Dua Kali Sepekan Dewi Melawan Kematian demi Menyaksikan Anak-anaknya Tumbuh, JKN Menjaga Harapan Itu
Evan Saputra July 24, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Jarum jam menunjukkan pukul 12.31 WIB, Sabtu, 18 Juli 2026.

Matahari tepat berada di atas langit Pangkalpinang ketika seorang perempuan berjilbab perlahan melangkah keluar dari ruang hemodialisis Primaya Hospital Bhakti Wara.

Bibirnya pucat, langkahnya pelan. Sesekali tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga harus dipapah anaknya menuju kursi ruang tunggu.

Jilbab yang dikenakannya tampak tak lagi rapi. Beberapa helai rambut keluar dari balik penutup kepala, di tangan kirinya masih menempel balutan perban putih bekas jarum yang beberapa jam sebelumnya menjadi jalan keluar masuk darah dari tubuhnya menuju mesin cuci darah.

Perempuan itu bernama Dewi (44).

Bagi Dewi, pertarungan itu belum selesai. Dua kali setiap pekan ia harus menjalani prosedur yang sama agar tubuhnya tetap bertahan.

"Suka lemas dan pusing kalau setiap selesai cuci darah," ucapnya lirih.

Sejak dokter mendiagnosisnya mengidap gagal ginjal dua tahun lalu, hidup Dewi berubah.

Setiap Rabu dan Sabtu, ia harus meninggalkan rumahnya di Desa Keretak, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, menuju Pangkalpinang. Perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam itu bukan untuk bekerja atau berbelanja, melainkan demi mempertahankan hidup.

Pagi-pagi benar ia sudah bersiap. Berangkat sebelum matahari meninggi agar bisa tiba sesuai jadwal pelayanan. Setelah mendaftar, ia kembali menunggu giliran. Ketika namanya dipanggil, perjuangan berikutnya dimulai.

Elsa (kiri) mendampingi sang ibu, Dewi (44), usai menjalani terapi hemodialisis di Primaya Hospital Bhakti Wara Pangkalpinang, Sabtu (18/7/2026). Dua kali setiap pekan, Dewi harus menjalani cuci darah untuk mempertahankan hidup, sementara kehadiran putrinya menjadi penyemangat dalam setiap perjuangan melawan gagal ginjal. (
Elsa (kiri) mendampingi sang ibu, Dewi (44), usai menjalani terapi hemodialisis di Primaya Hospital Bhakti Wara Pangkalpinang, Sabtu (18/7/2026). Dua kali setiap pekan, Dewi harus menjalani cuci darah untuk mempertahankan hidup, sementara kehadiran putrinya menjadi penyemangat dalam setiap perjuangan melawan gagal ginjal. ( (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

Selama tiga hingga lima jam, darah di dalam tubuhnya dipompa keluar, disaring melalui mesin, lalu dialirkan kembali. Proses itu berulang tanpa henti, menjadi rutinitas yang tak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan.

Bagi Dewi, tiga hingga lima jam itu bukan sekadar terapi. Itulah cara ia mempertahankan hidup.

Perjalanan pulang justru sering menjadi bagian yang paling berat.

Tubuhnya kehilangan tenaga, kepalanya terasa ringan, kadang pandangannya berkunang-kunang. Kadang ia harus pulang pergi menggunakan sepeda motor bersama suaminya. Membayangkan perjalanan sejauh itu dalam kondisi tubuh yang baru selesai menjalani hemodialisis saja sudah terasa melelahkan.

Di kampungnya, Dewi tinggal bersama keluarga di rumah sederhana yang sebagian masih berbahan kayu. Rumah itu jauh dari kesan mewah, tetapi menjadi tempat ia kembali setiap selesai menjalani pengobatan.

Suaminya bekerja sebagai tukang bangunan.

Pekerjaan itu tidak selalu ada. Ada bulan ketika panggilan bekerja datang hampir setiap hari, tetapi ada pula waktu-waktu ketika tidak ada satu pun proyek yang bisa dikerjakan.

Penghasilan keluarga bergantung pada pekerjaan yang tidak menentu.

Di tengah kondisi ekonomi seperti itu, vonis gagal ginjal datang tanpa pernah mereka rencanakan.

Putri sulungnya, Elsa (22), baru saja menyelesaikan kuliah di Palembang. Hari wisuda yang semestinya menjadi kebanggaan keluarga justru menyisakan ruang kosong.

Dewi tidak mampu datang, tubuhnya tak cukup kuat untuk menempuh perjalanan jauh, sementara kondisi ekonomi keluarga membuat pilihan itu semakin berat. Hari itu hanya sang ayah, Japani, yang duduk di deretan kursi tamu menyaksikan Elsa mengenakan toga.

Bagi Elsa, ketidakhadiran sang ibu menjadi satu-satunya hal yang membuat kebahagiaan wisudanya terasa belum lengkap.

"Mamak sebenarnya ingin sekali datang. Tapi kondisi kesehatan mamak tidak memungkinkan, ditambah biaya perjalanan juga bukan sedikit. Akhirnya cuma bapak yang datang ke wisuda saya," ujar Elsa.

Elsa mengaku lebih sering melihat ibunya memikirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Bahkan sepulang menjalani cuci darah, ketika tubuhnya masih lemas, Dewi tetap berusaha melakukan pekerjaan rumah.

"Kami sering bilang, 'Mak, biar kami saja yang kerjakan.' Tapi mamak tetap mau. Katanya adik yang masih SD masih butuh ibu, masih harus disiapkan baju sekolahnya, makanannya. Mamak memang begitu, lebih sering memikirkan kami daripada dirinya sendiri," katanya.

Namun Dewi tidak pernah sendirian menghadapi penyakitnya.

Ia menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang iurannya ditanggung Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Selama dua tahun terakhir, Program JKN menjadi penopang pengobatannya.

"Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, tidak kebayang bagaimana. Mana ada duit kami untuk pengobatan saya selama bertahun-tahun ini," katanya.

Bukan hanya tindakan cuci darah yang harus ia jalani dua kali setiap pekan.

Dalam kondisi tertentu, ketika kesehatannya menurun, Dewi juga harus menjalani perawatan inap selama beberapa hari.

Semua itu membuatnya sering membayangkan satu pertanyaan yang tidak pernah ingin benar-benar ia jawab.

Bagaimana jika keluarganya harus membayar seluruh biaya pengobatan itu sendiri?

"Selain cuci darah, belum lagi kalau tiba-tiba drop harus dirawat. Kalau harus bayar rumah sakit sendiri, kami tidak yakin bisa. Obat-obatan juga ditanggung BPJS," tuturnya.

Kalimat itu diucapkan tanpa nada berlebihan.

Bagi Dewi, Program JKN bukan sekadar kartu yang disimpan di dompet.

Ia menyebutnya sebagai penolong.

"BPJS adalah penolong kami. Kami tidak bayar sedikit pun. Setiap berobat atau cuci darah kami cukup pakai KTP, langsung bisa berobat."

Di balik wajah yang masih pucat, ada harapan yang terus ia genggam.

Harapan yang sederhana, bukan tentang kekayaan, bukan pula tentang kemewahan. Ia hanya ingin diberi waktu lebih panjang.

Lebih lama mendampingi tiga anak perempuannya tumbuh dewasa.

"BPJS membantu saya untuk hidup lebih lama, hidup lebih panjang untuk bisa melihat anak-anak saya sukses. Tidak terbayang kalau tidak ada BPJS," ujarnya sambil menatap putrinya yang setia menunggu di samping kursi.

Namun perjuangan Dewi belum selesai ketika ia tiba di rumah. Tubuhnya memang meminta istirahat, tetapi peran sebagai seorang ibu membuatnya kembali bangkit.

Sesampainya di rumah, Dewi biasanya langsung beristirahat. Suara kipas angin yang berputar di ruang tengah menjadi teman paling setia mengusir letih setelah perjalanan panjang dari Pangkalpinang.

Rumah itu berdiri sederhana, lantai semen membentang di bagian depan rumah. Dinding tembok menopang ruang tamu yang diisi kursi-kursi model lama. Beberapa foto keluarga tergantung di dinding, menjadi saksi perjalanan hidup yang tak selalu mudah.

Sementara bagian belakang rumah masih didominasi dinding kayu, tak ada kemewahan.

Namun di rumah itulah Dewi selalu ingin kembali, setelah tenaga mulai pulih, ia perlahan bangkit. Ia menuju dapur, mengecek persediaan lauk, menyiapkan makanan, melakukan pekerjaan rumah tangga yang masih sanggup dikerjakan.

Pekerjaan berat memang telah ia tinggalkan, tetapi menjadi ibu, tidak pernah.

"Kalau yang berat-berat tidak lagi. Tapi kalau masak tetap saya. Kalau bukan saya, siapa lagi," katanya sambil tersenyum tipis.

Senyum itu tak sepenuhnya menghapus pucat di wajahnya, namun cukup untuk menunjukkan satu hal.

Bahwa di tengah tubuh yang terus berjuang melawan penyakit, Dewi masih ingin menjalankan peran yang menurutnya paling penting dalam hidup.
Menjadi seorang ibu.

Dua hari lagi Dewi akan kembali berangkat ke Pangkalpinang. Mesin hemodialisis akan kembali menunggu. Begitu pula perjalanan pulang dengan tubuh yang lemah.

Namun di rumah sederhana itu masih ada anak bungsunya yang menunggu seragam sekolah disiapkan, masih ada dapur yang ingin ia nyalakan, dan masih ada mimpi menyaksikan ketiga putrinya menjalani hidup yang lebih baik. 

Selama harapan itu masih ada, Dewi akan terus datang ke ruang hemodialisis, menjalani rutinitas yang menguras tenaga demi satu tujuan sederhana. Sebab bagi seorang ibu, setiap perjalanan menuju mesin cuci darah bukan sekadar ikhtiar melawan penyakit. Itu adalah cara membeli waktu agar tetap bisa menyaksikan ketiga putrinya tumbuh, meraih cita-cita, dan menjalani hidup yang lebih baik.

JKN Tak Hanya Menjamin Cuci Darah, tetapi Melindungi Keluarga dari Bencana Finansial

Di balik kisah Dewi (44), warga Desa Keretak, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, yang dua kali sepekan menjalani terapi cuci darah, tersimpan makna lain dari hadirnya Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Bukan sekadar membuka akses layanan kesehatan, tetapi juga melindungi keluarga dari beban biaya pengobatan yang terus berlangsung dalam jangka panjang

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pangkalpinang, Aswalmi Gusmita, mengatakan pasien gagal ginjal kronis seperti Dewi membutuhkan terapi hemodialisis secara rutin dan berkesinambungan. Tanpa jaminan kesehatan, biaya yang harus ditanggung pasien akan sangat besar.

"Untuk kasus seperti Ibu Dewi, selain memberikan akses terhadap layanan cuci darah itu sendiri, Program JKN juga menjadi penyelamat dari bencana finansial akibat biaya pelayanan kesehatan yang sangat besar karena terapinya harus dilakukan secara terus-menerus," kata Aswalmi, kepada Bangkapos.com, Selasa (21/7/2026).

Ia menjelaskan, satu kali tindakan hemodialisis membutuhkan biaya lebih dari Rp700 ribu. Sementara sebagian besar pasien harus menjalani terapi sebanyak dua kali dalam sepekan atau sekitar delapan kali dalam satu bulan.

Artinya, biaya hemodialisis saja dapat mencapai lebih dari Rp5,6 juta setiap bulan untuk satu pasien. Jika dijalani selama dua tahun seperti yang dialami Dewi, total biaya pelayanan yang dibutuhkan mencapai ratusan juta rupiah.

