Kisah Dokter Benny Saat Menemukan dr Alex Cristo Loris di Semak-semak
Nolpitos Hendri July 23, 2026 11:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Telepon yang diterima dr Benny Chairuddin, SpAn, sekitar pukul 11.30 WIB pada Selasa (14/7/2026), mengakhiri pencarian panjang terhadap dr Alex Cristo Loris yang hilang kontak sejak sehari sebelumnya.

Mendengar laporan sopir ambulans RSUD Tengku Rafian Siak, ada seseorang tergeletak di semak-semak samping rumah sakit, Benny spontan berlari menuju lokasi.

Di sanalah dr Benny dan kemudian dr Mayang menyaksikan langsung tubuh junior mereka terbaring tak bernyawa.

Baca juga: Dokter Spesialis Kejiwaan Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar Hotel di Pekanbaru dalam Posisi Duduk

Pemandangan yang diakuinya tak pernah terlintas selama pencarian berlangsung.

Dr Benny mengaku masih mengingat jelas detik-detik ketika telepon itu masuk.

Selama hampir sehari penuh, ia bersama rekan-rekannya terus mencari dr Alex, baik di dalam maupun di luar kawasan rumah sakit.

Sebelumnya, usai ikut menyisir Kota Siak hingga sekitar pukul 02.30 WIB, dr Benny sempat pulang untuk beristirahat.

Pagi harinya, sekitar pukul 06.30 WIB, ia sudah kembali ke RSUD Tengku Rafian karena harus menangani 12 pasien operasi sekaligus melanjutkan pencarian.

Meski pelayanan kepada pasien tetap berjalan, pikirannya terus tertuju kepada dr Alex yang belum juga ditemukan.

Ia kemudian meminta pihak manajemen rumah sakit memperluas pencarian secara resmi.

Seluruh kepala ruangan diminta memeriksa ruang rawat inap, ruangan kosong hingga setiap sudut rumah sakit.

Area yang sudah diperiksa pada malam hari kembali disisir saat kondisi sudah terang.

Selain itu, dr Benny bersama manajemen rumah sakit juga berupaya menelusuri jejak terakhir dr Alex melalui rekaman CCTV.

Dari rekaman kamera pengawas di lingkungan RSUD Tengku Rafian, dr Alex terakhir terlihat keluar dari rumah sakit sekitar pukul 18.00 WIB pada Senin (13/7/2026). Ia berjalan kaki sambil membawa tas selempang.

“Beliau keluar berjalan kaki membawa tas selempangnya. Masih memakai pakaian yang dipakai bekerja, tetapi sudah tidak menggunakan jas dokter,” kata dr Benny saat berbincang dengan Tribunpekanbaru.com, Kamis (23/7/2026).

Rekaman CCTV memperlihatkan dr Alex berjalan menyusuri pagar rumah sakit hingga mencapai titik kamera terakhir. Tepatnya di pintu keluar kawasan rumah sakit.

“Itu titik terakhir yang masih bisa dipantau kamera,” ujarnya.

Namun setelah itu, keberadaan dr Alex tidak lagi terekam. Menurut dr Benny, rekaman CCTV tidak menunjukkan apakah dr Alex masuk ke area semak-semak atau melanjutkan perjalanan ke arah lain.

“Tidak terlihat. Kami juga tidak pernah berpikir beliau masuk ke semak-semak. Gambarnya juga samar, apakah lanjut berjalan atau ke mana, kami tidak tahu,” katanya.

Karena itulah, keesokan paginya ia meminta manajemen rumah sakit menelusuri rekaman CCTV milik perkantoran, bank, toko, dan Ruko yang berada di depan rumah sakit.

“Apakah ada aktivitas beliau yang terekam setelah keluar dari area rumah sakit,” ujarnya.

Namun hingga menjelang siang, upaya tersebut belum menemukan petunjuk mengenai keberadaan dr Alex. Sekitar pukul 11.30 WIB, telepon dari sopir ambulans RSUD Tengku Rafian, Slamet, akhirnya masuk.

“Beliau bilang, Pak, ada orang tergeletak di semak-semak samping rumah sakit’,” kenang dr Benny.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari keluar rumah sakit menuju lokasi yang dimaksud. Sesampainya di tepi pagar, dr Benny sempat kebingungan mencari jalan masuk menuju semak-semak yang cukup lebat.

Seorang Bhabinkamtibmas yang bertugas sebagai pembina keamanan rumah sakit lebih dahulu masuk ke lokasi. Tak lama kemudian, seorang petugas keamanan rumah sakit membantu dr Benny melewati pagar pembatas hingga akhirnya dapat mencapai tempat korban ditemukan.

“Di situlah saya melihat pertama kali Dokter Alex,” ujarnya.

Pemandangan itu membuatnya terpaku. Ia mengaku sama sekali tidak pernah membayangkan pencarian yang dilakukan sejak malam sebelumnya akan berakhir di lokasi tersebut.

“Semalaman kami mencari. Tidak pernah terpikir beliau berada di situ. Saya hanya bertanya-tanya, kenapa bisa sampai berada di sana,” katanya.

Di samping tubuh dr Alex, masih terlihat tas selempang dan handsfree. Dari kondisi yang dilihat sekilas, dr Benny memperkirakan korban telah berada di lokasi tersebut lebih dari 12 jam.

Namun saat hendak mendekat, seorang anggota kepolisian langsung mengingatkannya agar tidak menyentuh tubuh korban demi menjaga keutuhan tempat kejadian perkara.

“Pak Polisi bilang jangan mendekat dulu, jangan pegang-pegang, karena nanti tim Polres akan datang,” ujarnya.

Tak lama kemudian, anggota keluarga korban mulai berdatangan. Kakak dr Alex menjadi orang pertama dari keluarga yang tiba di lokasi, disusul beberapa saat kemudian oleh istrinya.

Dr Benny kemudian menghubungi dr Mayang yang saat itu masih berada di ruang operasi. Ia meminta operasi yang belum dimulai ditunda sementara agar dr Mayang dapat mendampingi istri korban.

Namun begitu tiba di lokasi, dr Mayang langsung kehilangan ketenangan. Mayang merupakan senior dari dr Alex. 

“Dokter Mayang datang, langsung kaget, menangis, gemetar. Beliau juga syok melihat kondisi Dokter Alex,” tutur dr Benny.

Melihat kondisi rekannya itu, dr Benny meminta dr Mayang menjauh dari lokasi dan mendampingi keluarga korban agar lebih tenang.

Sementara itu, ia tetap berada di sekitar lokasi hingga tim Inafis Polres Siak datang melakukan olah tempat kejadian perkara. Setelah proses identifikasi selesai, jasad dr Alex dievakuasi menggunakan ambulans dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau di Pekanbaru untuk menjalani autopsi.

Bagi dr Benny, peristiwa itu menjadi akhir yang paling tidak pernah ia bayangkan. Sejak malam sebelumnya, ia berharap dr Alex segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Harapan itu pupus ketika ia menjadi salah seorang yang pertama menyaksikan tubuh dokter muda yang baru dua pekan dibimbingnya selama menjalani pendidikan di RSUD Tengku Rafian Siak tergeletak di dalam semak-semak.

( Tribunpekanbaru.com / Mayonal Putra )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.