BMKG Ungkap 509 Zona Musim Sudah Kemarau, Kalimantan Barat Diminta Waspada Dampak Cuaca Kering
Maudy Asri Gita Utami July 24, 2026 03:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau.

Kondisi tersebut juga mulai dirasakan di berbagai daerah di Kalimantan Barat, di mana sebagian besar wilayah provinsi ini telah memasuki periode kemarau berdasarkan analisis terbaru BMKG. 

Masyarakat di Pontianak, Singkawang, Ketapang, Sintang, Sambas, Kapuas Hulu, hingga sejumlah daerah lainnya diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca kering, terutama potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta berkurangnya ketersediaan air bersih.

Berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Nusantara kini mengalami penurunan intensitas hujan yang menjadi ciri utama musim kemarau.

Selain memantau perkembangan musim, BMKG juga menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian III Juli 2026. 

• Kabar Baik! Mahkamah Konstitusi Putuskan Sisa Kuota Internet Harus Tetap Bisa Digunakan

Sejumlah daerah diperkirakan berpotensi mengalami kekeringan dengan tingkat kewaspadaan yang berbeda, mulai dari kategori Waspada, Siaga, hingga Awas, terutama di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Sebagian Besar Kalimantan Barat Sudah Memasuki Musim Kemarau

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, wilayah yang telah memasuki musim kemarau tersebar hampir di seluruh Indonesia. 

Di Pulau Sumatera, musim kemarau telah meliputi Aceh bagian utara, Sumatera Utara bagian selatan, Riau bagian selatan, Sumatera Barat bagian selatan, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, serta sejumlah wilayah di Jambi, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung.

Sementara di Pulau Jawa, seluruh provinsi mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta hingga Jawa Timur telah memasuki musim kemarau.

Kondisi serupa juga terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Untuk wilayah Kalimantan, BMKG mencatat sebagian besar Kalimantan Barat telah memasuki musim kemarau. 

Selain Kalbar, musim kemarau juga telah meluas ke sebagian besar Kalimantan Timur, sebagian wilayah selatan Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Selatan.

Di kawasan timur Indonesia, musim kemarau turut melanda sejumlah wilayah di Sulawesi, Maluku, hingga Papua, termasuk Gorontalo, Sulawesi Utara, sebagian Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Hari Tanpa Hujan Mencapai 80 Hari

BMKG juga mencatat bahwa durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) di berbagai wilayah Indonesia saat ini sangat bervariasi, mulai dari kategori sangat pendek hingga ekstrem panjang.

Rekor hari tanpa hujan terpanjang tercatat mencapai 80 hari, yang terjadi di Pos Hujan RPH Katerban, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. 

Kondisi tersebut menjadi indikator kuat bahwa sejumlah wilayah mulai mengalami kekeringan meteorologis akibat minimnya curah hujan dalam waktu yang cukup lama.

• 54 Atlet Karate Lemkari Sintang Siap Berlaga di Melawi, Wabup Optimistis Borong Medali Emas

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan

Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian III Juli 2026 dengan tiga tingkat kewaspadaan, yaitu Waspada, Siaga, dan Awas.

Untuk kategori Waspada, peringatan berlaku di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Bali, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.

Sementara kategori Siaga diberlakukan di sejumlah wilayah Bali, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Utara.

Adapun status Awas, yang merupakan tingkat kewaspadaan tertinggi, ditetapkan di beberapa kabupaten dan kota di tiga provinsi, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Warga Kalimantan Barat Diminta Waspadai Karhutla

Meski Kalimantan Barat belum masuk dalam wilayah berstatus Siaga atau Awas kekeringan meteorologis, kondisi musim kemarau yang mulai meluas tetap perlu diantisipasi. 

Cuaca panas berkepanjangan dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan yang memiliki lahan gambut.

Masyarakat di Kalimantan Barat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta lebih bijak menggunakan sumber air selama musim kemarau berlangsung. 

Para petani juga disarankan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca agar produktivitas pertanian tetap terjaga.

BMKG mengajak pemerintah daerah bersama masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini yang diperbarui secara berkala. 

Langkah antisipasi sejak dini dinilai penting guna meminimalkan dampak musim kemarau, mulai dari berkurangnya cadangan air bersih, gangguan terhadap sektor pertanian, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.