Sebuah komunitas Entourage Bali di Canggu menjadi sorotan setelah menolak Warga Negara Indonesia (WNI) ikut serta menjadi sorotan. Anggota Komisi III DPR RI I Nyoman Parta merespons dugaan diskriminasi.
Selain dugaan diskriminasi terhadap WNI, komunitas lari yang anggotanya WNA itu juga dinilai mengganggu kenyamanan warga di jalan raya.Parta mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali serta imigrasi bertindak.
Politikus PDIP itu meminta agar seluruh pihak terkait memastikan status WNA yang terlibat. Dia mencurigai ada indikasi WNA itu tinggal permanen di Bali. Dia pun meminta Imigrasi agar menertibkan izin para WNA di Pulau Dewata.
"Ironisnya apa yang terjadi di Canggu seperti pembiaran, lari menguasai badan jalan fasilitas publik tanpa izin. Tidak ada yang menghentikan. Pihak desa, Dinas Perhubungan Badung, Kapolsek Kuta, Polres Badung, ada di mana saat itu?" kata Parta melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (25/7/2026) dikutip dari detikBali.
Parta menilai pembenahan perlu dilakukan agar turis asing tidak sesuka hati saat pelesiran di Bali. Ia juga menyinggung maraknya warga asing yang melebihi izin tinggal di Bali. Parta khawatir wisatawan asing jika tidak ditertibkan akan membangun kampung-kampung turis di Bali.
"Pariwisata membutuhkan pergantian orang, bukan orang yang menetap apalagi sampai overstay. Jadi, titik krusialnya ketika kita membiarkan desa-desa kita dijadikan kampung-kampung turis di mana mereka tinggal secara permanen," kata dia.
Parta lantas mencontohkan banyaknya turis asing di kawasan Canggu. Ia mengingatkan pentingnya membatasi turis asing untuk tidak tinggal secara permanen. Terlebih jika turis tersebut tidak memiliki uang yang cukup selama tinggal di Bali.
"Sesungguhnya konsep wisata yang paling ideal itu jika rotasi orang itu secara kontinyu datang pergi. Kalau ada yang datang kembali selanjutnya juga dalam batas visa kunjungan mereka harus keluar dari Bali," kata anggota DPR RI asal Bali itu.
Parta lantas mencontohkan penduduk lokal di Kota Venesia, Italia, yang kian terdesak lantaran penghuninya didominasi orang asing. Menurutnya, sudah saatnya Bali mengedepankan pariwisata berkualitas ketimbang berkutat pada kuantitas.
"Kita juga mungkin bisa belajar dari Spanyol, negara ini bagus pengelolaan pariwisatanya. Fokusnya bukan lagi pada angka kunjungan wisatawan, tapi pariwisata yang memiliki nilai tinggi. Di Barcelona dan Madrid penggunaan ruang publik itu diatur ketat," kata dia.





