TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Suntikan investasi senilai Rp30,7 miliar mengantar Terminal Petikemas (TPK) Semarang menguji coba Rubber Tyred Gantry (RTG) Crane berbasis listrik pertama, Sabtu (25/7/2026).
Alat bongkar muat peti kemas itu diharapkan memangkas konsumsi bahan bakar diesel, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus mendukung pelabuhan yang lebih ramah lingkungan.
Berbeda dengan RTG konvensional yang menggunakan bahan bakar diesel, alat ini memanfaatkan tenaga listrik sehingga dinilai lebih hemat energi, ramah lingkungan, dan memiliki biaya operasional yang lebih rendah.
Baca juga: 800 Lebih Pekerja Pabrik Garmen di Tanjung Mas Terimbas PHK, Disnaker: Sekitar 150 Warga Semarang
Uji coba ini merupakan bagian dari proyek elektrifikasi tiga unit RTG di TPK Semarang.
Dari total tujuh RTG yang dimiliki terminal, satu unit telah memasuki tahap pengujian operasional, sedangkan dua unit lainnya akan menyusul setelah proses instalasi dan pengujian selesai.
Terminal Head TPK Semarang, I Nyoman Sutrisna, mengatakan elektrifikasi RTG menjadi salah satu langkah strategis perusahaan dalam mendukung transformasi energi di sektor kepelabuhanan.
"Transformasi energi merupakan bagian penting dari upaya TPK Semarang dalam mewujudkan operasional terminal yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan. Melalui elektrifikasi RTG, kami mulai mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel dengan beralih ke energi listrik yang lebih ramah lingkungan," ujarnya.
Menurut Nyoman, selain mendukung pengurangan emisi karbon, penggunaan RTG listrik juga diharapkan meningkatkan keandalan alat sehingga pelayanan bongkar muat kepada pengguna jasa menjadi lebih cepat dan optimal.
Ia menambahkan modernisasi peralatan akan terus dilakukan secara bertahap agar Terminal Petikemas Semarang mampu menjawab kebutuhan industri logistik yang semakin menuntut efisiensi dan keberlanjutan.
Tak hanya berganti sumber energi, RTG baru tersebut juga dibekali teknologi pintar untuk meningkatkan keselamatan kerja.
Project Manager PT Bima, Joko Dwi Cahyono, menjelaskan proyek elektrifikasi tidak sekadar mengganti mesin diesel menjadi listrik, tetapi juga mengintegrasikan sistem kelistrikan, kontrol, hingga perangkat keselamatan.
Salah satunya adalah Auto Gantry Steering System (AGSS) berbasis GPS yang membantu menjaga pergerakan RTG tetap presisi di jalurnya.
Selain itu, setiap unit juga dipasangi Anti Collision System (ACS) yang memanfaatkan laser scanner dan kamera beresolusi tinggi untuk mendeteksi potensi tabrakan dengan objek di sekitar area kerja.
"Dengan beralih ke energi listrik serta didukung teknologi AGSS dan ACS, RTG tidak hanya lebih efisien dalam penggunaan energi, tetapi juga lebih aman, lebih andal, dan lebih presisi dalam operasional," kata Joko.
Selama masa uji coba, tim proyek akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi untuk memastikan seluruh sistem bekerja sesuai standar sebelum dioperasikan secara penuh.
Elektrifikasi RTG menjadi bagian dari implementasi konsep Green Port di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Selain mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, penggunaan RTG listrik juga diharapkan menekan emisi karbon dan memperkuat daya saing operasional pelabuhan di tengah meningkatnya tuntutan industri logistik terhadap layanan yang efisien dan berkelanjutan. (rad)
Baca juga: BREAKING NEWS: Kebakaran Rusunawa Kudu Semarang, Diduga Berawal dari Jalur Sampah