TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada 1-5 Agustus 2026, dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat.
Sejumlah nama tokoh nasional bermunculan sebagai kandidat kuat untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia pada periode mendatang.
Muktamar ke-35 menjadi momentum bersejarah karena merupakan muktamar pertama di abad kedua berdirinya NU.
Selain menentukan kepemimpinan PBNU, forum tertinggi organisasi ini juga akan menentukan arah perjalanan NU dalam menghadapi tantangan kebangsaan dan global.
Khusus di Kalimantan Timur, Katip Syuriah PWNU Kalimantan Timur, KH. Muhammad Muhlasin mengatakan hingga saat ini PWNU Kalimantan Timur belum menentukan sikap terkait dukungan kepada calon Ketua Umum PBNU.
"Nama-nama yang beredar di media memang sudah banyak, mulai dari Gus Yahya, Kiai Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yusuf Chudlori, termasuk Menteri Agama dan tokoh lainnya.
Namun sampai hari ini PWNU Kaltim belum mengambil sikap karena memang belum ada rapat khusus," ujarnya kepada wartawan Tribunkaltim.co usai menjadi narasumber dalam program Podcast Tribun Kaltim edisi Jumat (24/7).
Baca juga: Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, PCNU Kukar Masih Cermati Sosok Calon Pemimpin PBNU
Dia mengatakan bahwa sejauh ini Rais Syuriyah PCNU masih sebatas memberikan himbauan kepada seluruh pengurus dan warga Nahdliyin untuk lebih mengedepankan doa serta istikharah sebelum menentukan pilihan.
"Petunjuk dari Rais Syuriyah kami adalah memperbanyak doa dan memohon petunjuk kepada Allah. Mudah-mudahan dari kader-kader terbaik NU akan terpilih pemimpin yang terbaik," katanya.
Selain menunggu perkembangan bursa calon Ketua Umum PBNU, PCNU Balikpapan juga memiliki harapan besar agar Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur, KH Muhammad Ali Cholil, dapat masuk dalam jajaran Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Menurut mantan Ketua PCNU Balikpapan ini, AHWA memiliki peran strategis dalam proses Muktamar karena bertugas memilih dan menetapkan Rais Aam PBNU.
"Kami berharap KH Muhammad Ali Cholil bisa masuk sembilan anggota AHWA. Itu menjadi ikhtiar yang akan kami perjuangkan bersama PCNU se-Kalimantan Timur, bahkan jika memungkinkan berkoordinasi dengan PWNU di Kalimantan maupun luar Kalimantan," jelasnya.
Ia menerangkan, anggota AHWA dipilih melalui usulan dari seluruh PCNU dan PWNU se-Indonesia. Nama-nama yang memperoleh suara terbanyak akan ditetapkan menjadi sembilan anggota AHWA.
"Harapan kami, Rais Syuriyah PWNU Kaltim bisa menjadi salah satu dari sembilan anggota AHWA yang nantinya memiliki kewenangan memilih Rais Aam PBNU," ujarnya.
Disinggung terkait siapa sosok ideal Ketua Umum PBNU, KH Muchlisin menilai seluruh nama yang kini ramai diperbincangkan merupakan kader-kader terbaik NU yang memiliki kapasitas masing-masing.
Akan tetapi, ia menegaskan bahwa tradisi NU selalu mengedepankan musyawarah, doa, dan petunjuk Allah dalam menentukan pemimpin.
"Kalau berbicara sosok ideal, Ketua Umum PBNU tentu harus seorang ulama. Sesuai namanya, Nahdlatul Ulama adalah kebangkitan para ulama. Selain itu juga harus ulama yang intelektual, memiliki wawasan kebangsaan dan wawasan global, karena tantangan NU ke depan bukan hanya regional, tetapi juga lintas negara," katanya.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU, PCNU Balikpapan Perjuangkan KH Muhammad Ali Cholil Masuk AHWA
Sementara itu, menjelang Muktamar ke-35 NU, sejumlah nama yang disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU di antaranya:
Dengan waktu pelaksanaan muktamar yang tinggal menghitung hari, dinamika dukungan dari Kaltim masih belum terbuka kandidat mana yang akan didukung.
Namun, bagi PWNU Kalimantan Timur, proses menentukan pemimpin NU tetap harus ditempuh melalui ikhtiar, musyawarah, serta doa agar menghasilkan sosok terbaik bagi organisasi dan umat. (*)