TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Sebuah tonggak sejarah lahir dari Tanah Papua. dr. Christine Tirza Thresia Jitmau, Sp.An-TI, putri asli Papua kelahiran Manokwari, 7 Desember 1991, resmi menyandang gelar dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM).
Ia menjadi perempuan Papua pertama yang menembus bidang yang dikenal penuh tantangan fisik, mental, dan akademis.
Penuh Pengorbanan
Christine, adalah anak kedua dari lima bersaudara yang dilahirkan dan dibesarkan oleh pasangan Ir. Ismael Jitmau, M.Si dan almarhumah Yubelina Bless.
Ia menuturkan bahwa proses pendidikan spesialis selama empat tahun adalah ujian ketangguhan.
Seleksi masuk yang ketat, jadwal jaga malam yang melelahkan, tuntutan akademis, hingga penyusunan tesis menjadi bagian dari perjuangan yang harus ia jalani.
“Begadang, tekanan mental, dan tuntutan akademis bukan hal mudah. Tapi semua itu saya jalani dengan doa dan keyakinan bahwa mimpi bisa diwujudkan,” ungkapnya kepada TribunPapuaBarat.com, Sabtu (25/7/2026).
Pesan untuk Generasi Papua
Dalam momen kelulusannya, Christine menitipkan pesan penuh harapan bagi generasi muda Papua.
“Jangan pernah berhenti bermimpi. Semua hal harus diusahakan dan selalu berdoa kepada Tuhan. Anak-anak Papua bukanlah masa depan, melainkan masa kini Tanah Papua.
Jangan biarkan keterbatasan geografis membatasi mimpi kalian. Belajarlah dengan bangga, jadilah cerdas, dan buktikan pada dunia bahwa generasi Papua adalah pilar utama kemajuan,” tutur dr. Christine.
Christine berkomitmen untuk kembali ke Papua Barat, mengabdi di bidang anestesiologi, serta mengembangkan sistem pelayanan kegawatdaruratan di IGD agar masyarakat mendapat layanan kesehatan yang lebih baik.
Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Christine menerima beasiswa afirmasi dari Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Dinas Kesehatan.
Kisah Christine bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan simbol harapan baru bagi putra-putri asli Papua.
Ia membuktikan, bahwa dengan kerja keras, doa, dukungan orang tua dan pemerintah, anak Papua mampu menembus batas dan berdiri sejajar di panggung nasional.
Terakhi, Ia menyampaikan terima kasih kepada: