TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Deretan bendera Merah Putih dan umbul-umbul mulai menghiasi bahu Jalan Poros Trans Sulawesi di Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu, menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di antara para pedagang musiman itu, tampak seorang remaja berusia 15 tahun bernama Rusli yang tekun menjaga lapaknya.
Saat ditemui Tribun-Sulbar.com, Jumat (24/7/2026), Rusli terlihat sibuk merapikan bendera yang disusun berjajar di atas trotoar.
Sesekali ia membenahi posisi umbul-umbul yang tertiup angin agar tetap terlihat rapi di hadapan para pengendara yang melintas.
Baca juga: Kronologi Pelajar Pasangkayu Tewas Tabrakan dengan Truk, Korban Tidak Pakai Helm Saat Menuju Sekolah
Baca juga: Warga Gubernur Kang Dedi Mulyadi Jual Bendera di Pasangkayu, Berharap Berkah Jelang HUT RI ke-80
Terik matahari siang tak menyurutkan semangatnya.
Sesekali ia berteduh di bawah umbul-umbul yang tergantung, lalu kembali berdiri menunggu pembeli datang.
Rusli merupakan warga Kelurahan Bambalamotu, Kecamatan Bambalamotu.
Ia adalah anak sulung dari pasangan Azwar dan Radina.
Di usianya yang masih belia, Rusli sudah harus memikul tanggung jawab membantu perekonomian keluarga.
Ia mengaku tidak lagi bersekolah setelah tidak lulus Sekolah Dasar (SD).
Sejak saat itu, berbagai pekerjaan pernah dijalaninya.
Mulai dari menjadi buruh harian hingga bekerja sebagai kuli bangunan saat ada yang membutuhkan tenaga.
"Tidak sekolah lagi, jadi saya kerja apa saja yang penting bisa bantu orang tua," kata Rusli.
Tahun ini menjadi pengalaman pertama Rusli berjualan bendera musiman menjelang Hari Kemerdekaan RI.
Bendera dan umbul-umbul yang dijual bukan miliknya, melainkan milik seorang bos yang mempekerjakannya selama musim penjualan.
Selama 26 hari bekerja, Rusli akan menerima upah sebesar Rp1 juta.
Agar lebih dekat dengan lokasi berjualan, ia tinggal di rumah kos di Pasangkayu bersama sepupunya.
Sementara kebutuhan makan sehari-hari dipenuhi oleh bos tempatnya bekerja.
Meski penghasilannya tidak besar, Rusli mengaku bersyukur masih diberi kesempatan bekerja.
Baginya, uang hasil bekerja akan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Hari pertama ini belum banyak yang beli. Mudah-mudahan besok-besok sudah mulai ramai," ujarnya.
Di lapaknya, Rusli menjual berbagai ukuran bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga aksesori perayaan kemerdekaan.
Harganya bervariasi, mulai Rp5 ribu untuk ukuran kecil hingga Rp350 ribu untuk ukuran besar dengan kualitas terbaik.
Ia berharap penjualan akan semakin ramai mendekati 17 Agustus ketika masyarakat mulai memasang bendera di rumah, kantor, sekolah, maupun tempat usaha.
Di balik senyum yang selalu ia tunjukkan kepada setiap calon pembeli, tersimpan harapan sederhana seorang remaja yang rela mengorbankan masa sekolah demi membantu orang tuanya.
Bagi Rusli, setiap lembar bendera yang berhasil terjual bukan hanya menjadi simbol semangat kemerdekaan, tetapi juga menjadi harapan untuk meringankan beban keluarganya di rumah. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan