3 Tokoh Desak Polisi Usut Tuntas Pengemudi Alphard yang Maki Satpam Usai Ditegur Terobos Lampu Merah
Musahadah July 24, 2026 09:50 PM

 

SURYA.CO.ID - Nasib pengemudi Alphard yang cek-cok dengan petugas security (satpam) di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, kini makin terdesak. 

Hal ini setelah sejumlah pihak meminta polisi memberikan sanksi tegas bagi pengemudi Alphard yang hingga kini identitasnya masih dirahasiakan. 

Desakan memberikan sanksi tegas itu mencuat setelah video aksi pengemudi Alphard ini viral di media sosial.

Dalam video itu terlihat satpam Victor Harefa terlihat menyeberang di Bundaran HI.

Ketika lampu lalu lintas berubah merah, sebuah mobil Toyota Alphard tetap melaju sehingga ia mengetuk kaca mobil sambil menegur pengemudi.

Baca juga: Nasib Pengemudi Alphard yang Maki dan Minta Satpam Sujud Minta Maaf saat Ditegur Terobos Lampu Merah

Pengemudi bersama dua penumpangnya kemudian keluar dari mobil.

Ketiganya mendorong Victor lalu mengajaknya ke pos polisi. 

Menurut penuturan Victor, sesampai di pos polisi itu dia justru disalahkan. 

Victor bahkan sempat diperintahkan melakukan push-up saat cekcok dengan pengemudi dan dua penumpang Alphard. 

Kuasa hukum Viktor, Wira Harefa, mengatakan, kliennya tidak menyanggupi perintah tersebut karena belum makan sejak pagi.

"Tapi kan dia tidak melakukan push-up karena dia bilang dari pagi dia belum makan, belum sarapan sampai siang. Dan dia juga tangannya saat itu beberapa hari yang lalu dilakukan pengobatan juga tangan kanannya, sehingga tidak kuat melakukan push-up," ujar dia kepada Kompas.com, Jumat (24/7/2026).

Sebagai gantinya, Fiktor diminta berbaring di lantai sambil memperagakan gerakan seperti mengayuh sepeda dengan kedua kaki diangkat ke atas.

"Dilakukan, kalau itu dilakukan. Karena kan dia di bawah tekanan, diancam, dikata-katain binatang lah semua gitu," kata dia.

Selain diminta melakukan gerakan fisik, Wira mengatakan, kliennya juga mendapat ancaman akan dilaporkan ke tempat kerjanya agar dipecat.

"Dan diancam bahwa mau melaporkan ke tempat bekerja, untuk dipecat, 'Biar dipecat, biar enggak dapat pekerjaan,' digitu-gituin. Jadi dia jadi tambah parno," tutur dia.

Karena ancaman itu lah Victor ketakutan dan berinisiatif bersujud. 

"Kalau sujud itu kemauan saya sendiri, karena saya sudah ketakutan, sudah emosi, sama otak saya itu juga terganggu kemarin," ungkap Fiktor kepada Kompas.com di Mapolsek Metro Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2026).

"Karena saya tidak ada jalan keluar, saya salaman kepada beliau dan bersujud, minta maaf. 'Saya salah, saya akan jadikan pengalaman saya, pedoman saya untuk ke depannya untuk lebih hati-hati dalam melaksanakan tugas di area kerja terbatas,'" tutur Fiktor.

Ia juga mengeklaim harus dua kali bersalaman dan mencium tangan pengemudi Alphard demi meredam kemarahan pihak tersebut agar dia tidak dilaporkan ke perusahaan vendor.

Berikut reaksi dari sejumlah pihak: 

Perusahaan Tempat Victor Bekerja Beri Dukungan

Perusahaan kontraktor proyek WIKA-RAU KSO mendukung Viktor Harefa. 

"Perusahaan memberikan apresiasi kepada petugas keamanan yang telah berupaya menjalankan tugasnya dalam menjaga keselamatan masyarakat serta memastikan ketertiban di sekitar area proyek, sekaligus terus mendorong profesionalitas dan sisi humanis dalam menjalankan tugasnya," tulis Project Manager WIKA-RAU KSO melalui akun Instagram @ext.concoursemrtbhiwikarau, dikutip Jumat (24/7/2026).

Dalam pernyataannya, pihak perusahaan juga memastikan setiap personel yang menjalankan tugas secara profesional mendapatkan perlindungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Diketahui, Victor adalah pekerja di proyek MRT Jakarta.

Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu meluruskan narasi yang beredar luas di media sosial yang menyebut bahwa Victor adalah satpam Transjajarta yang ditugaskan membantu pejalan kaki menyeberang jalan.

"Yang bersangkutan bekerja di proyek MRT. Satpam di proyek MRT yang kebetulan akan melintas melewati zebra cross," ungkap Braiel kepada wartawan di Mapolsek Metro Menteng.

Braiel menegaskan, narasi di media sosial yang menyebutkan Victor sedang mengatur lalu lintas dan mengawal pejalan kaki menyeberang dipastikan kurang tepat.

Saat kejadian, Rabu (22/7/2026) siang, Victor sedang berjalan kaki mengenakan seragamnya karena bekerja di area konstruksi MRT di seberang Halte Transjakarta Bundaran HI.

"Bukan (menyeberangkan pejalan kaki). Yang bersangkutan (Victor) mau menyeberang juga," ujar Braiel.

Pramono Meminta Polisi Usut

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta aparat penegak hukum memberikan sanksi kepada pengemudi Alphard yang terlibat cekcok Victtor Harefa, apabila tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Permintaan itu disampaikan Pramono setelah melihat rekaman CCTV yang dimiliki Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

“Orang yang menegur harusnya yang diberikan sanksi, dan saya sudah minta untuk aparat penegak hukum, kalau kemudian ini tidak bisa diselesaikan secara baik, ya tentunya yang melakukan seakan-akan berkuasa begitu padahal dia salah, itu harus diberi sanksi,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Dari rekaman yang dimiliki Pemprov DKI, pengemudi Alphard melakukan sejumlah pelanggaran.

Selain menerobos lampu merah saat lampu untuk orang menyeberang menyala, Pramono juga menilai pengemudi bersikap arogan saat ditegur oleh petugas keamanan.

Selain itu, Pemprov DKI menerima laporan bahwa mobil tersebut diduga menggunakan pelat nomor palsu.

Dengan begitu, Pramono menilai sudah seharusnya diberikan sanksi.

“Terlihat bahwa mobil Alphard itulah yang kemudian melanggar. Dan kemudian kami juga mendapatkan laporan bahwa mobil yang pakai pelat itu adalah pelat palsu,” kata dia.

Pramono menegaskan tidak akan memecat Victor. 

Ia menilai petugas keamanan itu telah menjalankan tugasnya dengan baik saat menegur pengendara yang melanggar aturan lalu lintas.

"Untuk nasibnya satpam, saya akan meminta untuk tidak dipecat atau diberhentikan. Bahkan yang bersangkutan sebenarnya malah menjalankan tugas dengan baik sekali," kata Pramono.

Anggota DPRD DKI Minta Identitas Pengemudi Alphard Diungkap

SOSOK - Identitas pengemudi Toyota Alphard yang diduga mengintimidasi satpam Victor Harefa di Bundaran HI menjadi sorotan publik. Polisi masih menyelidiki keabsahan KTA yang ditunjukkan pelaku serta dugaan penggunaan pelat nomor tidak sesuai.
SOSOK - Identitas pengemudi Toyota Alphard yang diduga mengintimidasi satpam Victor Harefa di Bundaran HI menjadi sorotan publik. Polisi masih menyelidiki keabsahan KTA yang ditunjukkan pelaku serta dugaan penggunaan pelat nomor tidak sesuai. (Tribunnews.com)

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Justin Adrian Untayana, meminta Polda Metro Jaya bersikap transparan dalam mengusut kasus pengemudi Toyota Alphard yang diduga menerobos lampu penyeberangan dan terlibat cekcok dengan seorang satpam di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Justin meminta polisi mengungkap identitas pemilik mobil Alphard tersebut agar penanganan kasus berjalan terbuka dan tidak menimbulkan dugaan adanya perlakuan berbeda di hadapan hukum.

"Polda Metro Jaya harus jujur kepada warga Jakarta. Siapa pemilik mobil Alphard yang dengan arogannya kemarin menerobos lampu merah dan membahayakan para pejalan kaki. Terlebih, setelah ditegur satpam, alih-alih menyadari kesalahannya dan meminta maaf, malah melakukan intimidasi kepadanya. Warga Jakarta menuntut kejujuran dan keadilan," kata Justin dalam keterangan resminya, Jumat (24/7/2026).

Selain meminta identitas pemilik kendaraan diungkap, Justin juga mendesak polisi mengusut dugaan penggunaan pelat nomor palsu pada mobil Alphard tersebut.

Menurut dia, jika dugaan itu terbukti, pengemudi harus diproses sesuai aturan yang berlaku.

"Kami juga meminta agar dugaan pemakaian pelat nomor palsu itu diselidiki. Bilamana terbukti palsu maka pihak pengendara, siapa pun itu, harus disanksi sebagaimana mestinya," ujarnya.

Justin menilai Polda Metro Jaya perlu menjalankan proses penyelidikan secara terbuka.

Ia juga mengingatkan agar polisi tidak tebang pilih dalam menindak dugaan pelanggaran penggunaan pelat nomor palsu.

"Jangan sampai tebang pilih. Kalau dulu pihak kepolisian melakukan penindakan terhadap pengguna pelat nomor palsu dan mengumumkannya secara terbuka, maka dugaan pelanggaran serupa dalam kasus Alphard ini juga perlu ditindak," katanya.

Ia juga menyoroti dugaan intimidasi yang dialami satpam bernama Viktor Harefa saat mediasi di pos polisi Bundaran HI.

Menurut Justin, dugaan tersebut perlu didalami, termasuk peran petugas yang berada di lokasi saat kejadian.

"Dugaan yang tidak kalah seriusnya adalah dugaan pembiaran oleh petugas kepolisian di lapangan ketika sang satpam menjadi korban intimidasi. Ini perlu didalami, diselidiki, dan dievaluasi," ujarnya.

Justin berharap kepolisian dapat mengusut kasus tersebut secara profesional dan terbuka sehingga masyarakat memperoleh kepastian hukum. (kompas.com/troibunnews)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.