TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Perekonomian Indonesia tetap resilien di tengah gejolak global efek kondisi geopolitik Timur Tengah, tepatnya perang AS-Israel vs Iran.
Ketahanan perekonomian Indonesia tercermin pada Pertumbuhan Ekonomi (PE) yang terjaga.
Kondisi ini didukung permintaan domestik yang solid serta akselerasi konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga serta investasi dan ekspor.
Begitu pun kondisi ekonomi di Sulawesi Utara.
Meskipun masih berada di tengah kondisi serba tak pasti, BI memandang perekononian Sulawesi Utara sejalan dengan nasional.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara Joko Supratikto mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Sulut di triwulan kedua 2026 diprediksi menguat.
"Targetnya di tentang 5,4 hingga 6,3 persen year on year," kata Joko dalam Sinergi dan Jalin Komunikasi dengan media, Selasa (21/7/2026) malam.
Menurutnya, ekonomi Sulawesi Utara masih ditopang oleh lapangan usaha pertanian, belanja pemerintah serta ekspor sebagai katalisator pertumbuhan yang dominan.
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada pada tingkat ketidakpastian relatif besar.
Hal ini dipicu perang Timur Tengah (AS-Israel vs Iran) yang berdampak pada pasokan minyak dunia.
Terganggunya pasokan minyak dunia sangat berpengaruh pada kondisi ekonomi global, termasuk Indonesia.
Sejalan dengan tekanan inflasi global yang kian meningkat, preferensi investor dunia masih mengarah pada safe-haven assets.
Hal ini mengakibatkan Indeks dollar AS tetap kuat dan aliran modal ke emerging market--negara berkembang seperti Indonesia--masih terbatas.
"Ini meningkatkan risiko tekanan tekanan nilai tukar," jelasnya.
Dalam kondisi demikian, BI terus melakukan berbagai langkah stabilisasi kebijakan untuk menjaga ketahanan ekonomi dan stabilitas rupiah.
BI berupaya menjaga agar cadangan devisa tetap memadai dan aliran modal masuk ke instrumen domestik.
Terkait itu, BI mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas valas dan aliran modal masuk.
Langkah-langkah tersebut, yakni:
Peningkatan Suku Bunga BI Rate 100 BPS menjadi 5,75 persen (20 Mei 50 BPS), 9 Juni 25 BPS dan 18 Juni 25 BPS)
Sekuritas Rupiah BI. Instrumen jangka pendek oleh BI untuk menarik dana dari luar sekaligus memperkuat stabilitas rupiah. SRBI merupakan Surat Berharga yang diterbitkan BI sebagai utang jangka pendek melalui mekanisme lelang oleh BI dengan tenor 6,9 dan 12 bulan.
Akselerasi Pendalaman Pasar Valuta Asing (LCT: Local Currency Transaction), transaksi pertukaran dagang dengan negara mitra menggunakan mata uang masing-masing. Ini sudah jalan dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, UEA.
Baca juga: 2 Kasus Korupsi di Sulut Terungkap, Eugenius Paransi: Kinerja Kejari di Daerah Patut Diapresias
Baca juga: Peringatan HAN di Minahasa Tenggara, Wabup Mitra Fredy Tuda Ingatkan Soal Perlindungan Anak
"Selain itu penguatan NDF jual. Ketika ada impor, pembayarannya menggunakan rupiah. Tidak lagi harus membeli dollar," jelas Joko.
Dalam penguatan intervensi NDF ini, BI menunjuk 14 bank sebagai diler utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing.
Intervensi valas dalam jumlah besar untuk stabilkan nilai tukar Rupiah dari gejolak global di pasar domestik
Menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan pertumbuhan uang primer (MO) double digit sesuai koordinasi fiskal moneter
Menurunkan batasan pembelian dolar di pasar domestik. Di mana transfer dollar ke LN tanpa underlying transaction menjadi 10 USD per pelaku per bulan mulai Juni 2026.
"Tujuannya agar pembelian dollar bukan untuk tujuan spekulatif. Rata-rata transaksi valas harian tanpa underlying turun signifikan dari 78 juta dollar per hari menjadi 62 juya dollar per hari," jelas Joko.
Meningkatkan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang melakukan transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar.
Pemberian insentif penurunan tingkat swap tingkat nilai bagi investor asing sebesar 20 persen guna semakin meningkat
Berdasarkan data BI, strategi bauran ekonomi dan stabilitasi rupiah memberi dampak positif.
Itu terlihat dalam inflow dana asing ke Indonesia pada Juni dan Juli sebesar Rp 105 triliun yang terdiri dari SRP Rp 72 T dan SBN Rp 32 triliun sekian.
"Ini sinyal positif yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap Indonesia," jelasnya.(*)