BANGKAPOS.COM, BANGKA - Akademisi Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB), Fitri Ramdhani Harahap mengatakan fenomena sekolah swasta yang tutup karena penurunan jumlah murid tidak hanya dipengaruhi berkurangnya jumlah anak usia sekolah, tetapi juga perubahan paradigma masyarakat dalam memilih sekolah.
Dulu, kata Fitri, orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar karena sekolah swasta dianggap memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik. Kini kondisinya berubah.
"Sekolah negeri terus berbenah, kualitasnya meningkat, sehingga semakin menjadi pilihan masyarakat," kata Fitri Ramdhani saat diminta tanggapannya oleh Bangkapos.com mengenai sejumlah sekolah swasta di Bangka Belitung tutup operasional.
Baca juga: Sekolah Swasta Berguguran, Fenomena Kekurangan Siswa Melanda Bangka Belitung
Fitri mengatakan, persaingan antarsekolah juga mengalami perubahan. Penilaian masyarakat tidak lagi semata-mata didasarkan pada kualitas proses belajar mengajar.
Menurutnya, citra sekolah, prestasi siswa, publikasi kegiatan, hingga aktivitas di media sosial turut memengaruhi keputusan orang tua dalam memilih tempat pendidikan anak.
Sekolah yang mampu membangun citra positif memiliki peluang lebih besar menarik peserta didik dibandingkan sekolah yang hanya mengandalkan kualitas pembelajaran di ruang kelas.
"Tantangan sekolah swasta di Bangka Belitung juga lebih berat dibandingkan di kota-kota besar. Banyak yayasan pendidikan di daerah hanya mengandalkan pemasukan dari uang sekolah," kata Fitri.
Lanjut Fitri, berbeda dengan yayasan di kota besar yang memiliki unit usaha lain sehingga mampu menopang operasional, membangun fasilitas, meningkatkan kualitas guru, bahkan membuka cabang sekolah.
Keterbatasan finansial membuat sekolah swasta di daerah sulit memenuhi berbagai standar yang menjadi indikator mutu pendidikan.
Akreditasi yang baik membutuhkan sarana dan prasarana memadai, sementara kemampuan sekolah meningkatkan fasilitas sangat bergantung pada jumlah siswa yang diterima setiap tahun.
Sekolah swasta juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan sekolah negeri yang memperoleh dukungan anggaran pemerintah.
"Gedung, gaji guru, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), hingga berbagai program bantuan membuat sekolah negeri memiliki daya saing lebih kuat," kata Fitri.
Sebaliknya, kata Fitri, sekolah swasta harus membiayai sebagian besar kebutuhan operasionalnya secara mandiri.
Ketika jumlah peserta didik terus menurun, pendapatan sekolah ikut berkurang, sementara kewajiban membayar gaji guru, merawat gedung, menyediakan fasilitas belajar, dan memenuhi biaya operasional tetap berjalan.
"Tidak sedikit sekolah akhirnya melakukan efisiensi, bahkan ada yang terpaksa menghentikan kegiatan karena jumlah siswanya terus menurun," kata Fitri.
Bantuan pemerintah melalui BOS maupun pelatihan guru memang membantu, tetapi belum menyentuh persoalan utama, yakni biaya operasional.
Dukungan yang lebih besar masih diperlukan agar sekolah swasta mampu mempertahankan layanan pendidikan sekaligus meningkatkan daya saingnya.
"Ke depan, kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan akan terus meningkat. Tantangan terbesar sekolah swasta bukan sekadar bertahan, melainkan mampu beradaptasi, membangun identitas, serta menghadirkan keunggulan yang tidak dimiliki sekolah lain agar kembali menjadi pilihan masyarakat," kata Fitri Ramdhani Harahap. (x1)