BANJARMASINPOST.CO.ID - Mitos bulan Safar sebagai bulan sial telah dikenal sejak zaman Jahiliyah.
Keyakinan ini bahkan membuat sebagian orang enggan untuk mengadakan acara, membuka usaha, atau melakukan aktivitas tertentu di bulan tersebut.
Namun dalam Islam, anggapan itu tidak benar.
Baca juga: Buya Yahya Paparkan Sunnah Menyambut Bulan Safar, Terdapat Sejumlah Mitos yang Sebaiknya Dihindari
Pengajar Ilmu Musthalah Hadis Pesantren Intan Ilmu Kabupaten Baritokuala (Batola), Kalimantan Selatan (Kalsel), ustadz Arif Usman Anugraha BA menegaskan, bulan Safar bukanlah bulan kesialan.
Hal ini diperkuat dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Tidak ada penyakit menular, thiyarah, burung hantu, dan safar (yang dianggap membawa kesialan). Dan larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR Bukhari nomor 5.387 dan Muslim nomor 2.220)
Ustadz Arif menjelaskan, maksud hadis tersebut adalah tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa izin Allah.
Tidak ada kesialan karena burung yang terbang ke kanan atau ke kiri, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan di bulan Safar.
Semua keyakinan yang mengaitkan kesialan dengan bulan atau masa tertentu tidak memiliki dasar syar’i.
Ustadz Arif mengatakan, mengaitkan suatu masa dengan kesialan bisa terjatuh pada sikap mencela masa.
“Keyakinan ini sama halnya dengan mencela masa, dan mencela masa sama halnya mencela Allah Azza Wa Jalla,” tegas ustadz Arif.
Dia lantas mengutip hadis Nabi Muhammad SAW,”Janganlah mencela masa, karena sesungguhnya Allah Ta’ala adalah (pengatur) masa.” (HR Muslim nomor 2.246)
Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh menetapkan bulan atau hari tertentu sebagai pembawa sial.
Semua waktu adalah ciptaan Allah, dan mencela masa bisa jatuh dalam perbuatan mencela Allah Azza Wa Jalla.
“Ketika seorang mengatakan, bukan Safar mendatangkan kesialan dan dia tidak memiliki dalil akan hal itu, maka khawatirnya ini sama dengan halnya mencela masa,” jelas Ustadz Arif.
Lebih jauh ustadz Arif menyatakan, benar setiap manusia tentu menginginkan keberhasilan dan terhindar dari keburukan.
Namun cara yang benar bukanlah dengan mempercayai mitos, melainkan dengan berpasrah kepada Allah, berdoa, dan berusaha.
Ustadz Arif kemudian mengutip firman Allah Ta’ala,”Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)
Dengan demikian, seorang muslim harus menyandarkan segala usaha dan doa kepada Allah. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, maka kembalikan kepada takdir.
“Iman kepada takdir sendiri, berarti meyakini bahwa apa yang Allah tetapkan pasti membawa kebaikan,” pungkas Ustadz Arif Usman.
(Banjarmasinpost.co.id/Saiful Rahman)