TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Badan Penanggulanggan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan langsung melakukan penanganan sejumlah pohon tumbang di Juata Permai dan Juata Laut Tarakan Kalimantan Utara, usai terjadi cuaca ekstrem, Kamis (23/7/2026) sore.
"Yang kita tangani itu ada 10 pohon tumbang, sedangkan yang ditangani Korlakar Tarakan ada 3 pohon tumbang. Jadi total ada 13 kejadian pohon tumbang," ucap Kepala BPBD Tarakan Yonsep, Jumat (24/7/2026). Diketahui pohon tumbang di Juata Permai dan Juata Laut ini berada di sekitar fasilitas kabel listrik
Yonsep mengatakan, karakteristik pohon di Tarakan memiliki sistem perakaran yang menyebar di permukaan tanah, jadi lebih mudah tumbang ketika diterpa angin kencang.
"Tanaman di Tarakan ini kan tanamannya di permukaan. Tidak pernah memiliki akar tunggal karena dari hasil pembibitan. Jadi hanya akar serabut di atas. Itu yang mengakibatkan lebih mudah pohon tumbang," ujar Yonsep.
Baca juga: Terjadi Angin Kencang di Tarakan, Pohon Tumbang hingga Atap Rumah Warga Terbang di Juata Permai
Jenis pohon yang paling banyak tumbang, didominasi pohon mangga dan beberapa pohon sengon.
"Itu pohon mangga dan ada juga beberapa pohon sengon. Bukan hanya pohon tua, pohon yang masih berusia juga bisa tumbang karena akarnya tidak masuk ke dalam tanah. Kalau dipupuk terus subur, beban pohonnya semakin berat sehingga gampang tumbang," lanjut Yonsep.
Selain pohon tumbang, BPBD Tarakan juga menerima laporan atap rumah warga terbang
"Ada empat kalau tidak salah, tapi itu masih dihitung dampaknya," kata Yonsep.
Sebagai langkah awal penanganan, BPBD Tarakan telah menyalurkan bantuan darurat kepada warga terdampak sambil berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lanjutan.
"Sementara ini kita memberikan terpal. Setelah itu kita koordinasikan. Tadi saya suruh ke Perkim untuk membicarakan tindak lanjutnya," kata Yonsep.
Ia memastikan personel BPBD Tarakan selalu bersiaga menghadapi potensi bencana yang terjadi sewaktu-waktu.
Baca juga: BPBD Tarakan Gerak Cepat Tangani Pohon Tumbang di Perbukitan, Yonsep: Resiko Terguling
"Kalau untuk kita sudah standby. Di kantor ada tiga orang yang selalu siaga. Tapi kalau ada kejadian, seluruh personel turun, termasuk tim penanganan kebencanaan yang ada 16 orang," ungkapnya.
Dalam penanganan di lapangan, BPBD Tarakan bekerja sama dengan TNI, Polri, relawan, termasuk Komunitas Relawan Tarakan (Kolakar), serta masyarakat setempat.
"Terjadi itu bersama Polri dan TNI, bersama masyarakat, serta relawan seperti Kolakar," ujarnya.
Yonsep mengingatkan sejumlah wilayah yang dinilai rawan ketika cuaca ekstrem melanda. Salah satunya kawasan Gunung Selatan yang banyak terdapat pohon tua di tepi jalan, serta jalur menuju Juwata.
"Yang paling rawan itu daerah Gunung Selatan, terutama jalan yang banyak pohon tua di pinggir jalan. Kalau di kota kebanyakan berada di arah Juwata. Hati-hati dengan itu," katanya.
Ia menyarankan masyarakat melakukan pemangkasan dahan pohon secara mandiri untuk mengurangi risiko pohon tumbang. Sementara untuk pohon tua atau miring yang berada di ruang publik, masyarakat diminta melaporkannya kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
"Kalau bisa dipotong dahannya secara inisiatif supaya mengurangi beban pohon. Tapi kalau pohonnya sudah tua atau miring, itu menjadi kewenangan DLH," jelasnya.
Yonsep menambahkan, ancaman cuaca ekstrem tidak hanya berupa hujan lebat, tetapi juga angin kencang yang berpotensi berkembang menjadi puting beliung, terutama memasuki Agustus dan Desember.
"Puting beliung itu biasanya di bulan Agustus dan Desember. Bisa saja terjadi. Yang kemarin itu bukan puting beliung, tapi sejenis badai dalam siklus kecil," katanya.
Tak lupa Yonsep mengimbau masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di ruang terbuka saat angin kencang terjadi demi menghindari risiko tertimpa pohon atau material lainnya.
"Kami berharap kepada masyarakat tetap berhati-hati dalam cuaca ekstrem ini. Kalau sudah seperti itu, jangan memaksa diri berjalan di tempat terbuka. Istirahat dulu. Kemarin saja di Sebengkok sudah ada mobil yang penyok akibat kejadian itu," tukasnya.
Diketahui, sebelum terjadi cuaca ektrem, BPBD Tarakan telah melakukan penanganan bencana longsor di Kampung Enam dan di Karang.
(*)
Penulis: Andi Pausiah