"Bayangkan pasien harus cuci darah dua kali seminggu. Rata-rata delapan kali dalam sebulan dengan biaya lebih dari Rp700 ribu setiap tindakan. Dengan Program JKN, biaya tersebut dijamin sesuai ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Aswalmi menambahkan, jaminan bagi pasien gagal ginjal tidak berhenti pada layanan hemodialisis. Program JKN juga menanggung pelayanan kesehatan lain yang diperlukan pasien sesuai indikasi medis.

Menurutnya, keberlanjutan terapi menjadi faktor penting bagi pasien gagal ginjal kronis. Karena itu, kepastian pembiayaan melalui Program JKN memberikan rasa aman bagi pasien agar dapat menjalani pengobatan secara rutin tanpa terhambat kemampuan ekonomi.

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, jumlah peserta JKN yang menjalani terapi hemodialisis sepanjang tahun 2026 tercatat mencapai 605 pasien. Masing-masing pasien rata-rata memperoleh layanan delapan kali setiap bulan.

Besarnya kebutuhan pembiayaan tersebut, kata Aswalmi, menjadi gambaran nyata bagaimana Program JKN dibangun di atas semangat gotong royong.

Ia mengibaratkan, untuk membiayai satu pasien yang menjalani terapi cuci darah secara rutin, dibutuhkan kontribusi iuran dari sekitar 120 peserta JKN yang berada dalam kondisi sehat.

"Melalui semangat gotong royong, masyarakat yang sehat bersama-sama menopang pembiayaan masyarakat yang sedang sakit. Inilah fondasi utama Program JKN," katanya.

Karena itu, Aswalmi mengingatkan masyarakat agar memastikan status kepesertaan JKN tetap aktif. Menurutnya, manfaat Program JKN tidak hanya dirasakan ketika seseorang jatuh sakit, tetapi juga saat masih dalam kondisi sehat melalui berbagai layanan promotif dan preventif.

Salah satunya adalah skrining riwayat kesehatan yang dapat dimanfaatkan peserta JKN satu kali setiap tahun untuk seluruh kelompok usia.

Apabila dari hasil skrining ditemukan faktor risiko penyakit tertentu, peserta akan diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan sesuai prosedur yang berlaku.

"Jangan menunggu sakit baru memanfaatkan JKN. Saat masih sehat pun peserta bisa melakukan skrining kesehatan secara berkala. Jika terdeteksi ada faktor risiko, dapat segera dilakukan pemeriksaan lanjutan sehingga penyakit bisa diketahui dan ditangani lebih dini," tutur Aswalmi.

Baginya, kisah Dewi hanyalah satu dari ratusan pasien gagal ginjal di Bangka Belitung yang menggantungkan harapan pada keberlangsungan terapi. Di balik setiap tindakan hemodialisis yang dijalani, Program JKN tidak hanya menghadirkan akses layanan kesehatan, tetapi juga menjaga agar penyakit tidak berubah menjadi bencana finansial bagi keluarga.

Di balik angka kepesertaan yang terus bertambah dan besarnya pembiayaan pelayanan kesehatan yang setiap tahun digelontorkan, ada wajah-wajah sederhana seperti Dewi yang menggantungkan harapan pada hadirnya jaminan kesehatan.

Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, sakit bukan hanya persoalan melawan penyakit, tetapi juga pertarungan agar tidak jatuh semakin dalam ke jurang kemiskinan akibat biaya pengobatan. Di titik itulah Program JKN menjadi bagian dari semangat gotong royong bangsa. 

Mereka yang sehat turut menopang mereka yang sedang berjuang, sehingga masyarakat, terutama keluarga kurang mampu seperti Dewi, tetap memiliki kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan tanpa dibayangi kekhawatiran akan biaya.

Di balik setiap kartu JKN, sesungguhnya tersimpan ribuan kisah tentang harapan yang dipertahankan. Dan kisah Dewi menjadi satu pengingat bahwa bagi sebagian orang, jaminan kesehatan bukan sekadar layanan publik, melainkan kesempatan untuk tetap menjalani hidup dan menyaksikan orang-orang yang mereka cintai tumbuh di masa depan.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.