Bukan Sekadar Olahraga Santai, Atlet Gateball Bantul Siap Tampil di Kejurnas
Joko Widiyarso July 24, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Di sudut Stadion Dwiwindu, Kabupaten Bantul, sayup-sayup terdengar bunyi nyaring yang memecah riuhnya suasana sore. 

Bunyi stik besi berbentuk menyerupai palu beradu dengan bola kecil, meluncur cepat membelah rumput lapangan. 

Di sana, beberapa orang dengan ragam usia berkumpul, mata mereka lekat menatap ritme dan lintasan bola.

Itulah pemandangan yang terlihat dari para pegiat olahraga gateball Bantul yang tengah serius berlatih. 

Bagi sebagian orang awam, olahraga asal Jepang ini kerap diberi label sebagai olahraga santai atau sekadar rutinitas pengisi waktu luang para lansia. 

Namun, jika melihat lebih dekat ke dalam arena, ada gairah kompetitif yang berdenyut kencang. 

Gateball di Bantul bukan sekadar olahraga rekreasi, melainkan wadah pembinaan bagi atlet lintas generasi yang kini tengah bersiap membawa nama daerah menembus panggung nasional.

Akar Sejarah Gateball

Bola-bola bernomor, stik pemukul, dan perlengkapan gateball tampak di atas lapangan berumput saat sesi latihan.
Bola-bola bernomor, stik pemukul, dan perlengkapan gateball tampak di atas lapangan berumput saat sesi latihan. (TribunJogja/MG Fauzan Ardana)

Perjalanan gateball khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta sebenarnya memiliki riwayat yang cukup unik. 

Pada awalnya, olahraga ini masuk ke Pulau Jawa dan mayoritas hanya terpusat di kawasan Jakarta serta Bali.

Seiring dengan pesatnya perkembangan sektor pariwisata dan tingginya arus kunjungan wisatawan, gateball secara perlahan mulai merambah dan dikenal di wilayah Yogyakarta.

Kehadiran para wisatawan asing dan domestik memicu perkenalan awal, sebelum akhirnya dipopulerkan secara lebih luas oleh sejumlah tokoh dari stasiun televisi lokal TVRI, seperti Pak Sigit, Pak Bambang, dan Bu Yayak.

Dari pusat kota Yogyakarta, gateball merambat cepat ke daerah pinggiran, termasuk Kabupaten Bantul. 

Betty, salah satu pelatih sekaligus penggiat gateball di Bantul, menceritakan jejak awal masuknya olahraga ini ke wilayah tersebut.

“Untuk Bantul sendiri, sosialisasi awalnya itu akhir tahun 2011 melalui musyawarah guru (MGMP) PJOK tingkat SMP. Kemudian pada Januari 2012, Bantul langsung diikutkan untuk sirkuit pertama kali di Alun-alun Kulon Progo," ungkapnya.

Momen sirkuit perdana ini menjadi titik awal meningkatnya minat masyarakat secara pesat.

Untuk mewadahi banyaknya peminat, dibentuklah Protari sebagai klub gateball perdana di Bantul

Seiring bertambahnya antusiasme masyarakat, klub ini semakin ramai, hingga akhirnya harus dimekarkan untuk memperluas jangkauan pembinaan.

“Setelah anggotanya banyak, mulai dikembangkan dan dipecah. Pak Astopo membentuk Triple Red, Pak Edi di Spensa, lalu Pak Pardimin di Abiyasa Pinastika. Kemudian saya dan Pak Setyo mempertahankan Protari dan membuat Protek, lalu ada juga Pesisir," jelas Betty.

Prestasi Yang Terhimpit

2272026 - Gateball Bantul
Atlet muda gateball Bantul berlatih dan meracik strategi penempatan bola demi mematangkan persiapan menuju Kejurnas

Tumbuhnya ekosistem enam klub tersebut secara otomatis mematahkan stigma bahwa gateball adalah olahraganya para lansia. 

Ekosistem ini sukses melahirkan bibit-bibit atlet potensial. Di tingkat pelajar, regenerasi berjalan dengan sangat mulus. 

Kehadiran wajah-wajah muda di turnamen tingkat kabupaten dan provinsi, seperti Popda dan Popkab, menjadi bukti bergeraknya pembinaan di Yogyakarta. 

Bahkan, dua atlet muda berbakat, Naila dan Fauzan, baru saja memastikan diri lolos seleksi Kejuaraan Nasional atau Kejurnas.

Sayangnya, cerita regenerasi dan prestasi ini harus berhadapan dengan penghalang bernama infrastruktur. 

Olahraga gateball secara teknis membutuhkan spesifikasi lapangan tanah atau rumput yang rata dan tidak terlalu bergelombang. 

Di tengah laju prestasi yang kian melesat, ruang bagi mereka untuk sekadar mengayunkan stik justru semakin sempit.

“Kendala utama kami adalah lapangan. Kita belum punya lapangan khusus. Sekolah-sekolah sekarang halamannya sudah banyak yang dicor dengan semen atau paving, padahal gateball butuh lapangan tanah atau rumput," jelas Betty.

Tidak hanya kehilangan ruang berlatih di area sekolah, fasilitas publik pun juga menjadi arena perebutan. 

Karena tidak memiliki lahan mandiri, komunitas gateball kerap kali harus mengalah pada dominasi olahraga populer.

“Lapangan juga sering berbenturan dengan aktivitas sepak bola, seperti sirkuit besok Sabtu yang harusnya di Dwiwindu, terpaksa dipindah ke lapangan Segoroyoso," ujar Naila. 

Keterbatasan infrastruktur ini memaksa para atlet gateball Bantul berjuang lebih keras.

Mereka tidak hanya beradu strategi memperebutkan poin melawan tim musuh, tetapi juga harus berdamai dengan kenyataan sulit untuk mencari ruang latihan setiap minggunya. 

Namun, keterbatasan sarana prasarana tersebut tidak menyurutkan motivasi para atlet. 

Kini, fokus utama mereka dialihkan sepenuhnya pada agenda pemusatan latihan menuju Kejurnas.

Rencananya, Kejurnas yang awalnya akan dilaksanakan di Sulawesi tersebut telah dipindahkan ke Jakarta pada bulan September mendatang. 

Menghadapi kejuaraan besar tersebut, Yogyakarta bersiap mengirimkan atlet gateball terbaiknya yang terdiri dari 12 atlet putri dan 14 atlet putra. 

Di balik setiap pukulan stik di sisa-sisa rumput Dwiwindu maupun Segoroyoso, terselip sebuah pembuktian dan harapan besar. 

Mereka membuktikan bahwa dari sepetak tanah yang tersisa, medali dan prestasi nasional tetap bisa diukir. 

Tinggal bagaimana perjuangan ini direspons dengan adanya penyediaan fasilitas yang layak oleh pemerintah.

Fasilitas yang memadai akan memastikan proses pembinaan atlet usia pelajar di Bantul dapat terus berjalan dan berkembang maksimal.

(MG Fauzan Ardana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.