TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Terjadinya angin kencang yang menerjang sejumlah wilayah di Tarakan Kalimantan Utara pada Kamis (23/7/2026) sore hingga menyebabkan pohon tumbang dan atap rumah rusak dipastikan bukan disebabkan langsung oleh Siklon Tropis Noul.
Forecaster on Duty (FoD) BMKG Tarakan, Muhammad Reza Saputra, menjelaskan saat angin kencang terjadi, Siklon Tropis Noul belum terbentuk. Sistem cuaca tersebut baru berkembang dari bibit siklon tropis 92W menjadi siklon tropis pada Jumat (24/7/2026) pukul 02.00 Wita.
"Siklon Tropis Noul berkembang dari bibit siklon tropis 92W menjadi siklon tropis pada tanggal 24 Juli 2026 pukul 02.00 WITA. Jadi angin kencang kemarin bukan dari pengaruh Siklon Tropis Noul, melainkan pengaruh pada saat masih menjadi bibit siklon tropis 92W," ucap Muhammad Reza Saputra.
Meski demikian, bibit siklon tersebut tetap memberikan pengaruh tidak langsung terhadap kondisi atmosfer di Kalimantan Utara. Dampaknya lebih mengarah pada peningkatan potensi hujan dibandingkan angin kencang.
Baca juga: Terjadi Angin Kencang di Tarakan, Pohon Tumbang hingga Atap Rumah Warga Terbang di Juata Permai
Menurut Muhammad Reza Saputra, dalam beberapa hari ke depan wilayah Kalimantan Utara masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas bervariasi. Namun, khusus untuk Kota Tarakan, curah hujan diperkirakan berada pada kategori ringan.
"Dampak tidak langsung di wilayah Kalimantan Utara berpotensi terjadinya hujan sedang hingga lebat. Untuk wilayah Tarakan diprediksi mengalami hujan dengan intensitas ringan. Wilayah dengan potensi hujan sedang hingga lebat meliputi Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau," ujarnya.
Ia menerangkan, meskipun pusat Siklon Tropis Noul berada jauh dari Indonesia, sistem tersebut tetap dapat memengaruhi kondisi cuaca di wilayah utara Kalimantan melalui perubahan sirkulasi atmosfer.
"Siklon tropis ini menarik massa udara basah di sekitarnya, termasuk massa udara dari Samudra Hindia dan Laut China Selatan mengalir melewati Indonesia bagian utara menuju pusaran sistem atau pusat siklon," jelasnya.
Selain itu, pertumbuhan siklon juga memicu terbentuknya pola belokan angin atau shearline yang memanjang di atas Kalimantan Utara. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
"Pergerakan atau pertumbuhan siklon ini menciptakan pola belokan angin (shearline) yang memanjang di atas wilayah Kalimantan Utara yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan," katanya.
Baca juga: BPBD dan Korlakar Tarakan Tangani 13 Pohon Tumbang, Didominasi Mangga dan Sengon, Bantu Terpal
Meski memengaruhi pembentukan awan hujan, BMKG memastikan tidak ada potensi peningkatan angin kencang di Kalimantan Utara dalam 24 jam ke depan akibat dampak tidak langsung Siklon Tropis Noul.
"Dalam 24 jam ke depan tidak terdapat potensi angin kencang di Kalimantan Utara akibat dampak tidak langsung Siklon Tropis Noul," ujar Reza.
Hal serupa juga berlaku terhadap kondisi perairan. BMKG belum melihat adanya ancaman gelombang tinggi di wilayah perairan Kalimantan Utara.
"Berpengaruh terhadap potensi curah hujan intensitas sedang hingga lebat, tetapi tidak terdapat potensi gelombang tinggi lebih dari 1,25 meter di Perairan Kalimantan Utara, meliputi Perairan Nunukan-Sebatik, Tarakan dan Tanjung Selor," ungkapnya.
Muhammad Reza Saputra menambahkan, pengaruh tidak langsung Siklon Tropis Noul diperkirakan hanya berlangsung dalam waktu singkat karena sistem tersebut bergerak menjauhi wilayah Indonesia.
"Siklon Tropis Noul diprediksi bergerak menuju arah timur laut menjauhi Indonesia. Pengaruh tidak langsung dari siklon tropis ini di Kalimantan Utara bisa dua sampai tiga hari," katanya.
Selain faktor bibit siklon tropis, BMKG juga mencatat masih ada faktor lokal yang berperan dalam pembentukan cuaca di Kalimantan Utara.
"Selain itu, skala lokal juga memengaruhi pembentukan hujan di Kalimantan Utara, seperti kelembapan udara yang tinggi akibat pemanasan muka laut di perairan sekitar Kalimantan Utara," jelas Muhammad Reza Saputra.
BMKG sendiri telah lebih dahulu menerbitkan informasi mengenai pertumbuhan Siklon Tropis Noul beserta dampak tidak langsungnya kepada masyarakat.
"Ya, BMKG telah merilis informasi pertumbuhan siklon tropis dan dampak tidak langsungnya," ujarnya.
Terkait wilayah yang masih berpotensi mengalami angin kencang akibat siklon tersebut, BMKG memastikan hingga saat ini belum ada indikasi ancaman di seluruh wilayah Kalimantan Utara.
"Tidak ada dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Noul berupa angin kencang di Kalimantan Utara dalam 24 jam ke depan," tegasnya.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang masih mungkin terjadi selama beberapa hari mendatang.
"BMKG mengimbau masyarakat Kalimantan Utara untuk selalu mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, menghindari lokasi rawan longsor saat ada potensi hujan lebat, serta memantau informasi resmi dari BMKG melalui media sosial maupun aplikasi Info BMKG dan website BMKG," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah