TRIBUNKALTIM.CO - Harga BBM Pertamina hari ini, Jumat (24/7/2026) masih belum mengalami perubahan.
Kapan harga BBM nonsubsidi turun?
Pertamina kembali memastikan tidak ada perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dijual di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia hingga pagi ini.
Dengan demikian, masyarakat masih membeli BBM dengan tarif yang sama seperti awal Juli 2026.
Hingga saat ini, Pertamina belum mengumumkan kebijakan penyesuaian harga terbaru untuk seluruh jenis BBM.
Penyesuaian harga terakhir dilakukan pada 1 Juli 2026.
Baca juga: Antrean SPBU Samarinda Mengular, Ketua DPRD Helmi Abdullah Minta Kepastian Stok BBM
Saat itu, Pertamina menurunkan harga tiga produk BBM nonsubsidi, yaitu Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite di seluruh wilayah Indonesia.
Sementara harga Pertama yang melonjak drastis pada 10 Juni 2026 lalu belum ada penurunan harga hingga hari ini.
Pada 10 Juni lalu, di Provinsi Kaltim, tercatat harga Pertamax sebelumnya Rp 12.600 liter naik Rp 4.050 per liter menjadi Rp16.650 per liter.
Hingga saat ini belum ada penurunan harga Pertamax di seluruh Indonesia.
Harga BBM nonsubsidi bervariasi di seluruh provinsi di Indonesia.
Kecuali untuk BBM subsidi jenis Pertalite dan Biosolar yang dipatok sama di seluruh Indonesia.
Harga Pertalite adalah Rp 10.000 per liter sedangkan Biosolar Rp 6.800 per liter.
Pemerintah membuka peluang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi apabila tren penurunan harga minyak mentah dunia terus berlanjut.
Saat ini, pemerintah masih menghitung dampak perubahan harga minyak sebelum menetapkan kebijakan baru.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan evaluasi sedang dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan kondisi sektor energi nasional.
Baca juga: Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 23 Juli 2026, Pertalite hingga Pertamax di Seluruh Indonesia
Sebagai bagian dari proses tersebut, pemerintah akan menggelar rapat bersama PT Pertamina (Persero) serta sejumlah badan usaha penyedia BBM lainnya untuk membahas kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Menurut Bahlil, keputusan terkait perubahan harga belum dapat ditetapkan karena pemerintah masih menelaah berbagai indikator yang memengaruhi harga jual BBM di dalam negeri.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah pergerakan Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia yang digunakan sebagai acuan dalam berbagai kebijakan sektor migas.
Selain itu, pemerintah juga memperhitungkan perkembangan harga minyak di pasar internasional.
"Saya sudah menghitung dan saya akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip dari Antara, Senin (20/7/2026).
Menurut Bahlil, pemerintah masih perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan karena harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dan harga minyak dunia masih bergerak fluktuatif.
Karena itu, pemerintah belum menetapkan keputusan terkait perubahan harga BBM nonsubsidi.
Baca juga: Antrean SPBU Samarinda Mengular, Ketua DPRD Helmi Abdullah Minta Kepastian Stok BBM
Penyesuaian harga akan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia sekaligus kondisi industri migas nasional.
Dilansir dari KompasTV, Bahlil menegaskan pemerintah berupaya mencari formula kebijakan yang dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlangsungan usaha pelaku industri minyak dan gas bumi.
"Jadi dalam kondisi seperti ini kita mencari formulasi yang bijak, yang tidak memberatkan rakyat pengguna, khususnya yang nonsubsidi. Ini kan totalnya 20 persen, ini saudara-saudara kita yang mampu. Tapi juga kita tidak memberatkan pelaku usaha di sektor perminyakan," ucapnya.
Dengan pernyataan tersebut, terdapat peluang harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian apabila tren pelemahan harga minyak dunia berlanjut.
Namun, belum ada kepastian mengenai jenis BBM yang akan mengalami perubahan maupun besaran penurunannya.
Masyarakat masih perlu menunggu hasil perhitungan dan pembahasan pemerintah bersama Pertamina serta badan usaha penyedia BBM lainnya.
Di tengah peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan.
Bahlil menegaskan pemerintah menjamin tidak akan ada kenaikan harga BBM subsidi.
"Alhamdulillah kita juga clear sampai dengan insyaallah akhir tahun nggak ada masalah. Sudah barang tentu kita juga memastikan bahwa kenaikan terhadap BBM subsidi insyaallah enggak ada kenaikan sama sekali," kata Bahlil.
Dengan demikian, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih mengikuti harga yang berlaku saat ini.
Berikut adalah rincian tarif eceran harga BBM terbaru yang berlaku per 1 Juli 2026 di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina seluruh Indonesia yang dihimpun dari data resmi PT Pertamina Patra Niaga:
Provinsi Aceh
FTZ Sabang
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
FTZ Batam
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan:
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Banten
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Bali
Nusa Tenggara Barat:
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat
Papua Selatan
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp20.150
Papua Pegunungan
Papua Tengah
Papua Barat Daya