Ibu di Banjarbaru Ini Kaget Saat Konsultasi ke Dokter, Anaknya Alami Ini Gegara Gadget
Hari Widodo July 24, 2026 09:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebagai alat komunikasi gadget juga digunakan para orangtua sebagai sarana bermain, atau agar anak tenang. Namun ternyata gadget bisa berubah menjadi persoalan baru bagi sebagian orangtua.

Seorang ibu asal Landasan Ulin, Kota Banjarbaru yang enggan disebutkan namanya mengaku mulai menyadari ada yang berbeda dari perkembangan putranya saat berusia sekitar tiga tahun. 

Sejak usia dua tahun, anak tersebut cukup sering menggunakan gawai ketika dititipkan kepada sang nenek karena kedua orangtuanya bekerja.

Memasuki usia tiga tahun, ia mulai merasa perkembangan sang anak berbeda dibandingkan anak seusianya.

Baca juga: Gawai Pengaruhi Prilaku Anak, Madrasah di Banjarmasin Ini Larang Anak Bawa Handphone ke Sekolah

 Anaknya mengalami keterlambatan berbicara, sulit berinteraksi dengan teman sebaya, serta lebih memilih menghabiskan waktu bersama gadget daripada bermain.

“Seharusnya di usia segitu anak-anak sudah mulai banyak bicara. Tapi anak saya masih terlambat, belum bisa bersosialisasi dan lebih suka sendiri sama gadget. Kalau diganggu juga tidak mau,” katanya, Selasa (21/7/2026).

Kekhawatiran itu akhirnya membawanya berkonsultasi dengan dokter anak.

Dari hasil pemeriksaan, sang anak dinyatakan mengalami keterlambatan bicara dan kesulitan fokus dibandingkan anak seusianya.

Kondisi tersebut juga terlihat ketika gadget diambil.

“Kalau gadget diambil reaksinya marah. Kadang teriak, kadang juga melempar barang yang ada di dekatnya,” ucapnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, keluarga mulai melakukan berbagai upaya untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap layar.

Mulai dari membatasi penggunaan gadget, mengajak anak berwisata, memperbanyak interaksi dengan teman sebaya, hingga menyediakan guru pendamping di sekolah agar anak lebih fokus selama belajar. Meski prosesnya tidak mudah, perlahan perubahan mulai terlihat.

Mengenai kekhawatiran orangtua terhadap perkembangan anak, dokter Spesialis Anak, dr. Pricilia Gunawan Halim, Sp.A(K) menjelaskan bahwa paparan gadget sejak usia dini bukan penyebab Autism Spectrum Disorder (ASD).

Namun, penggunaan layar secara berlebihan dapat menghambat perkembangan bicara, kemampuan sosial hingga konsentrasi anak apabila tidak disertai pendampingan orangtua.

dr. Pricilia Gunawan Halim, menjelaskan istilah virtual autism yang belakangan ramai diperbincangkan bukan merupakan diagnosis medis resmi.

“Istilah ini tidak ada dalam panduan diagnosis kedokteran seperti DSM-5 maupun ICD-11. Virtual autism hanya menggambarkan kondisi anak yang menunjukkan gejala mirip autisme akibat paparan layar digital berlebihan sejak usia dini,” ujarnya, Rabu malam.

Menurut Pricilia, kondisi tersebut berbeda dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) yang merupakan gangguan neurologis sejak lahir dan bukan disebabkan oleh penggunaan gadget.

Perbedaan paling mencolok terlihat dari respons anak terhadap intervensi. Pada virtual autism, gejala dapat membaik apabila paparan layar dikurangi dan diganti dengan interaksi langsung yang berkualitas.

Sementara pada ASD, kondisinya tidak akan membaik hanya dengan mengurangi screen time.

“Karena itu orangtua jangan mendiagnosis sendiri. Jika ada kekhawatiran terhadap tumbuh kembang anak, segera konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat,” katanya.

Pricilia mengatakan usia nol hingga lima tahun merupakan golden period atau masa emas perkembangan otak anak.

Pada fase tersebut, otak membentuk jutaan koneksi baru yang sangat dipengaruhi oleh stimulasi dari lingkungan sekitar.

Baca juga: Efek Kecanduan Gadget, Psikiater RSJ Sambang Lihum: Anak Alami virtual autism

Masalahnya, gadget hanya memberikan stimulasi satu arah. Anak hanya melihat dan mendengar tanpa banyak berinteraksi, padahal perkembangan otak justru membutuhkan percakapan dua arah, sentuhan, ekspresi wajah, permainan fisik, dan eksplorasi lingkungan.

Ia juga mengingatkan, anak yang terpapar layar lebih dari dua jam per hari sebelum usia dua tahun berisiko lebih tinggi mengalami keterlambatan bicara.(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.