Tribunlampung.co.id, Sumatera Utara - Polisi mengamankan seorang ibu guru ASN dan suaminya inisial A terkait kasus asusila terhadap anak yatim piatu.
Pengamanan terhadap ibu guru dan suaminya tersebut dilakukan karena rumah mereka digeruduk massa yang nyaris melakukan tindakan main hakim sendiri.
Polisi bertindak cepat melakukan pengamanan karena kasus asusila ini viral di media sosial sehingga warga berdatangan ke rumah si ibu guru untuk mempertanyakan perkara asusila kepada anak SD.
Sang ibu guru disebut ikut terlibat karena menggiring korban datang ke rumah mereka. Saat berada di rumah itulah suami ibu guru, berinisial A, melakukan perbuatan tak senonoh.
Kini Polres Asahan telah mengamankan terlapor A yang diduga sebagai pelaku utama perbuatan asusila terhadap anak di Kota Tanjungbalai.
Saat ini sudah ada lima orang yang telah dimintai keterangan terhadap perkara ini, dua saksi pelapor, dua saksi terlapor, dan satu orang saksi ahli.
"Sudah kami amankan, sementara ini kami belum menetapkan tersangka. Lima orang saksi sudah diperiksa," kata Kasi Humas Polres Tanjungbalai, IPDA Muhammad Ruslan, Kamis (23/7/2026).
Dia menceritakan, kejadian bermula pada Mei 2026 lalu, terduga pelaku A memberikan korban ponsel pintar untuk bermain game.
Saat korban berbaring, terduga pelaku A menurunkan celana korban dan diduga melakukan tindakan asusila itu.
"Akibat hal tersebut, pelapor yang merupakan ibu (angkat) korban keberatan dan melaporkan kejadian tersebut," katanya dikutip dari TribunMedan.com.
Disinggung soal visum korban, Kasi Humas Polres Tanjungbalai mengaku saat ini masih didalami oleh tim Satreskrim Polres Tanjungbalai.
"Masih dalam penyelidikan. Saat ini, istri terlapor juga masih berstatus saksi," pungkasnya.
Sebelumnya, masyarakat Lingkungan 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai heboh soal penggerudukan rumah seorang guru ASN Pemko Tanjungbalai.
Ratusan masyarakat itu mendatangi rumah itu untuk mempertanyakan soal beredarnya isu pencabulan yang dilakukan oleh suami istri terhadap seorang anak yatim piatu yang masih duduk dibangku kelas lima sekolah dasar.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungbalai mengaku salah satu yang diamankan dari amukan massa di Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai terkait dugaan kekerasan seksual terhadap anak adalah guru P3K.
Menurut kepala dinas pendidikan Kota Tanjungbalai, Bukhori Ginting menerangkan, pihaknya telah melakukan klarifikasi terhadap kasus tersebut.
"Terkait hal ini yang sudah viral, sebenarnya kami sudah melakukan proses sebelum peristiwa ini terjadi. Yang pertama, kepala sekolah akhir Juni kemarin sudah menyampaikan kepada kami. Kami tindaklanjuti dengan memanggil kepala sekolah untuk dimintai keterangan," ujar Kadis Pendidikan Kota Tanjungbalai, Bukhori Ginting, Kamis (23/7/2026).
Setelah mendapatkan informasi awal, Dinas Pendidikan Kota Tanjungbalai mengaku telah melakukan pemanggilan terhadap keluarga korban dan terduga pelaku.
"Dapat kami sampaikan, bahwasanya permasalahan ini tidak melibatkan langsung kepada guru kami tersebut, tapi belakangan desas desusnya masyarakat berdasarkan asas praduga tak bersalah mereka mengaitkan dalam masalah tersebut," ungkapnya.
Selanjutnya, menindaklanjuti informasi tersebut, dinas mengambil keterangan dari keluarga korban.
"Dari keterangan keluarga korban, guru tersebut terindikasi terlibat dalam permasalahan ini. Sehingga kami melakukan pemanggilan terhadap yang bersangkutan," ungkapnya.
Akibatnya, pihaknya berkolaborasi bersama BKPSDM dan Inspektorat Kota Tanjungbalai untuk menindaklanjuti perkara ini.
"Berdasarkan klasifikasi kami dengan keluarga korban, pengakuannya guru tersebut ikut menggiring korban untuk datang ke rumahnya. Kemudian, dirumah beliau terjadilan perbuatan tersebut," katanya.
Ia mengatakan berdasarkan keterangan orang tua murid, pelaku utamanya adalah suami dari guru SD tersebut.
Viral di media sosial masyarakat menggeruduk rumah seorang guru di Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai terkait dugaan pelecehan seksual terhadap anak.
Korban yang merupakan anak yatim piatu yang kini hidup bersama ibu angkatnya diduga mendapatkan perbuatan cabul dari terduga pelaku.
Sekretaris Desa Asahan Mati, Kecamatan Tanjungbalai, Kabupaten Asahan, Antoni Alexander Siregar mengaku, kejadian ini terungkap setelah korban mengeluhkan sakit kepada neneknya.
