SRIPOKU.COM - Pipit Permatasari, pemilik restoran Bake House di Palembang, berbagi kisah inspiratif mengenai perjalanan karier dan bisnisnya.
Sebelum menetap di Palembang, Pipit memiliki latar belakang perhotelan dan pengalaman kerja internasional yang kaya.
Ia pernah menjadi chef di Dubai selama tiga tahun dan di Angola selama tiga tahun.
Tidak hanya sebagai chef, Pipit juga pernah menjalani profesi sebagai pramugari di maskapai Garuda Indonesia.
"Saya bekerja sebagai chef di hotel selama tiga tahun setelah lulus kuliah," kata Pipit di Graha Tribun Palembang saat hadir di podcast Tamu Sripo, Kamis (23/7/2026).
Baca juga: Kemplang Panggang Asli Desa Bubusan Jejawi, Kuliner Legendaris OKI Paduan dari Ikan Sepat dan Betok
Pipit mengatakan, bekerja di sana sangat mengasah hasratnya dalam dunia kuliner, terutama dalam hal membuat dan mendekorasi kue.
Meski lingkungannya sangat kosmopolitan, ia menghadapi dinamika kerja yang cukup intens karena harus bekerja dengan puluhan orang dari berbagai kebangsaan.
"Di sana itu ada orang dari Afrika, Jepang, Jerman, dan Prancis. Mereka berada di dalam satu dapur, sehingga memiliki banyak "drama" tersendiri," kata Pipit.
Lantas, apa yang membuat Pipit membuka usaha restoran di Palembang?
Pada akhir tahun 2019, Pipit pulang ke Indonesia dari Afrika, negara tempat suaminya bekerja saat itu, untuk mengambil cuti.
Saat ia berada di Indonesia, pandemi COVID-19 mulai melanda, menyebabkan lockdown dan pembatasan perjalanan yang membuatnya tidak bisa kembali ke suaminya di Afrika.
Karena keluarganya berada di Bandung, ia memilih tinggal di Palembang bersama anak dan keluarga suaminya selama masa pandemi.
"Untuk mengisi waktu luang saat "terjebak" di Palembang, saya mulai membuka pemesanan (PO) kue kecil-kecilan," ungkap Pipit.
Baca juga: Gulo Puan Asli Desa Bangsal Pampangan OKI, Kuliner Bangsawan Kesultanan Palembang yang Kini Langka
Pipit mengatakan, meski awalnya hanya melalui sistem daring dan kios kecil selama 3-4 tahun, ia tetap konsisten menjaga kualitas dengan membuat semua bahan secara homemade.
Seiring berjalannya waktu, Bake House berkembang dari kios kecil menjadi restoran yang elegan.
Saat ini, Bake House telah memiliki dua cabang, yakni di kawasan Kancil Putih dan Diponegoro.
Bangunan restorannya dapat menampung hingga 300 orang untuk satu cabang dan terus melakukan inovasi fasilitas, seperti penambahan playground dan rencana area olahraga di lantai 3.
"Kunci eksistensi bisnis adalah memiliki ciri khas, terjun langsung dalam operasional, membangun interaksi yang kuat dengan pelanggan melalui media sosial, serta adanya dukungan penuh dari sang suami dalam manajemen bisnis," kata Pipit.
Simak perjalanan karir Pipit selengkapnya di sini: