Pesan Gus Kikin untuk Kader NU : Jaga Warisan Tradisi dan Ukhuwah
Titis Jati Permata July 24, 2026 11:52 AM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Regenerasi kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual, tetapi juga membutuhkan pemahaman keilmuan yang tersambung dan semangat menjaga persatuan umat.

Pesan tersebut disampaikan Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin saat menghadiri Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I yang digelar PCNU Gresik, Jawa Timur, Rabu (22/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung hingga 26 Juli 2026 itu diikuti 72 peserta, termasuk Menteri Agama Nasaruddin Umar yang hadir sebagai peserta istimewa.

Baca juga: PBNU Merespon Saat Gus Kikin Diutus PWNU Jatim Maju Caketum PBNU di Muktamar Ke-35

Menurut Gus Kikin, dua warisan besar pendiri NU KH M Hasyim Asy’ari yang harus terus dijaga lintas generasi adalah sanad keilmuan dan kepemimpinan yang mengutamakan persatuan.

"Warisan penting para pendiri NU yang harus terus dirawat adalah menjaga sanad keilmuan serta menjaga kepemimpinan NU yang berlandaskan semangat persatuan," ujar Gus Kikin dikutip SURYA.co.id, Jumat (24/7/2026).

KH Hasyim Asy’ari dan Jejak Sanad Keilmuan

Dalam forum tersebut, Gus Kikin menyampaikan sosok KH M Hasyim Asy’ari bukan hanya pendiri NU, tetapi juga tokoh umat Islam Indonesia yang memiliki peran besar dalam membangun persatuan.

Menurut cicit KH Hasyim Asy’ari tersebut, rekam jejak pendiri NU itu menunjukkan bagaimana ulama dapat menjadi perekat masyarakat di tengah keberagaman.

Baca juga: Gus Zaki Berharap Muktamar ke-35 NU Perkuat Peran Kiai Kampung

Ia menyebut, pada 1942 tercatat sekitar 20.000 tokoh besar maupun kecil di Pulau Jawa merupakan santri KH Hasyim Asy’ari.

"Jumlah tersebut menunjukkan betapa luas pengaruh sanad keilmuan yang dibangun KH Hasyim Asy’ari dan bagaimana ilmu dapat menjadi kekuatan pemersatu umat," katanya.

Tantangan Pemikiran di Era Modern

Gus Kikin menilai perkembangan berbagai paham dan pemikiran baru di masyarakat menjadi tantangan yang harus dihadapi kader NU saat ini.

Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, tetapi umat tetap membutuhkan pijakan keagamaan yang jelas melalui sanad keilmuan yang tersambung kepada Rasulullah SAW.

Ia menegaskan, pembaruan dalam Islam tidak berarti meninggalkan tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama.

"Pembaruan yang sejati bukan dengan memutus hubungan dengan tradisi. Justru pembaruan harus tetap berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan para ulama," ujarnya.

Gus Kikin mengingatkan, apabila pembaruan justru membuat umat kehilangan sanad dan akar tradisi, maka yang terancam bukan hanya identitas sebagai warga Nahdliyin, tetapi juga keberkahan ilmu yang diwariskan antargenerasi.

PMKNU Diharapkan Cetak Pemimpin Berkarakter

Melalui PMKNU Angkatan I, Gus Kikin berharap lahir kader-kader NU yang memiliki kemampuan intelektual, kematangan spiritual, serta kepedulian sosial.

Ia menilai tantangan organisasi ke depan semakin besar sehingga membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kerja sama dan memperkuat persaudaraan.

"Banyak hal yang harus dipikirkan dan banyak hal yang harus dilakukan. Namun yang paling utama adalah bagaimana membangun ukhuwah," tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.