BANGKAPOS.COM -- Presiden Prabowo Subianto dianggap insecure dengan pemerintahan yang sedang ia pimpin.
Sejumlah pengkritik dianggap musuh oleh orang nomor satu di Indonesia ini.
Respon Prabowo dalam menanggapi kritik yang ditujukan kepadanya disayangkan oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira.
Menurutnya, ada baiknya Prabowo membalas kritik dengan argumen berbasis data yang valid.
Bhima juga menyayangkan Prabowo seakan memusuhi tiap pengkritik pemerintahanya dengan dibingkai sebagai pihak yang negatif.
Hal semacam itu menunjukkan Ketua Umum Partai Gerindra itu enggan adanya dialog dengan rakyat.
Baca juga: Sosok Ricky Rizal, Eks Ajudan Ferdy Sambo Hadiri Pelantikan Tribrata, Benarkah Sudah Bebas?
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebut istilah "londo ireng" masih ada di Indonesia dan, menurutnya, kini menggunakan "pakaian" sebagai wartawan, pengamat, hingga LSM.
"Dia foto besar, taruh di halaman pertama. Aduh... dia kira kita enggak ngerti, eh? Saya enggak sebutlah media mana itu. Kalau saya sebut ya pada saatnya akan saya sebut. Kalian sudah tahulah itu," ujarnya.
Setelah itu, Prabowo menuding ada segelintir orang yang senang mengabdi pada bangsa lain alih-alih bangsa Indonesia.
Pada momen itulah, dirinya menyebut pihak-pihak tersebut sebagai 'londo ireng'. Prabowo mengungkapkan jurnalis, pengamat, hingga LSM masuk dalam kelompok tersebut.
"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan," katanya.
"Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan?" sambung Prabowo.
Kendati demikian, Prabowo menyebut pemerintah yang dipimpinnya tidak antikritik.
"Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik, tapi kita bukan anak kecil," pungkasnya.
Pernyataan Prabowo tersebut kembali menjadi sorotan publik hingga istilah "londo ireng" pun mendadak viral di media sosial.
Lantas, apa arti "londo ireng" yang disampaikan Prabowo?
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat berpidato dalam acara Puncak Harlah ke-28 PKB di Jakarta, Kamis (23/7).
Prabowo menjelaskan, istilah "londo ireng" merujuk pada orang Indonesia yang, menurutnya, lebih berpihak kepada kepentingan asing.
Ia mengatakan, secara historis istilah tersebut digunakan untuk menyebut kelompok yang membantu Belanda melawan bangsa sendiri pada masa penjajahan.
Baca juga: Sosok Choirul Anwar, Eks Dirut KBS jadi Tersangka Korupsi Pakan Satwa, Rp7,4 M Dipakai Foya-foya
Sementara itu, politikus Ferdinand Hutahaean menilai Prabowo menggunakan istilah "londo ireng" dalam konteks teori intelijen.
Menurut Ferdinand, pihak asing memanfaatkan media, jurnalis, pengamat, dan LSM untuk menjalankan operasi intelijen.
Di sisi lain, peneliti sekaligus akademisi Made Supriatma melontarkan kritik terhadap pidato Prabowo.
Kritik tersebut disampaikan Made Supriatma melalui unggahan di media sosial pada Jumat (24/7).
Ia menilai pernyataan Prabowo sudah di luar batas. Bahkan, Made Supriatma justru menyebut Prabowo yang telah berkhianat terhadap konstitusi.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira buka suara terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menuding kelompok kritis seperti jurnalis, ekonom, pengamat, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sebagai 'londo ireng'.
Bhima menilai Prabowo telah melakukan kesesatan berpikir ketika menyampaikan tudingan tersebut.
Dia mengungkapkan Prabowo menyampaikan tudingan tersebut tanpa adanya data valid.
Selain itu, Bhima juga menganggap tuduhan Prabowo tersebut tidak relevan dengan segala kritik yang disampaikan berbagai pihak terkait pemerintahannya.
Ia juga menyesalkan bahwa Prabowo tidak membalas kritik dengan argumen berbasis data yang valid.
"Sangat disayangkan, bukan melalui data kritik disanggah tetapi ad hominem (menyerang personal) atau menyerang hal yang tidak relevan dengan topik permasalahan," katanya ketika dihubungi Tribunnews.com di Solo, Jawa Tengah, Jumat (24/7/2026).
"Misalnya soal MBG (Makan Bergizi Gratis) yang banyak dikritik jurnalis dan think tank (organisasi riset), maka harus dijawab pembenahan total programnya," sambung Bhima.
Bhima juga menyayangkan bahwa Prabowo seakan memusuhi tiap pengkritik pemerintahanya dengan dibingkai sebagai pihak yang negatif.
Hal semacam itu menunjukkan Ketua Umum Partai Gerindra itu enggan adanya dialog dengan rakyat.
"Kalau setiap kritik ditanggapi dengan menjadikan pihak pengkritik sebagai musuh dan di-framing negatif saya kira tidak ada dialog," tuturnya.
Di sisi lain, Bhima mengungkapkan tudingan Prabowo tersebut menjadi bukti bahwa setiap kritik yang dilayangkan jurnalis, ekonom, hingga LSM terbukti benar.
"Sehingga responsnya Presiden tidak menyanggah secara proporsional melainkan dengan serangan personal," kata Bhima.
Ketika ditanya penyebab Prabowo sampai menyampaikan tudingan tersebut, Bhima menganggap Presiden merasa tidak aman karena setiap program prioritas berujung ada masalah ketika dieksekusi.
"(Prabowo menyampaikan tudingan 'londo ireng' karena insecure dan merasa tidak aman, setelah banyak program prioritas bermasalah dari MBG, food estate, hingga Kopdes Merah Putih. Pelarian masalahnya dengan menyerang balik para kritikus," pungkasnya.