Laporan Wartawan Tribunjabar.id Nazmi Abddurrahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Orangtua calon siswa baru di Bogor, meminta bantuan langsung kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, setelah anaknya diduga dipermainkan dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di SMAN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Orangtua tersebut bahkan mengaku anaknya mengalami trauma, hingga tidak lagi mau bersekolah di mana pun.
Keluhan itu disampaikan melalui video yang beredar di media sosial. Dalam video tersebut, orangtua menceritakan anaknya semula dinyatakan tidak lolos SPMB di SMAN 1 Cileungsi, sehingga memilih melanjutkan pendidikan ke SMA Swasta Nagrak.
Anak tersebut bahkan telah diterima dan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolah swasta tersebut.
Namun pada Rabu (15/7/2026), pihak keluarga mengaku dihubungi panitia SPMB SMAN 1 Cileungsi. Mereka diminta datang ke sekolah karena terdapat delapan kursi kosong, setelah sejumlah calon siswa mengundurkan diri.
Orangtua kemudian menjemput anaknya dari sekolah swasta untuk memenuhi panggilan tersebut. Setibanya di SMAN 1 Cileungsi, seluruh proses administrasi diselesaikan, mulai dari pengisian formulir hingga penandatanganan dokumen di atas materai.
Bahkan, sekitar pukul 12.00 WIB, pihak sekolah disebut telah menyatakan anaknya resmi diterima dan diminta mengikuti kegiatan MPLS di SMAN 1 Cileungsi keesokan harinya.
"Setelah semua data masuk sekitar jam 12 siang, kita diperbolehkan pulang dan calon siswa diharapkan datang untuk mengikuti kegiatan MPLS di SMAN 1 Cileungsi besok pagi," ujar orangtua tersebut dalam video.
"Tepat sekitar jam 4 sore di hari yang sama, kami dihubungi kembali oleh pihak sekolah bahwa siswa tersebut tidak diterima dengan alasan sistem ditutup dan tidak bisa diakses sampai malam hari oleh pihak sekolah," katanya.
Keesokan harinya, Kamis (16/7/2026), pihak sekolah kembali menghubungi keluarga dan menyatakan penerimaan anak tersebut dibatalkan.
Orangtua mengaku sangat kecewa karena sebelumnya telah memperoleh kepastian bahwa anaknya diterima. Ia menilai pembatalan tersebut telah menimbulkan kerugian, baik waktu, tenaga, maupun biaya, termasuk dampak psikologis terhadap anaknya.
"Saya merasa sangat dirugikan karena sebelumnya kami sudah mendapat kepastian dan janji bahwa anak kami diterima untuk mengisi kuota yang kosong. Bahkan kami juga sudah melakukan daftar ulang, tanda tangan di atas materai," ujarnya.
Dampak paling berat kini dirasakan oleh anaknya, yang mengaku kehilangan semangat untuk melanjutkan sekolah.
"Dampaknya, saya merasa dirugikan baik secara waktu, tenaga, maupun psikologis, terutama mental anak saya, sehingga dia tidak mau bersekolah di mana pun," katanya.
Melalui video tersebut, orangtua peserta didik itu berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan perhatian dan menindaklanjuti dugaan persoalan dalam proses SPMB di SMAN 1 Cileungsi tersebut.
Tribun mencoba menginformasi peristiwa tersebut kepada Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Barat, Purwanto. Namun, Purwanto mengarahkan agar dilakukan konfirmasi secara langsung kepada Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah I, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Cucu Salman.
"Tanya langsung ke kepsek (Kepala Sekolah) atau KCD nya," ujar Purwanto.
Tribun kemudian menghubungi Cucu Salman, selaku Kepala KCD Wilayah I Disdik Provinsi Jabar sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, hingga pukul 14.00 WIB belum direspons.