Ada Sejuta Asa pada Setiap Tetes Tirta di Perbukitan Piyungan
Yoseph Hary W July 24, 2026 08:05 AM

Satu unit mobil tangki berwarna oranye tampak perlahan melintasi jalan cor di Padukuhan Jasem, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Kamis (23/7) siang. Dari kejauhan, debu tipis bermunculan di bagian belakang roda truk bermuatan 5.000 liter air bersih, membaur dengan hawa panas di lokasi tersebut. Deru mesin kendaraan berpelat merah itu pun terdengar kasar, dikarenakan harus menanjak area perbukitan. 

Bagi warga Padukuhan Jasem, kehadiran truk tangki air ini menjadi harapan. Bukan sekadar bantuan logistik biasa, melainkan penyambung napas di tengah gempuran musim kemarau yang telah mematikan sumur-sumur warga sejak beberapa waktu terakhir.

Tak heran, selepas kendaraan itu tiba, tampak sejumlah warga yang silih berganti datang membawa bekas galon air mineral berukuran 15 liter. Mereka rela berjalan kaki menyusuri jalan gersang demi mendapatkan air bersih gratis tersebut.

Bagi mereka, setiap tetes air yang mengalir dari selang truk tangki siang itu amat berharga untuk menyambung hidup, memasak, dan memenuhi kebutuhan sanitasi dasar mengingat beberapa minggu terakhir air makin sulit didapatkan.

Andalkan bantuan air

Warsiyem (42), warga RT 2, Padukuhan Jasem, menjadi salah satu orang yang turut mengandalkan bantuan air bersih tersebut. Sejak Juni 2026, ia mulai merasakan dampak musim kemarau. Debit air sumurnya kian menurun hingga tidak lagi bisa diambil untuk keperluan sehari-hari.

"Di sini sebenarnya ada sumur, lumayan dalam, sekitar 15 meteran. Ada tiga sumur. Satu sumur ada buat tiga orang, satu lagi ada buat dua orang, dan satu lagi untuk bareng-bareng untuk umum. Sejak Juni 2026, air sumur tersebut mulai mengering," ucapnya.

Akibatnya, ia bersama sejumlah warga setempat harus mencari bantuan agar bisa mendapatkan air bersih. Sejumlah warga setempat turut mengajukan proposal ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul agar segera mendapatkan air bersih.

"Kami cuma mengandalkan bantuan seperti ini. Kalau enggak ada bantuan ya kami mengambil air dari sumur di bawah sana, sekitar satu kilometer dari rumah. Ambil pakai sepeda motor, karena kalau jalan kaki jauh sekali. Jalan dari sumur ke rumah saya juga nanjak sekali, jadi harus hati-hati," ujarnya.

Kekeringan datang lebih awal

Dukuh Jasem, Arif Gunawan menyebut, kekeringan dirasakan oleh warga RT 2. Walau sudah menjadi ritme tahunan, namun kekeringan ini dinilai datang lebih awal dari biasanya. Sebab, baru awal musim kemarau tiba, warga setempat langsung merasakan dampaknya.

"Tapi, ini sudah ada beberapa bantuan dari beberapa pihak. Kemarin ada dari BPBD Bantul, ada dari swasta. Ini untuk kebutuhan sekitar 20 KK atau 76 jiwa. Kekeringan sudah dirasakan sejak sebulan terakhir. Sumur-sumur dangkal warga sudah mulai agak mengering," tuturnya.

Dikatakannya, sumur terdalam bisa mencapai 15 meter. Namun, air sumur tersebut sudah menurun, dikarenakan berada di atas bukit. Sejak debit air menurun itu, warga setempat mulai mengandalkan beberapa sumber termasuk sumur warga dan sumur yang ada di sawah.

Lain halnya untuk air sumur pertanian tembakau dan sayur mayur, disebut-sebut masih lancar atau tidak ada penurunan debit air. "Tapi, untuk kebutuhan warga yang di sini (RT 2), sudah mulai agak kekeringan. Biasanya mereka ambil airnya dari pagi untuk kebutuhan anak-anak mereka, kebutuhan memasak, serta mencuci. Dan kalau sore untuk kebutuhan mandi sore dan masak malam," kata dia.

Guna mencukupi kebutuhan tersebut, pihaknya turut melakukan permohonan droping air bersih ke sejumlah pihak termasuk BPBD Bantul, Palang Merah Indonesia Bantul, hingga Dinas Sosial Bantul. Seperti halnya pada Kamis (23/7), ada bantuan 15.000 liter air dari BPBD Bantul.

"Kapasitasnya sekitar 15.000 liter. Biasanya cukup untuk kebutuhan masyarakat selama seminggu. Jadi kebutuhannya sangat banyak sekali untuk minum, ternak, mencuci, maupun memasak," tandas Arif.

Kategori awas         

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas mengatakan, wilayah Kabupaten Bantul masuk kategori awas kekeringan, kemudian status siaga terjadi di wilayah Gunungkidul dan Kulon Progo, lalu status waspada terjadi di wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

Upaya mitigasi dampak kekeringan yang dapat dilakukan antara lain diseminasi update info iklim dan peringatan dini kekeringan. Lalu penghematan penggunaan air oleh masyarakat, penampungan air hujan (embung, telaga, tandon) dan konservasi daerah resapan.

“Penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas tanaman tahan kering serta optimalisasi irigasi hemat air dan pemanfaatan sumber air alternatif,” terang Reni saat dihubungi, Kamis (23/7).

Adapun tingkat kerawanan kekeringan berdasarkan status sangat rawan, menurut Reni berada di Kabupaten Gunungkidul, terutama wilayah karst. Kemudian wilayah status rawan kekeringan berada di Bantul bagian selatan misalnya kawasan pesisir dan bagian selatan Kulon Progo yang bergantung pada hujan atau sumber air terbatas.

Tingkat kerawanan sedang berada di sebagian wilayah Sleman bagian timur dan utara, khususnya lahan tadah hujan. Lalu tingkat kerawanan rendah berada di Kota Yogyakarta, karena didukung jaringan air bersih yang relatif baik.

Reni menyampaikan, upaya penanggulangan saat kekeringan terjadi harus dilakukan bersama-sama, mulai distribusi air bersih ke wilayah terdampak. Kemudian penyediaan tangki air dan sumur bor darurat. Pengaturan distribusi air irigasi untuk lahan pertanian.

“Bantuan kepada petani yang mengalami puso atau gagal panen, serta koordinasi antara BMKG, BPBD, pemerintah daerah, PDAM, dan instansi terkait untuk penanganan cepat,” kata Reni.

Penetapan siaga darurat kekeringan 

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, merespons ancaman kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Pihaknya telah merekomendasikan untuk pernerbitan Surat Keputusan (SK) penetapan siaga darurat kekeringan di wilayah DIY.

"Kami sedang berproses ke Pak Gubernur DIY untuk penetapan SK siaga darurat kekeringan," jelasnya.

BPBD DIY juga sedang memetakan wilayah yang berpotensi terjadi kekeringan berdasarkan data tiga tahun terakhir. Mereka juga memetakan sumber air yang ada di sekitar daerah rawan kekeringan untuk dimanfaatkan segera. 

"Kami memetakan sumber air ya g ada disekitar untuk diinaikkan, ini sebagai solusi jangka menengah," tutup Kalaksa BPBD. (Neti Istimewa Rukmana/Miftahul Huda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.