AJI Pangkalpinang Bekali Jurnalis dan Aktivis Perempuan, Liputan Lingkungan hingga Hadapi Intimidasi
Ardhina Trisila Sakti July 25, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Pangkalpinang berkolaborasi dengan Wow Babel Institute dan Yayasan Kelekak Hijau Lestari menggelar workshop jurnalistik terbatas bagi jurnalis perempuan, pers mahasiswa, aktivis perempuan dan aktivis lingkungan di Wakop Papa, Pangkalpinang, Sabtu (25/7/2026), 

Kegiatan tersebut menghadirkan dua sesi materi. Sesi pertama diisi jurnalis senior Bangka Belitung, Albana yang membahas Keterampilan Meliput Isu Lingkungan di Bangka Belitung. 

Sementara sesi kedua disampaikan Ketua Bidang Gender AJI Kota Pangkalpinang, Andini Dwi Hasanah dengan materi Advokasi dan Keamanan Jurnalis dan Aktivis Perempuan.

Ketua AJI Kota Pangkalpinang, Hendra mengatakan workshop tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam memperkuat kapasitas sekaligus perlindungan bagi jurnalis dan aktivis perempuan agar dapat bekerja secara aman dan profesional.

20260725 Sambutan Ketua AJI Kota Pangkalpinang
Sambutan Ketua AJI Kota Pangkalpinang Hendra, AJI Kota Pangkalpinang bersama Wow Babel Institute dan Yayasan Kelekak Hijau Lestari di Wakop Papa, Pangkalpinang, Sabtu (25/7/2026).

Menurutnya, perempuan masih rentan menghadapi berbagai bentuk kekerasan, mulai dari pelecehan seksual, intimidasi, hingga ancaman di ruang digital. Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui peningkatan pengetahuan dan sistem perlindungan.

"Di Bangka Belitung memang belum banyak kasus yang menimpa jurnalis perempuan seperti di sejumlah daerah lain. Namun, bukan berarti kita boleh lengah. Pencegahan harus dilakukan dari sekarang agar lingkungan kerja tetap aman dan perempuan bisa menjalankan profesinya tanpa rasa takut," katanya.

Ia menambahkan, AJI terus mendorong terciptanya ruang kerja yang aman, setara dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun diskriminasi terhadap perempuan.

"Harapan publik sebenarnya masih menunggu bagaimana jurnalis di Bangka Belitung melakukan praktik-praktik jurnalisme yang benar, khususnya tentang lingkungan hidup," ujarnya.

Ia mengatakan, para peserta telah memperoleh bekal pengetahuan dan keterampilan mengenai peliputan isu-isu lingkungan.

Tantangan selanjutnya adalah menerapkan kemampuan tersebut dalam praktik jurnalistik sehari-hari.

"Teman-teman sudah punya pemahaman, pengetahuan dan keterampilan. Tinggal bagaimana mengimplementasikannya," katanya.

Menurut Abenk, peliputan isu lingkungan tidak selalu harus dilakukan dengan pendekatan yang konfrontatif.

Jurnalis dapat memulai dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dengan tetap mengedepankan fakta dan prinsip-prinsip jurnalistik.

"Tidak harus secara konfrontatif. Bertahap saja, mulai dari fakta-fakta yang ada di sekitar. Fungsi pers sebagai media pendidikan terkait lingkungan harus terus dijalankan," ucapnya.

Sementara pada sesi kedua, Andini Dwi Hasanah mengingatkan bahwa ancaman terhadap jurnalis dan aktivis perempuan kini tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga berkembang ke ranah digital, seperti doxing, peretasan akun, penyebaran data pribadi, pelecehan seksual daring hingga serangan terhadap keluarga korban.

Ia menekankan, tujuan berbagai bentuk intimidasi tersebut bukan semata-mata melukai korban, melainkan membungkam suara dan menghentikan kerja-kerja jurnalistik maupun advokasi.

Karena itu, menurut Andini, setiap jurnalis dan aktivis perlu memahami langkah-langkah perlindungan diri mulai dari mengutamakan keselamatan, mengamankan bukti ancaman, melapor melalui mekanisme yang tepat hingga membangun jejaring dukungan agar tidak menghadapi intimidasi seorang diri.

"Keamanan bukan untuk menghilangkan rasa takut, tetapi memastikan rasa takut tidak menghentikan kita menjalankan profesi dan memperjuangkan kepentingan publik. Solidaritas menjadi bentuk perlindungan yang paling nyata," ujar Andini.

Ia juga menegaskan bahwa perempuan tidak membutuhkan perlakuan istimewa, melainkan ruang kerja yang aman, setara dan bebas dari intimidasi sehingga dapat menjalankan tugas profesionalnya tanpa rasa khawatir. 

Menurutnya, demokrasi hanya dapat tumbuh apabila setiap orang memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan kebenaran dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.