Bahrain dan Kuwait dilaporkan mengerahkan jet tempur untuk menyerang sejumlah lokasi militer di wilayah Iran pada awal bulan Juli 2026.
Aksi itu disebut menjadi serangan balasan langsung pertama kedua negara Teluk terhadap Teheran.
Menurut sejumlah sumber, operasi itu menandai perubahan besar dalam dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Wall Street Journal pada Sabtu (25/7), serangan udara dilaporkan menyasar sejumlah fasilitas militer strategis, termasuk depot penyimpanan drone dan rudal milik Iran.
Langkah tersebut dilakukan setelah Iran selama beberapa pekan menggencarkan serangan ke Bahrain dan Kuwait yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Meski memiliki armada angkatan udara yang relatif kecil, kedua negara disebut tidak ingin terus menjadi sasaran tanpa memberikan respons.
Operasi itu juga disebut mencerminkan meningkatnya kerja sama militer di antara negara-negara Arab dalam menghadapi Iran.
Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan turut mendukung operasi dengan menyediakan data intelijen mengenai sasaran yang akan diserang.
Selain itu, UEA juga disebut memberikan perlindungan udara defensif selama operasi berlangsung.
Serangan balasan Bahrain dan Kuwait dipicu oleh meningkatnya serangan Iran yang mulai mengincar infrastruktur sipil vital di kawasan.
Ketegangan antara Iran dan negara-negara Teluk pun semakin meningkat seiring meluasnya aksi saling serang di kawasan.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional yang melibatkan lebih banyak negara di Timur Tengah.