TRIBUNMANADO.CO.ID - Ibu adalah kata terindah di bibir manusia.
Begitu kata Khalil Gibran, sang pujangga agung dari Lebanon.
Ibu juga kata terindah di Piala Dunia 2026.
Nama ibu dimuliakan di sepanjang gelaran akbar empat tahunan itu.
Di partai final kita menyaksikan para pemain Spanyol yang memenangkan piala dunia merengkuh surga di bawah telapak kaki para ibu mereka.
Begitu beroleh medali kemenangan, Nico Williams, sayap kiri Spanyol, langsung berlari ke arah tribun penonton.
Ia menyerahkan medali itu kepada sang ibu yang berdiri di tepi pagar.
Kamera mengabadikan momen itu, dan saya yang menyaksikan laga itu dalam nonton bareng (nobar/noreng) di kawasan Mega Mas, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dibuat terharu.
Apalagi di noreng itu banyak ibu yang membawa anak mereka.
Saya kira ratusan juta atau miliaran orang di seluruh dunia yang menyaksikan laga itu juga merasa sesak di dada dan ingin mengeluarkan air yang mendadak terasa di pelupuk mata.
Di atas tropi Piala Dunia ada piala cinta kasih yang dipersembahkan anak yang telah sukses terhadap ibunya.
Williams tak pernah lupa dengan perjuangan sang ibu saat melintasi Gurun Sahara dalam perjalanan migrasi dari Ghana ke Spanyol.
Di bawah suhu hampir 40 derajat celsius, sang ibu yang tengah mengandung Inaki, kakak dari Nico, berjalan kaki, kadang berlari, paling beruntung berdesak-desakan di atas truk, demi mengubah nasib anak anaknya.
Nico berlari cepat dalam partai final melawan Argentina.
"Namun tidak secepat ibuku saat melarikan diri dari kematian, ia menyeberangi gurun tanpa alas kaki," kata dia.
Sebagai seorang Katolik yang taat, cinta pada ibu juga wujud dari cinta pada Tuhan.
Sebagaimana bunyi salah satu pasal sepuluh hukum Allah.
"Hormatilah ayah dan ibumu," kata dia.
Fabian Ruiz, gelandang elegan Spanyol, memeluk ibunya di tengah seremoni penyerahan trophy Piala Dunia.
Gaya Ruiz mencolok.
Ia seakan hendak mengatakan.
"Inilah pahlawanku," katanya.
Ibunya membesarkan Ruiz seorang diri.
Chari Pena, ibunda Ruiz, bekerja sebagai petugas kebersihan di Akademi Real Betis
saat Fabian berlatih sepakbola di klub itu.
Chari melakukannya untuk menghidupi keluarga serta agar dapat terus mendampingi sang anak mengejar mimpinya.
Chari bekerja sejak pukul 7 pagi hingga malam.
Setiap keringat dan air mata sang ibu, diubah Tuhan menjadi permata lewat prestasi Fabian Ruis di sepakbola.
Dan Ferran Torres, sang pencetak gol semata wayang kemenangan Spanyol atas Argentina, tiada mengunggah foto lain, selain fotonya bersama sang ibu di hari bersejarah itu.
"Selamat hari ibu," kata dia.
Ferran memang sangat dekat dengan sang ibu.
Ia gemar memposting fotonya bersama sang ibu dalam berbagai kesempatan.
Dan akhirnya kisah Vozinha.
Kiper Cape Verde yang viral ini kedapatan menangis setelah tampil sebagai bintang timnya saat mengimbangi Spanyol di babak penyisihan.
Vozinha menangis karena tak ada sang ibu di sisinya saat ia sukses.
Sang ibu hanya ada saat ia menderita.
Sang ibu berjuang demi Vozinha.
Kenyataan ini membuatnya menangis.
Dunia mendengar tangis Vozinha.
Amerika Serikat memudahkan urusan Visa sang ibu dan sejumlah donatur memberikan bantuan biaya keberangkatan.
Cape Verde akhirnya takluk dari Argentina.
Tapi Vozinha boleh tersenyum.
Karena sang ibu di sisinya.
Pada akhirnya Piala Dunia 2026 berbicara pada kita semua, tropi setinggi apapun, puncaknya tetaplah berada di bawah telapak kaki ibu.
Ketika dunia modern hari ini sibuk mengejar tahta dan materi, para pesepak bola ini justru pulang ke akar terdalam kemanusiaan.
Sebab mereka tahu, di dunia yang bising ini, doa ibulah yang paling nyaring didengar Tuhan.
(Tribun Manado/Arthur Rompis)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK