Insiden Petugas JPL Mengkreng Tertidur Picu Percepatan Flyover, Wagub Jatim: Sudah Waktunya Dibangun
faridmukarrom July 24, 2026 12:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI – Insiden petugas jaga yang diduga tertidur saat Kereta Api Brantas melintas di Jalur Perlintasan Langsung (JPL) Mengkreng, Kabupaten Kediri, menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Perhubungan.

Peristiwa yang viral pada Rabu (22/7/2026) dini hari itu mendorong percepatan pembahasan pembangunan flyover Mengkreng sebagai solusi jangka panjang untuk meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, kejadian tersebut harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan perlintasan kereta api.

Menurut Emil, persoalan yang terjadi bukan hanya karena dugaan petugas tertidur, tetapi juga menunjukkan adanya potensi human error yang dapat memicu kecelakaan kapan saja.

"Sempat menjadi perhatian publik yaitu di Mengkreng, di mana hampir terjadi kecelakaan karena petugasnya tertidur dan KAI sudah mengakui itu," ujar Emil dalam rilis Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya, Jumat (24/7/2026).

Baca juga: Kunjungan Wisata Kota Blitar Tembus 1,6 Juta pada Semester I 2026, Makam Bung Karno Jadi Primadona

Ia mengingatkan, kasus tersebut mengingatkan pada kecelakaan di Magetan yang dipicu kesalahan petugas saat membuka palang pintu karena mengira tidak ada kereta yang melintas.

"Nah, ini yang menjadi concern kami. Bagaimana memitigasi kemungkinan human error itu terjadi," sambungnya.

Flyover Mengkreng Dinilai Jadi Solusi Permanen

Selain persoalan sumber daya manusia, Emil mengungkapkan masih banyak perlintasan kereta api di Jawa Timur yang membutuhkan perhatian.

Berdasarkan data Pemprov Jawa Timur, terdapat 213 perlintasan resmi yang belum dilengkapi palang pintu dan 83 perlintasan liar yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Menurutnya, seluruh perlintasan liar harus ditutup, sedangkan perlintasan resmi tanpa palang membutuhkan tambahan anggaran dan personel.

Khusus kawasan Mengkreng, Emil menilai pembangunan flyover merupakan solusi terbaik yang sudah lama diperjuangkan.

"Kami sangat berterima kasih bahwa ketiga bupati dari Nganjuk, Kediri, dan Jombang sudah mengajukan dan Bu Gubernur juga sudah mengajukan agar ada flyover," katanya.

Ia mengungkapkan rencana pembangunan flyover Mengkreng sebenarnya telah muncul sejak 2007, namun belum terealisasi karena saat itu pemerintah memprioritaskan pembangunan flyover Peterongan.

"Ini sudah hampir 20 tahun, harusnya sudah ada flyover Mengkreng. Wis wayahe," tegas Emil.

Kemenhub Soroti Kelelahan Petugas Jaga

Menanggapi usulan tersebut, Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Denny Michels Adlan, memastikan pihaknya segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terkait rencana pembangunan flyover.

Di sisi lain, Denny mengakui insiden di Mengkreng juga dipengaruhi keterbatasan jumlah petugas jaga.

Menurutnya, masih ada petugas yang harus bekerja hingga 12 jam, sehingga meningkatkan risiko kelelahan saat bertugas.

"Kami masih menemukan SDM yang sangat terbatas. Kadang satu orang harus bekerja sampai 12 jam. Faktor kelelahan ini yang bisa membuat petugas lelah dan berpotensi tertidur. Karena itu SDM harus ditambah agar sistem shifting lebih baik," jelasnya.

Selain penambahan personel, BTP Kelas I Surabaya juga akan mengkaji pemanfaatan teknologi untuk mengurangi ketergantungan terhadap faktor manusia dalam sistem pengamanan perlintasan kereta api.

Petugas Perlintasan Rutin Jalani Pelatihan

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Nyono, menjelaskan petugas penjaga perlintasan di bawah pengelolaan pemerintah daerah secara rutin mengikuti pelatihan di Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun.

"Petugas perlintasan secara reguler kami didik selama dua minggu di Akademi Perkeretaapian Madiun. Mereka dibekali pengetahuan pengamanan dan memperoleh sertifikat resmi," ujarnya.

KAI Minta Maaf dan Perketat Pengawasan

Secara terpisah, Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, kembali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden di JPL Mengkreng.

Ia menegaskan KAI tidak mentoleransi pelanggaran prosedur operasional yang berpotensi membahayakan keselamatan perjalanan kereta api maupun pengguna jalan.

"Kami akan terus memperkuat pembinaan dan pengawasan kepada seluruh petugas perlintasan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. KAI berkomitmen menjaga keandalan operasional dan memberikan pelayanan yang mengedepankan aspek keselamatan," tegas Tohari.

Selain memperketat pengawasan terhadap petugas, KAI juga mengimbau masyarakat agar tidak hanya mengandalkan palang pintu saat melintasi rel, melainkan tetap berhenti, melihat ke kanan dan kiri, serta memastikan tidak ada kereta yang melintas sebelum menyeberang.
 
(Isya Anshori/tribunmataraman.com) 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.