Sebanyak 405 Siswa Bakal Bersekolah di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Maluku Tengah 
Ode Alfin Risanto July 24, 2026 06:52 PM

‎Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo 

‎MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Maluku Tengah bakal menampung sebanyak 405 siswa dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

‎Ratusan siswa tersebar pada beberapa jenjang penerimaan berbeda, antara lain, 270 siswa yang baru dijangkau Dinas Sosial Maluku Tengah, 75 siswa SMP pada Sekolah Rakyat Rintisan Maluku Tengah, serta 60 siswa titipan dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 40 Ambon.

‎Demikian dirincikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Maluku Tengah, Ruslan Wailissa saat dikonfirmasi TribunAmbon, Kamis (23/7/2026).

‎"Jadi siswanya itu ada 3 tingkatan SD,SMP,SMA masing-masing 90, jadi 270 dan siswa kelas 2 (sebanyak 75 siswa) yang tingkatan SMP yang rintisan juga nanti di didorong ke sana. Jadi ditambah dengan titipan dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 40 Ambon), titipan ada 60 orang yang di titipkan di SR permanen terintegrasi 1 kabupaten Maluku Tengah," jelas Wailissa.

Baca juga: Tender Rp1 Miliar Dibuka, Perbaikan Jalan Bentas Ambon Dimulai Agustus

Baca juga: Pembangunan Belum Tuntas, Sekolah Rakyat Malteng Belum Ditempati 270 Siswa



‎Dikatakan pula, untuk penjangkauan siswa Sekolah Rakyat Maluku Tengah berasal dari 17 kecamatan minus Kecamatan Seram Utara Timur Kobi dan Kecamatan Nusa Laut.

‎"Untuk tahun ini kami penjangkauan di 17 kecamatan, mines Kobi dan nusa laut. di Nusa Laut siswanya sedikit jadi cenderung ke sekolah-sekolah umum," ulas dia.

‎Namun begitu, para siswa baru Sekolah Rakyat belum dapat menempati gedung sekolah yang berlokasi di Kelurahan Holo, Kecamatan Amahai.

‎Hal tersebut dikarenakan kondisi fisik sekolah yang belum rampung dikerjakan, alias belum mencapai target pengerjaan 100 persen.

‎Walau begitu, Dinas Sosial Maluku Tengah optimis Agustus 2026 mendatang,  bangunan sekolah tersebut dapat ditempati.

‎"Tapi dalam waktu dekat, optimismenya itu di Agustus, yang jelas di Juli belum (bisa ditempati). Kami usahakan nanti di Agustus," pungkas Kadis.

‎Ia menambahkan, para siswa 'istimewa' ini berasal dari berbagai latar belakang berbeda. Maka tentu, pihaknya memberikan perhatian terbaik bagi mereka.

‎"Sedangkan itu yang paling penting kita jalani karena siswa ini "diisimewaka!" dari berbagai latar belakang siswa yang hadir di lokasi justru itu yang kami istimewakan dengan memberikan yang terbaik," ulasnya.

‎Atas pertimbangan itulah, pihaknya memutuskan untuk dilakukan pembukaan MPLS terlebih dahulu, diikuti pemeriksaan kesehatan gratis pada tangga 13 - 14 Juli 2026. 

‎Setelahnya, para siswa dikembalikan ke orang tuanya sembari menunggu waktu yang pas agar mereka bisa menempati bangunan sekolah rakyat.

‎"Karena pertimbangan itu kita pembukaan saja dan melakukan cek kesehatan gratis pada tagal 13-14 Juli kemarin, setelah itu kami pulangkan lagi sambil menunggu waktu yang pas," tutur Wailissa.

‎Selain itu, Masa Perkenalkan Lingkungan Sekolah (MPLS) telah dibuka secara seremonial, dan akan dilanjutkan usai sarana prasarana sekolah dirampungkan. 

‎"Dilanjutkan (MPLS) setelah tim antar pemerintah daerah, dinas sosial, Kemensos berembuk dulu, dan kapan acara open house jadi kami memastikan harus semua sarana prasarana terpenuhi dulu," ujar Wailissa.

‎Ruslan Wailissa mengatakan, fasilitas penunjang termasuk kebutuhan air bersih demi kesehatan dan keselamatan siswa menjadi hal yang diutamakan.

‎"Terutama air bersih dan paling (penting) kesehatan dan keselamatan siswa, dan sarana prasarana masih belum siap, masih ada pekerjaan yang masih tertunda dan itu bisa berpengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan siswa," pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.