Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Andika Satria Bharata
TRIBUNPALU.COM, SIGI – Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae mendorong tradisi Rego dapat menjadi identitas budaya yang melekat dengan Kabupaten Sigi dan dikenal hingga tingkat nasional maupun internasional.
Hal itu disampaikan Rizal saat membuka Festival Danau Lindu 2026 di kawasan Danau Lindu, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (23/7/2026).
Rizal mengatakan penguatan identitas budaya menjadi salah satu hal penting dalam membangun sektor pariwisata.
Baca juga: Polisi Ungkap 173 Botol Miras Ilegal di Luwuk Didatangkan dari Manado Lewat Jalur Darat
Menurutnya, setiap daerah memiliki kekhasan budaya yang menjadi penanda dan daya tarik bagi wisatawan.
Ia mencontohkan Tari Kecak yang identik dengan Bali, Ondel-Ondel dengan Betawi, Angklung dengan Sunda, serta Dero yang dikenal sebagai salah satu budaya masyarakat Poso.
“Kalau kita bicara Tari Kecak, semua orang tahu itu punya Bali. Kalau kita bicara Ondel-Ondel, semua orang tahu itu dari Betawi. Kalau kita bicara Dero, semua orang tahu itu dari Poso. Kalau kita bicara Angklung, semua orang tahu itu dari Sunda,” kata Rizal.
Menurutnya, Kabupaten Sigi juga memiliki kekayaan budaya yang dapat diperkenalkan sebagai identitas daerah. Salah satunya adalah tradisi Rego yang telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Rizal kemudian mengajak para akademisi, budayawan, dan tokoh adat untuk mengkaji lebih dalam mengenai Rego agar dapat diperkuat secara akademik sebagai bagian dari identitas budaya Kabupaten Sigi.
“Kalau orang bicara Rego, berarti itu Sigi,” ujarnya.
Ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi salah satu pembahasan dalam lokakarya yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Danau Lindu 2026.
Menurut Rizal, penguatan Rego sebagai identitas budaya tidak hanya berkaitan dengan pelestarian tradisi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata daerah.
Dengan adanya identitas budaya yang kuat, wisatawan diharapkan memiliki alasan lebih untuk datang dan mengenal Kabupaten Sigi, khususnya kawasan Danau Lindu.
Baca juga: Festival Danau Lindu 2026 Jadi Penggerak Pariwisata Berkelanjutan di Sigi
“Apakah kita bisa membranding kebudayaan kita di Kabupaten Sigi ini? Apa yang harus kita bicarakan dan apa yang harus kita sajikan kepada masyarakat internasional dan nasional untuk bisa menarik mereka berkunjung ke Danau Lindu,” katanya.
Rizal menilai meningkatnya kunjungan wisatawan akan memberikan dampak terhadap berbagai sektor ekonomi masyarakat.
Ia menyebut pariwisata dapat berjalan beriringan dengan pengembangan UMKM dan pertanian sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat.
“Insya Allah, itu bisa mengangkat Kabupaten Sigi dengan pariwisatanya dan akan mengangkat UMKM serta pertanian,” ujarnya.
Ia juga berharap pengembangan kawasan Danau Lindu dapat menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber peningkatan pendapatan masyarakat.
Karena itu, Rizal mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memperkuat promosi dan pengembangan pariwisata Sigi, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, OPD, camat, kepala desa, hingga para pelaku usaha.
Rizal berharap Festival Danau Lindu dapat terus berkembang dari tahun ke tahun dan mampu sejajar dengan festival-festival besar yang telah masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN).
“Saya mohon ada perhatian dari Kementerian Pariwisata untuk Sigi lebih maju di bidang pariwisata, bisa sejajar dengan Danau Toba, Danau Temohon, dan Danau Poso yang ada dalam event-event KEN di Indonesia,” katanya.
Ia meyakini penguatan budaya lokal, khususnya Rego, dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan Sigi kepada dunia.
Baca juga: Prediksi Skor Timor Leste vs Vietnam di Piala AFF: Vietnam akan Pesta Gol Malam Ini?
Festival Danau Lindu 2026 pun diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi menjadi ruang untuk menemukan dan memperkuat identitas budaya Sigi sekaligus membuka peluang baru bagi pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Bagi Rizal, ketika Rego telah dikenal luas dan orang langsung mengaitkannya dengan Sigi, maka daerah tersebut telah memiliki sebuah identitas budaya yang kuat untuk menjadi bagian dari daya tarik pariwisatanya.(*)