TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah sebagai upaya meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah mendapat beragam tanggapan dari masyarakat.
Di Kota Sanggau, salah seorang orang tua siswa mengaku belum merasakan manfaat langsung dari program tersebut terhadap kondisi ekonomi keluarga maupun pola konsumsi anaknya sehari-hari.
Abang Indra, salah seorang wali murid penerima manfaat MBG, mengatakan hingga saat ini pengeluaran keluarganya tidak mengalami perubahan meski anaknya telah menerima makanan dari program tersebut di sekolah.
Menurutnya, setiap hari ia tetap memberikan uang jajan kepada anaknya seperti sebelum program MBG dilaksanakan.
Nominal yang diberikan pun tidak mengalami pengurangan.
"Setiap hari saya sebagai orang tua tetap memberikan uang jajan Rp20 ribuan," kata Abang Indra, Kamis 23 juli 2026.
• Kejari Ketapang Tahan 3 Tersangka Korupsi Proyek LPJU 2024, Kerugian Negara Capai Rp517 Juta
Selain membekali uang saku, keluarganya juga masih menyiapkan makanan dari rumah sebagai bekal untuk dikonsumsi anak di sekolah.
Ia mengaku langkah tersebut dilakukan karena masih memiliki kekhawatiran terhadap makanan yang disediakan melalui program MBG.
"Saya termasuk orang tua yang kurang percaya dengan MBG, bahkan terkadang was-was kalau anak saya makan MBG. Makanya, setiap pagi istri saya selalu menyiapkan makanan sendiri untuk jadi bekal anak ke sekolah," tuturnya.
Abang Indra juga menilai dirinya belum dapat menyimpulkan bahwa program MBG memberikan pengaruh terhadap peningkatan kondisi gizi anaknya. Menurutnya, sejak sebelum program tersebut berjalan, pola makan anak di rumah sudah diatur dengan baik oleh istrinya sehingga tumbuh kembang anak berlangsung normal.
Ia mengatakan selama ini keluarga selalu memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi anak setiap hari.
Karena itu, ia merasa belum melihat adanya perubahan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan keberadaan program MBG.
"Selama ini makanan anak-anak kami diatur ibunya. Saya tahu persis selama ini tidak pernah ada masalah. Anak saya tumbuh baik sekarang, bahkan sebelum MBG ada. Justru kalau anak saya makan MBG saya jadi khawatir, ada rasa was-was muncul tiba-tiba," ungkapnya.
• PMI Kota Pontianak Perkuat Dukungan bagi Anak Penyintas Kanker, Talasemia, dan Jantung Bawaan
Berdasarkan pengalamannya, Abang Indra berharap tata kelola program MBG dapat dievaluasi.
Ia mengusulkan agar mekanisme penyediaan makanan melibatkan orang tua secara langsung, sementara pihak sekolah berperan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya.
Menurutnya, setiap keluarga lebih memahami kebutuhan gizi, kondisi kesehatan, dan kebiasaan makan anak masing-masing sehingga penyediaan makanan dinilai dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu.
"Saya pastikan, ibu atau orang tua perempuan adalah chef terbaik, ahli gizi terbaik, dan akuntan terbaik yang dapat merawat tumbuh kembang anak-anaknya," pungkasnya.
(*)