Transformasi Digitalisasi Pembayaran Iringi UMKM di Jakarta Bertumbuh dan Kreatif
Wahyu Gilang Putranto July 24, 2026 02:22 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Suara dengung halus motor listrik terdengar dari sebuah bengkel di kawasan Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat.

Di tempat itu, Natsir melayani pelanggan yang kini sebagian besar tidak lagi membawa uang tunai.

“Sekarang hampir semua bayar pakai QRIS,” ujar Natsir kepada Tribunnews, Kamis (16/7/2026).

Bagi Natsir, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bukan sekadar alat pembayaran.

Sistem pembayaran yang diluncurkan Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019 itu telah menjadi bagian penting dalam perjalanan usahanya membangun bengkel motor listrik bernama Bintang Kreatif EV.

Ketertarikannya pada kendaraan listrik bermula pada 2023, ketika ia membeli motor listrik dan aktif di komunitas.

BENGKEL MOLIS - Suasana bengkel motor listrik Bintang Kreatif EV di kawasan Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (16/7/2026). 
BENGKEL MOLIS - Suasana bengkel motor listrik Bintang Kreatif EV di kawasan Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (16/7/2026).  (Tribunnews.com/Dok. Pribadi)

Dari obrolan sesama pengguna hingga rasa penasaran yang terus tumbuh, Natsir akhirnya memutuskan belajar lebih dalam, bahkan hingga ke Yogyakarta.

Empat bulan lalu, ia memberanikan diri membuka bengkel sendiri.

“Saya melihat bengkel resmi sering penuh. Pengguna butuh alternatif tempat servis karena di bengkel resmi kadang sering overload,” katanya.

Baca juga: Scan QRIS, Nonton Wayang Orang Sriwedari Solo Jadi Makin Praktis

Keputusan itu berbuah manis. Selain karena tren kendaraan listrik yang terus meningkat, Natsir juga cepat beradaptasi dengan sistem pembayaran digital.

Sejak hari pertama membuka bengkel, QRIS langsung ia terapkan.

Kini, hampir seluruh transaksi pelanggan dilakukan secara non-tunai.

“Lebih simpel, tidak ribet, dan kita juga langsung tahu pemasukan,” ujarnya.

Baginya, QRIS bukan hanya memudahkan transaksi, tetapi juga membantu mengelola keuangan usaha dengan lebih rapi.

BENGKEL MOLIS - Bengkel motor listrik Bintang Kreatif EV di kawasan Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (16/7/2026). 
BENGKEL MOLIS - Bengkel motor listrik Bintang Kreatif EV di kawasan Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (16/7/2026).  (Tribunnews.com/Dok. Pribadi)

Setiap pemasukan tercatat otomatis, tanpa perlu pembukuan manual yang rawan terlewat.

Di luar bengkel, Natsir juga memanfaatkan media sosial untuk mengembangkan usahanya melalui berbagai konten kreatif. 

Melalui konten TikTok dan Instagram yang dibuat secara organik, pelanggannya terus bertambah.

“Lumayan ramai dari media sosial sekarang ya, semua organik bukan beli followers,” katanya.

Hingga saat ini, akun TikTok bengkel Natsir telah diikuti lebih dari 7 ribu pengikut.

Konten-konten yang dibuatnya telah mendapat lebih dari 23 ribu like dari pengguna TikTok.

Pedagang Bakso Rasakan Kemudahan

Cerita serupa datang dari sudut lain Ibu Kota, tepatnya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. 

Di sebuah warung sederhana bernama Mantapz Bakso, Arie melayani pelanggan yang datang untuk menikmati semangkuk bakso hangat khas Malang.

Di meja kasirnya, tidak ada lagi tumpukan uang receh.

“QRIS sangat membantu, pembeli tidak perlu bawa uang cash banyak,” ujar Arie kepada Tribunnews, Selasa (21/7/2026)..

PELAKU UMKM - Pemilik Mantapz Bakso, Arie, di kedai miliknya yang berlokasi di Gudskul Ekosistem, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). (Tribunnews.com/Dok. Pribadi)

Ia sudah menggunakan QRIS sejak 2019, tahun-tahun awal sistem ini diperkenalkan.

Pria asal Malang, Jawa Timur itu mengaku sekitar 80 persen pelanggannya memilih membayar secara digital.

Apalagi, lokasi usahanya merupakan pusat belajar kesenian yang didominasi anak muda.

Bagi Arie, keuntungan QRIS tidak hanya dirasakan pelanggan, namun juga dirinya sebagai pedagang.

“Kami tidak perlu repot menyiapkan uang kembalian,” katanya.

Selama hampir tujuh tahun menggunakan QRIS, Arie mengaku keamanan transaksinya terjaga.

Ia belum pernah mengalami penipuan karena mengandalkan notifikasi transaksi sebagai pengaman.

“Begitu ada pembayaran, langsung masuk notifikasi. Jadi aman,” jelasnya.

USAHA LOKAL - Suasana Mantapz Bakso Malang di Gudskul Ekosistem, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).
USAHA LOKAL - Suasana Mantapz Bakso Malang di Gudskul Ekosistem, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). (Tribunnews.com/Dok. Pribadi)

Dana yang diterima pun relatif cepat bisa digunakan kembali untuk operasional.

“Kalau pagi transaksi, sore sudah bisa dipakai belanja bahan,” tambahnya.

Rambah Toko Kelontong 

Dari Jakarta Timur, Puput Anjani Lestari merasakan sisi lain dari digitalisasi ini. 

Di warung kelontong miliknya di kawasan Lubang Buaya, QRIS sudah menjadi bagian dari keseharian sejak ia membuka usaha pada 2025.

“Sekarang sekitar 70 persen pembeli sudah cashless,” ujarnya kepada Tribunnews, Senin (20/7/2026).

DIGITALISASI TOKO KELONTONG - Sebuah toko kelontong di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, Senin (20/7/2026). Toko kelontong ini sudah melayani pembayaran menggunakan QRIS.
DIGITALISASI TOKO KELONTONG - Sebuah toko kelontong di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, Senin (20/7/2026). Toko kelontong ini sudah melayani pembayaran menggunakan QRIS. (Tribunnews.com/Dok. Pribadi)

Ia mengaku penggunaan QRIS membuat aktivitas berdagang menjadi lebih praktis.

Perempuan asal Kabupaten Sragen, Jawa Tengah itu kini tidak perlu sering membuka laci uang, maupun repot menghitung kembalian.

Tetapi, perjalanan itu tidak selalu mulus.

Puput pernah mengalami penipuan empat kali, ketika pembeli menunjukkan bukti pembayaran QRIS palsu.

Kejadian itu terjadi saat ia tidak berada di toko.

“Bukti transfernya diedit, kemungkinan pakai AI,” kenangnya.

Dari pengalaman tersebut, Puput belajar. Ia kini menyiapkan ponsel khusus yang selalu berada di toko, terhubung dengan speaker kecil agar setiap transaksi bisa langsung terdengar.

“Kalau ada pembayaran, langsung bunyi,” katanya.

Meski sempat mengalami kendala, Puput tetap mengakui manfaat besar QRIS.

“Pencatatan keuangan jadi lebih rapi, usaha juga lebih terkontrol,” ujarnya.

Nilai Transaksi QRIS di Jakarta

Fenomena yang dialami Natsir, Arie, dan Puput menjadi secuil contoh yang menunjukkan perubahan besar dalam ekosistem ekonomi perkotaan di Ibu Kota. 

Nilai transaksi QRIS di Provinsi DKI Jakarta telah mencapai 3,81 miliar transaksi.

Angka ini menyumbang sekitar 38 persen dari total transaksi QRIS nasional.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Bambang Arianto menjelaskan Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam adopsi pembayaran digital.

Penggunaan QRIS di ibu kota juga didukung oleh 6,82 juta merchant dan 6,51 juta pengguna.

“Angka tersebut merupakan hasil sinergi Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pelaku industri sistem pembayaran, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong transformasi digital yang inklusif,” kata Bambang dalam gelaran QRIS Jelajah Kuliner Indonesia Wilayah Jakarta 2026 di Pasar Santa, Jakarta Selatan, Selasa (14/7/2026).

Ekonom Apresiasi Hadirnya QRIS

Dihubungi terpisah, ekonom dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Lukman Hakim, menilai hadirnya QRIS dari Bank Indonesia merupakan kebanggaan dan perlu mendapat apresiasi.

Apalagi, QRIS saat ini sudah dipakai di sejumlah negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China.

"Saya rasa QRIS ini harus kita kasih penghargaan, sistemnya canggih, dan ini inovasi yang bagus," ungkap Lukman kepada Tribunnews melalui sambungan telepon, Selasa (21/7/2026).

Lukman mengungkapkan hadirnya QRIS membuat masyarakat semakin mudah dalam bertransaksi.

Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir ketika tidak membawa uang tunai.

"Kalau misalkan kita pakai cash ya, kadang-kadang kan ada perasaan ini kok banyak banget gitu ya, tapi dengan QRIS kan ya enteng saja. QRIS menjadi katalisator orang untuk bertransaksi, orang merasa lebih mudah," urainya.

Lukman juga mengamini hadirnya QRIS dapat meningkatkan daya beli di masyarakat.

Sebab, masyarakat tidak perlu mengambil uang di ATM yang pada umumnya hanya menyediakan uang dengan pecahan Rp50.000 dan Rp100.000.

Sedangkan QRIS bisa membayar nominal berapa pun dengan tepat.

"Hadirnya QRIS membuat kemudian ongkos transaksi lebih murah, dulu harus ke ATM mengambil uang, kemudian kita bayarkan cash itu kan kita ke ATM harus ada transaksi lainnya, mungkin makan, bensin, gitu kan. Kemudian kita harus antre, ini juga memerlukan waktu," jelas Lukman.

(Tribunnews.com/Wahyu Gilang Putranto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.