TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Momentum peringatan Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak untuk memperkuat kepedulian terhadap anak-anak yang tengah berjuang melawan penyakit kronis.
Melalui kegiatan yang mempertemukan puluhan anak penyintas bersama keluarga mereka, PMI menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan layanan yang tidak hanya berfokus pada kebutuhan medis, tetapi juga memberikan dukungan psikologis serta pendampingan sosial bagi para penyintas kanker, talasemia, dan penyakit jantung bawaan.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis 23 Juli 2026 tersebut menjadi wadah silaturahmi sekaligus bentuk nyata perhatian PMI terhadap anak-anak yang selama ini harus menjalani pengobatan dalam jangka panjang.
Sekitar 30 anak penyintas kanker, talasemia, dan penyakit jantung bawaan hadir bersama orang tua mereka dalam acara yang digelar untuk memperingati Hari Anak Nasional.
• Orang Tua Penyintas Talasemia Berjuang Ikhlas Dampingi Anak Jalani Transfusi Darah Setiap Bulan
Sekretaris PMI Kota Pontianak, Lusi Nuryanti, mengatakan peringatan Hari Anak Nasional menjadi kesempatan bagi PMI untuk semakin dekat dengan para penyintas dan keluarganya, sekaligus memperkuat sinergi dalam memberikan pelayanan kemanusiaan yang lebih optimal.
"Jadi hari ini memperingati Hari Anak Nasional, kami dari PMI Kota Pontianak sangat berkomitmen untuk ikut serta memperingatinya. Alhamdulillah hari ini kita berkumpul bersama kurang lebih 30 anak dengan penyakit kanker, talasemia, dan jantung bawaan," ujar Lusi kepada TribunPontianak.co.id, Kamis 23 Juli 2026
Menurutnya, kehadiran PMI di tengah keluarga penyintas diharapkan mampu memberikan manfaat nyata melalui berbagai bentuk fasilitasi yang dapat membantu meringankan beban para orang tua dalam mendampingi anak menjalani pengobatan.
Lusi menjelaskan bahwa setiap keluarga memiliki tantangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, PMI berupaya menjadi mitra yang dapat membantu memenuhi kebutuhan yang diperlukan, baik dalam aspek pelayanan kesehatan maupun dukungan sosial lainnya.
"Kami berharap bisa membantu memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang mungkin dirasakan oleh orang tua dari anak-anak kita. Jadi apa pun yang dapat meringankan beban penderitaan orang tua dan anak, PMI bisa memberikan warna dan memberikan manfaat untuk membantu keluarga-keluarga tersebut," katanya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan pertemuan silaturahmi perdana antara PMI Kota Pontianak dengan komunitas anak-anak penyintas.
Dari pertemuan ini, PMI ingin membangun komunikasi yang lebih erat agar pelayanan yang diberikan ke depan semakin sesuai dengan kebutuhan para penyintas, terutama bagi anak-anak penderita talasemia yang sangat bergantung pada ketersediaan darah untuk menjalani transfusi secara rutin.
• Kisah Siswa SD di Kapuas Hulu Menantang Arus Sungai Demi Menimba Ilmu
Menurut Lusi, keberlangsungan stok darah menjadi salah satu aspek penting yang harus terus dijaga mengingat pasien talasemia memerlukan transfusi darah secara berkala sepanjang hidup mereka.
"Semoga melalui pertemuan hari ini, yang merupakan silaturahmi pertama kami, PMI bisa menyiapkan darah yang optimal terutama untuk anak-anak talasemia. Mereka membutuhkan transfusi darah secara rutin dan seumur hidup. Semoga melalui hari ini semakin mempererat tali silaturahmi dan pelayanan PMI menjadi lebih baik," ungkapnya.
Selain memastikan ketersediaan darah, PMI Kota Pontianak juga berkomitmen memperluas bentuk dukungan kepada para penyintas melalui pendampingan psikologis, bantuan nonmedis, hingga fasilitasi kebutuhan lain yang dapat menunjang proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak beserta keluarganya.
Komitmen tersebut, lanjut Lusi, sejalan dengan arahan Pemerintah Kota Pontianak agar seluruh elemen dapat berkolaborasi dalam memberikan perhatian kepada anak-anak yang tengah berjuang melawan penyakit kronis sehingga mereka tetap memperoleh semangat, harapan, serta kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
"Insyaallah seperti arahan Wali Kota Pontianak, kami siap membantu memfasilitasi anak-anak tersebut dalam pengobatan dan mungkin hal-hal lain yang dibutuhkan untuk penguatan secara psikologis maupun nonmedis lainnya," tutup Lusi.
(*)