Kekeringan, 1.084 Hektare Tanaman Padi di Polman Terancam Gagal Panen
Nurhadi Hasbi July 24, 2026 11:47 AM

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Sebaran areal persawahan yang mengalami kekeringan pada musim kemarau semakin meluas di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), Jumat (24/7/2026).

Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Disbuntarnak Polman mencatat sebanyak 1.084,18 hektare areal tanaman padi terdampak kekeringan.

Akibatnya, tanaman padi terancam gagal panen, padahal sebagian sudah memasuki fase berisi.

Sebaran persawahan terdampak kekeringan berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Binuang, Mapilli, dan Matakali.

Baca juga: Petani di Mehalaan Mamasa Merugi, Dua Hektar Sawah yang Baru Ditanami Tertimbun Material Longsor

Baca juga: Petani di Paku Polman Buat Sumur Bor di Areal Persawahan, Hadapi Kekeringan dan Ancaman Gagal Panen

Sementara kecamatan lainnya tidak terdampak karena tanaman padinya sudah memasuki masa panen.

Pompanisasi Dilakukan untuk Selamatkan Tanaman Padi

Data Disbuntarnak menunjukkan, dari 1.084,18 hektare lahan terdampak kekeringan, terbagi dalam tiga kategori.

Yakni kategori ringan seluas 50,90 hektare, kategori sedang 313,98 hektare, dan kategori berat 719,30 hektare.

Luas tanaman padi yang terdampak kekeringan di Kecamatan Binuang mencapai 512,96 hektare dari 816,25 hektare luas pertanaman padi musim tanam kedua tahun 2026.

Dari luas tersebut, kategori ringan mencapai 50,90 hektare, sedang 167,35 hektare, dan berat 294,71 hektare.

Sementara di Kecamatan Mapilli, tanaman padi terdampak kekeringan seluas 196,63 hektare, terdiri dari kategori sedang 42,63 hektare dan berat 154 hektare.

Di Kecamatan Matakali, seluas 374,59 hektare tanaman padi terdampak kekeringan dari total 524,42 hektare luas pertanaman padi. Rinciannya, kategori sedang 104 hektare dan kategori berat 270,59 hektare.

"Baru tiga kecamatan yang melaporkan dampak kekeringan terhadap tanaman padi," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Disbuntarnak Polman, Muhammad Yunus.

Ia menyebut sejumlah langkah dilakukan untuk menyelamatkan tanaman padi, di antaranya melalui pompanisasi dari sumber mata air ke saluran irigasi.

Dengan cara itu, areal persawahan tetap dapat diairi. Selain itu, petani juga melakukan pengeboran sumber air atau memanfaatkan sumur bor.

"Dari tinjauan lapangan dan data yang kami peroleh dari petugas penyuluh pertanian hingga saat ini belum ada tanaman padi yang masuk kategori puso. Hanya saja, jika tidak diantisipasi secepatnya, bisa saja nanti menjadi puso," terang Yunus.

Menurutnya, kekeringan terjadi karena debit air berkurang akibat hujan tidak turun selama beberapa pekan terakhir.

Sebagian kelompok tani secara swadaya melakukan pompanisasi air dari sungai ke saluran irigasi.

Selain itu, ada pula petani yang melakukan pengeboran air di areal persawahannya masing-masing.

Namun, kata Yunus, upaya darurat melalui pompanisasi bukan tanpa hambatan.

Di beberapa titik di Kecamatan Binuang dan Matakali, pompanisasi belum dapat dilakukan karena terkendala sumber air.

Ia mengakui musim kemarau tahun ini berpengaruh terhadap produksi gabah di Kabupaten Polman.

Namun, penurunannya diperkirakan tidak terlalu besar karena sejumlah daerah di Polman sudah memasuki masa panen. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.