TRIBUNSTYLE.COM - Upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk meredakan konflik dengan Iran kembali berakhir tanpa hasil. Harapan munculnya titik terang lewat jalur diplomasi kembali pupus setelah Teheran secara tegas menolak proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan Washington.
Iran menegaskan tidak akan menerima kesepakatan apa pun yang mengabaikan kepentingan strategisnya, terutama menyangkut masa depan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
Mengutip laporan The Seattle Times, proposal tersebut disampaikan kepada pemerintah Iran melalui Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, yang datang ke Teheran setelah lebih dulu bertemu Presiden Donald Trump di Gedung Putih.
Namun, menurut sejumlah pejabat Iran dan Irak yang mengetahui jalannya diplomasi itu, usulan Washington dinilai gagal menyentuh akar persoalan yang selama ini menjadi tuntutan utama Teheran.
Hingga kini isi lengkap proposal belum dipublikasikan secara resmi. Meski demikian, pejabat Iran menyebut tawaran Amerika Serikat hanya berisi gencatan senjata sementara tanpa memberikan kepastian mengenai isu-isu strategis, khususnya menyangkut keamanan dan penguasaan Selat Hormuz.
Bagi Iran, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Kawasan itu merupakan titik paling vital di Teluk Persia sekaligus pintu keluar bagi sebagian besar ekspor minyak dunia. Karena itu, Teheran menilai perdamaian tidak akan pernah tercapai apabila kepentingannya di jalur strategis tersebut diabaikan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada proses penyampaian pesan melalui mediator, melainkan pada sikap Washington yang dinilai masih memaksakan kepentingannya sendiri.
"Masalahnya bukan penyampaian pesan. Masalahnya adalah pandangan Amerika yang tidak logis, serakah, dan ingin mengendalikan," ujar Araghchi kepada televisi pemerintah Iran.
Penolakan terhadap proposal gencatan senjata terjadi ketika ketegangan militer antara Washington dan Teheran terus meningkat ke level yang lebih berbahaya.
Dalam beberapa pekan terakhir, militer Amerika Serikat dilaporkan menggempur berbagai sasaran di wilayah Iran, mulai dari pangkalan militer hingga infrastruktur penting seperti jalur kereta api, bandara, pelabuhan, dan jembatan.
Iran tidak tinggal diam. Teheran membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai kawasan Timur Tengah.
Rangkaian aksi saling serang itu membuat peluang penyelesaian damai semakin menipis. Upaya sejumlah negara untuk menjadi penengah pun sejauh ini belum mampu menghentikan spiral konflik yang terus membesar.
Di balik gagalnya diplomasi, Iran ternyata telah menyiapkan skenario yang jauh lebih serius.
Dua pejabat Iran mengungkapkan angkatan bersenjata negara itu telah menyusun berbagai rencana apabila Presiden Donald Trump benar-benar memperluas serangan terhadap Teheran maupun infrastruktur strategis Iran.
Jika Washington meningkatkan operasi militernya, Iran disebut siap memperluas konflik hingga ke tingkat regional.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah meningkatkan serangan terhadap Tel Aviv di Israel serta meminta kelompok Houthi di Yaman menutup jalur pelayaran Bab el-Mandeb, penghubung Laut Merah dan Teluk Aden.
Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia setelah Selat Hormuz. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak besar terhadap distribusi minyak mentah, perdagangan internasional, hingga rantai pasok global.
Di dalam negeri, Iran juga menunjukkan bahwa mereka tidak berniat mundur menghadapi tekanan Washington.
Pada Kamis malam, ribuan pendukung pemerintah memadati Lapangan Azadi, Teheran. Dalam demonstrasi tersebut, militer Iran memamerkan rudal-rudal balistik buatan dalam negeri yang diarahkan ke langit sebagai simbol kesiapan menghadapi kemungkinan perang yang lebih luas.
Aksi itu menjadi pesan politik yang kuat bahwa Teheran mengklaim siap menghadapi tekanan militer maupun diplomatik dari Amerika Serikat apabila konflik terus meningkat.
Gagalnya proposal gencatan senjata terbaru menegaskan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Iran masih berada di titik paling rapuh. Selama tidak ada terobosan diplomatik yang mampu menjembatani kepentingan kedua negara, ancaman meluasnya konflik bukan hanya membayangi Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga berpotensi menyeret seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam krisis keamanan, energi, dan ekonomi dengan dampak global yang jauh lebih besar.