"Jadi ibu (angkat) korban melaporkan kejadian ini pada 19 Mei 2026, kemudian tiga atau empat bulan sebelumnya korban sering mengeluhkan sakit. Setelah ditanyakan secara pribadi, korban mengaku ada dilakukan kekerasan seksual yang disebutnya ayah Tondi (terduga pelaku) terhadap korban," ujar Sekdes Asahan Mati, Antoni Alexander Siregar, Kamis (23/7/2026).
Katanya, setelah mendapatkan laporan tersebut, pihaknya langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polres Tanjungbalai untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut.
"Karena ini tindaklanjutnya lama, sehingga menyebar ke orangtua murid. Dimana suami ini adalah pelaku, kemudian istri adalah seorang tenaga pendidik. Jadi dianggap, merusaklah untuk dunia pendidikan," katanya
Kekhawatiran orang tua siswa dan masyarakat terhadap terduga pelaku karena anak-anak masih bersekolah di lokasi tempat ia mengajar.
"Kalau warga sini cuma memantau aja, yang di sana itu dominan memang orang tua siswa. Jadi mereka khawatir saat anaknya bersekolah di sana," ujarnya.
Sebelumnya, masyarakat Lingkungan 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai heboh soal penggerudukan rumah seorang ASN Pemko Tanjungbalai.
Ratusan masyarakat itu mendatangi rumah itu untuk mempertanyakan soal beredarnya isu pencabulan yang dilakukan oleh suami istri terhadap seorang anak yatim piatu yang masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.
Masyarakat Lingkungan 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai heboh soal penggerudukan rumah seorang ASN Pemko Tanjungbalai.
Ratusan masyarakat itu mendatangi rumah itu untuk mempertanyakan soal beredarnya isu pencabulan yang dilakukan oleh suami istri terhadap seorang anak yatim piatu yang masih duduk dibangku kelas lima sekolah dasar.
Kepala lingkungan 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Sadam Husein Hasibuan membenarkan peristiwa penggerudukan tersebut.
"Benar adanya terjadi keramaian disini terkait sepasang suami istri yang diduga melakukan pelecehan terhadap anak di bawah umur," kata Kepling 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung.
Ia mengaku, tidak mengetahui secara pasti peristiwa pencabulan tersebut, namun masyarakat berbondong-bondong mendatangi rumah oknum guru tersebut.
"Kalau kericuhan ini diduga akibat adanya adu argumen, sehingga masyarakat berdatangan. Kalau yang kami lihat, ini masyarakat sekitar yang datang kesini," ujarnya.
Ia mengaku, kasus ini sudah viral di media dan amarah masyarakat tidak dapat terbendung.
"Kami juga tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba masyarakat berbondong-bondong datang kerumah itu, tapi mungkin berdasarkan keyakinan saya mungkin karena sudah viral," katanya.
Ia mengaku, saat ini keduanya sudah diamankan dari kemarahan masyarakat ke Polres Tanjungbalai.
Sebelumnya, kemarahan masyarakat Kota Tanjungbalai tak dapat terelakan lagi.
Pasalnya, laporan dugaan pelecehan seksual terhadap anak yang diduga dilakukan oleh oknum guru P3K paruh waktu di salah satu sekolah bersama suaminya di petikemaskan.
Emosi warga tak terbendung hingga menggeruduk rumah terduga pelaku Rabu (22/7/2026), di Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai.
Kemarahan masyarakat semakin memuncak setelah istri terduga pelaku masih melakukan aktivitas mengajar dan khawatir akan ada korban baru.
Beruntung pihak kepolisian berhasil mengevakuasi pasangan suami istri tersebut dan dibawa ke Polres Tanjungbalai.
Proses evakuasi berjalan dramatis, D yang merupakan suami berhasil dievakuasi masuk ke dalam mobil patroli, sedangkan A sang istri tidak sempat masuk kedalam mobil dan menjadi bulan-bulanan masyarakat hingga sempat diamankan di rumah warga.
Kini keduanya sudah berhasil dievakuasi ke Polres Tanjungbalai. Namun, masyarakat terus mengawal hingga ke halaman Polres Tanjungbalai.
Salah seorang warga, Hendra mengaku aksi masyarakat tersebut diduga memuncak akibat kekesalan terhadap hukum yang tak kunjung diterapkan.
"Kalau aku tak ikut, aku menonton saja. Cuma tadi katanya, masyarakat marah karena kasus yang sudah dilaporkan itu ga diproses-proses sama polisi," ujar Hendra saat dihubungi tribun-medan.com.
Ia mengaku, masyarakat masih mengepung Mapolres Tanjungbalai untuk melihat langsung terduga pelaku sudah diamankan.
"Tadi sampai tengah malam juga masyarakat ngumpul. Mastiin kalau mereka sudah diamankan. Satu-satu tadi disuruh masuk, untuk memastikan kalau si terduga pelaku ini sudah diamankan," katanya.
Ia berharap, ada keadilan bagi korban anak yang merupakan yatim piatu tersebut. (*)