugi. Tapi yang baru laporan ada tiga orang, total keselurahannya kerugian ada sekira Rp 1,5 miliar," tuturnya.
Wesly menyampaikan, terduga para korban mengetahui penawaran tersebut melalui beragam cara.
Sebagian mendapat informasi dari keluarga atau kenalan, sementara lainnya melihat promosi melalui status WhatsApp milik terlapor.
Kemudian, sebagian terduga korban merupakan tetangga terlapor di wilayah Pengasinan.
Lalu ada pula terduga korban yang dikenalkan oleh orang lain yang lebih dahulu bertransaksi.
"Ada sebagian yang kenal karena tetangga di Pengasinan. Ada yang dikenalkan oleh orang lain," ucapnya.
Wesly merincikan, rata-rata korban mengalami kerugian sekitar Rp100 juta.
Sementara itu, ada satu korban bernama Tia mengaku mengalami kerugian terbesar yang mencapai lebih dari Rp200 juta.
Mayoritas terduga korban merupakan pedagang maupun sub agen yang melihat peluang keuntungan dari selisih harga sembako yang ditawarkan.
"Paling besar itu Rp 200 juta lebih. Tapi kan kalau berbicara rata-rata itu kami ambil rata-rata Rp 100 juta. Meskipun ada yang Rp 120 juta, Rp 70 juta, dan Rp 47 juta," rincinya. (M37)